Yang dilakukan anak Kediri ini tepat sekali, karena pilihan untuk mengikuti
pola pikir sang paman van Jombang jelas lebih aman dari pada gaya menantang
yang ditunjukkan Yusril. Dengan begitu dia nggak ada halangan untuk berakrab
ria dengan sesama keponakan yang sekjen PKB sekaligus wakil ketua MPR.
Ada yang mengatakan Soe butuh 15 tahun untuk menebar kronisme/nepotisme,
sementara GD cuma perlu 15 minggu dan jauh lebih subur. Penguasaan terhadap
TNI, penebaran intensif kader-kader NU dilevel pembuat kebijakan,
pemangkasan yang bombastis dan sebagainya. Tetapi ada yang berbeda disini,
sejauh ini kronisme/nepotisme GD untuk mengumpulkan orang waras, sementara
pendahulunya jelas sebaliknya. Potensi untuk tergelincir menjadi diktator
memang ada, karena pada dasarnya GD memang keras (selain pinter).
Tampilannya saja sabar dan sopan. Apalagi humoris. Tetapi memang type
pimpinan yang beginilah yang sementara ini kita perlukan. Kita perlukan
ketegasan untuk memelihara arah kebijakan, kesabaran untuk memberi wacana
demokrasi, kesopanan untuk merangkul para kiai dan para pemimpin dunia, dan
humor untuk mencairkan kebekuan dalam situasi yang diprediksi mengeras.
Ketika perlawanan dilakukan dengan gaya melingkar, dia cuek atau balas
dengan joke, ketika ditengarai ada yang mau main frontal, dia menunjukkan
kekerasannya dengan membabat siapa yang ingin dibabatnya. Sama sekali sulit
memprediksi reaksinya, sehingga siapapun yang akan melawannya dipaksa
mengerenyitkan jidat, berpikir ulang, atau tertawa terpingkal pingkal.
Bahkan secara sederhana para professor dibuatnya telmi dan akhirnya berebut
menjilat ludahnya sendiri.
Saya nggak tahu apa tulisan ini nyambung dengan thread ini, tetapi kayaknya
lagi pengen aja nulis begitu. Sekedar pelepas lelah dan pelepas kangen
setelah blusukan ketengah hutan. he hehee.

yap
____________________
Success is neither magical nor mysterious.
Success is the natural consequence of consistently applying basic
fundamentals.

----- Original Message -----
From: By <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, 04 May 2000 9:05 WIB
Subject: Re: [Kuli Tinta] Contoh dari partai kecil


> Wah kalau mau dikurang2x-i sih bisa aja mBah, misalnya : Tentu saja Nur
> mau ninggalin PK, partai kecil aja. Mending jadi menteri yang udah jelas
> "basah"nya. Tapi sampai kapan sih kita berpikir negatif terus gitu? Saya
> sih lebih suka nganggap : Tujuan utama tetap : amar makruf nahi munkar,
> memperbaiki bangsa. Partai cuma sarana, menteri (mestinya) sarana yang
> lebih besar lagi. Sekalian ngasih kesempatan sama kader2x yang lain di
> partai. Asik kan?
>
> Lagipula tingkah-polah Nur dengan pk-connection-nya (katanya lho) di
> dephutbun, sudah terbukti ok kan, seperti yang ditulis mas Gigih?
>
> Soal mbelain GD, nggak mBah anda tidak sedang mbelain. Cuma mungkin
> sedikit terjangkiti sindrom "GD effect". Itu, jalan pikiran yang "semua
> yang baik PASTI akibat dari ucapan, tindakan, atau manuver GD".
> Ada juga "AR effect" : "Semua yang dilakukan AR pasti demi ambisinya jadi
> Preseiden"
> Atau "MS effect" : Ah definisiin sendiri aja....!
>
> By.
>
> mBah Soeloyo wrote:
>
> > mas By,
> > apakah keputusan bang mahmudi itu ada
> > pengaruh dari pencopotan 2 menteri kemarin-2?
> > sehingga bliouw yang masih muda dan semangat
> > terus faham akan kemauan pak dur?
> > (eh, nanti dibilang membela pak dur lagi, nih?)
> >
> > salam,
> >
> > mBS
> > --------



- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!











Kirim email ke