Mengikuti rumor elite politik yang ditimpali sana sini oleh berbagai 
penanggap, analis, pengamat, bahkan mantan-mantan elite, rasanya jadi pusing 
juga saya. Saya melihat dan merasakan, sekarang ini kebanyakan orang 
(termasuk kita di kuli-tinta) masih memperkarakan KEDUDUKAN dalam menghadapi 
atau menyambut Indonesia Baru (sesuai dengan motto di ekor delivered mails 
kuli-tinta). Berhari-hari kita ikut meramaikan mengurus siapa sebagai apa. 
Siapa harus bagaimana, sementara kita lupa akan kewajiban kita sendiri.

Bahkan MEMPERKARAKAN KEDUDUKAN ini sudah ramai, memanas dan memusingkan 
jauh-jauh hari sebelum pemerintahan GD terujud. Pada jaman ordebaru I dan II 
pun sudah ramai pula. Entah apa sebabnya. Mungkin juga sudah ciri khas 
bangsa, yi. mementingkan kedudukan agar memperoleh segala kemudahan dan 
fasilitas hidup.

Padahal, dalam ketata-negaraan, negara indonesia sudah jelas dan dijelaskan 
di sekolah-sekolah. Negara menganut pemerintahan yang presidentiil. Namun 
Presiden dipilih lewat perwakilan. Negara menganut trias politikan, ada 
legis-latip, yudi-katip dan eksekutip. Lucunya di sudut yudikatif, 
campur-tangan eksekutip masih dominan... ini suatu anomali. Sudut legislatif 
menganut 2 lapis, DPR dan MPR. unsur MPR tidak saja dipenuhi oleh kekuatan 
politik, namun masih ada embel-embel utusan daerah dan golongan. (yang dari 
TNI, apa disebut utusan golongan tentara ya?).. ini juga anomali rasanya, 
sebab pernah jadi bahan tertawaan dalam siaran CLOSE UP ASEAN di salah satu 
stasiun TV swasta di Jepang Barat sini.

Yang konyol lagi, walaupun legislatif didominasi oleh kekuatan politik, 
namun yang terpilih sebagai presiden justru di luar partai politik. (ah, 
dulu kalau tak salah dianggap sebagai tokoh akomodatif.. gitu).Akhirnya 
sewaktu membentuk kabinet, presiden tak bebas menggunakan hak prerogatifnya. 
Padahal masih sama-sama menganut pasal-pasal UUD-45 yang belum diamandir, 
tentang hak prerogatif presidennya. Lantas ada kejadian, presiden menyatakan 
"saya menggunakan hak prerogatif!".. lalalalaaa... nyanyian politik jadi 
rame. terus muncul.. benar nggak hak prerogatif itu.... apakah hak 
prerogatif itu cuma sebagai tameng atau pembenar tindakan sekehendaknya... 
dll. poesing bener pokoknye.

Padahal kalau kita mau MENDUDUKKAN PERKARA, masalah-masalah itu tidak akan 
berkepanjangan. Akan lebih banyak potensi pemikiran baik kita dapat 
dimanfaatkan untuk MENYAMBUT INDONESIA BARU. Betapa tidak? hampir setiap 
mailing list bermuatan politis, sibuk sak maunya sendiri. Bertengkar, adu 
pendapat.. namun ya hanya muter di seantero jaringan KOMPUTER saja. Lain 
tidak. Padahal kalau semua potensi itu dapat dikoordinir demi memikirkan 
bangsa dan negara... wah betapa hebatnya bangsa Indonesia. Dari dunia maya 
pun mampu menyumbangkan pemikiran yang membangun, dst. dst. (aku yakin para 
netters adalah orang yang bukan sembarangan dalam khasanah 
intelektualitasnya.... dapatlah disebut suatu jaringan (bukan hanya ikatan) 
cendekiawan bangsa indonesia lho).

Aku punya sedikit khayalan. Sebagai contoh adalah menghadapi tingkah laku 
presiden yang banyak dianggap kontroversial. Kenapa sih kita mesti 
repot-repot ikutan berkomentar, bahkan mencaci-maki. Kenapa pula sekarang 
ini banyak pengamat dan analis tiban dengan keberadaan presiden "terlemah di 
dunia" itu? Bahkan para elite politik dari parlemen dan majelis pun ikutan 
sibuk kesana kemari mengumbar pendapat.

Bukankah kita menganut parlemen perwakilan. Otomatis semua suara-suara 
partikelir itu seharusnya sudah terwadahi di parlemen dan majelis. Taruh 
kata, rakyat tidak setuju dengan usulan presiden untuk menghapus tap No. 25 
MPRS, yaaa kalau bisa rakyat-rakyat itu berbicara kepada wakilnya, berbicara 
melalui partai-partai yang dulu di pilihnya, atau melalui 
UTUSAN-UTUSAN-nya.Namun apa yang terjadi... khalayak protes sendiri-cendiri, 
bahkan memakai cara-cara sendiri yang aneh-aneh. Runyam-nya lagi, kekuatan 
partai politik juga "pating creblung" terutama pemimpinnya. Pemimpin 
menyatakan sesuatu dianggaplah suara partai.Ketua MPR berkata kemana-mana, 
dianggap semua anggota MPR begitu, demikian juga dengan DPR. padahal selain 
ketua MPR masih ada 499 otak, 499 hati nurani yang seharusnya mewakili 
212.000.000 otak dan hatinurani pula.demikian selanjutnya.

Maksud saya, kalau memang perbuatan presiden itu kurang baik, harusnya yang 
menyampaikan teguran adalah DPR secara organisatoris, bukan pethilan kayak 
orang ngamen main siter dan genderan begitu. Kalau yang merasa kurang setuju 
adalah rakyat, yaaa rakyat itu harusnya berkumpul dan berhimpun menghubungi 
wadah-wadah yang mereka pilih dulu waktu pemilu. Jadi bagi yang tidak 
memanfaatkan pemilu dan tidak mempunyai wadah, yaaa harusnya tidak usah IKUT 
REPOT memikirkan negara....lha wong tak punya wakil kok ribut... hahahaaaa

sekian, lamunan saya semoga banyak mendapat dampratan... wong lagi iseng 
kok!

soeloyo,

sedang menawarkan milist pertanian:
[EMAIL PROTECTED]
(biar masa-masa mendatang mampu memproduksi ketan buat beli pesawat...)


________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com


- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!











Kirim email ke