Saya ingin memberi koenar mengenai point KKN Bung Yap.
HMS melakukan KKN secara sistemik. Tepatnya, ia
membangun budaya KKN yang kependekan dari
Korupsi-Kolusi-Nepotisme.
GD "kelihatan" ber KKN dengan Lingkarannya sejak Bondan
dan Marsilam temannya di Fordem di tarik. Dalam hal
ini, GD belum sableng untuk menarik Magnis.
Dalam pembentukan tim kerja, in term of doing the right
things and doing the things right, pengangkatan atau
rekruitment individu yang yang sudah dikenal
"luar-dalamnya" adalah lebih rasional dibanding
pemilihan individu yang memiliki peluang success and
failure <= 50%. Salah satu pertimbangan yang utama
adalah faktor "mind to mind communication". Ini
merupakan perilaku pemimpin yang sangat common dan
rasional.
Kalau dilihat dari kaca mata sistem, HMS dan GD dalam
model rekruitment itu mirip. Namun, yang perlu
diperhatikan kemudian adalah Proses dan Output-nya.
Apakah Input yang Nepotikal itu kemudian akan diikuti
oleh proses yang Kolutif dan Koruptif sehingga
menghasilkan Output dengan added value rendah.
Model HMS telah mengindikasikan bagaimana Korea yang
pada tahun kurang lebih sama dengan jumlah suntikan
dana yang kurang lebih sama menghasilkan output yang
jauh lebih tinggi dari Indonesia. Artinya, added value
sistem yang dibangun HMS lebih rendah.
Pemerintahan GD memang belum lama, namun dari waktu
yang masih singkat itupun kita sebenarnya dengan
transparansi yang luar biasa ini sudah bisa mulai
mematra apakah proses ang Kolutif dan Koruptif
menyertai gejala Input yang Nepotikal itu.
Yang pasti, wabah Kolutif dan Koruptif dalam
pemerintahan HMS bermula dari Input yang Nepotikal itu,
namun dalam Proses wabah itu berkembang hingga ke
stadium 4 karena Kebijaksanaan Represif pemerintahan
HMS demi stabilitas politik yang bertentangan dengan
semangat transparansi dan demokrasi.
Kini, budaya demokrasii dan transparansi mulai
melingkungi proses pemerintahan GD. Tentu saja, secara
rasional kita berharap bahwa lingkungan itu akan
mencegah berkembang biaknya potensi Kolutif dan
Koruptif yang menyertai Input Nepotikal.
----- Original Message -----
From: Yap <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, May 04, 2000 4:25 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Contoh dari partai kecil
Yang dilakukan anak Kediri ini tepat sekali, karena
pilihan untuk mengikuti
pola pikir sang paman van Jombang jelas lebih aman dari
pada gaya menantang
yang ditunjukkan Yusril. Dengan begitu dia nggak ada
halangan untuk berakrab
ria dengan sesama keponakan yang sekjen PKB sekaligus
wakil ketua MPR.
Ada yang mengatakan Soe butuh 15 tahun untuk menebar
kronisme/nepotisme,
sementara GD cuma perlu 15 minggu dan jauh lebih subur.
Penguasaan terhadap
TNI, penebaran intensif kader-kader NU dilevel pembuat
kebijakan,
pemangkasan yang bombastis dan sebagainya. Tetapi ada
yang berbeda disini,
sejauh ini kronisme/nepotisme GD untuk mengumpulkan
orang waras, sementara
pendahulunya jelas sebaliknya. Potensi untuk
tergelincir menjadi diktator
memang ada, karena pada dasarnya GD memang keras
(selain pinter).
Tampilannya saja sabar dan sopan. Apalagi humoris.
Tetapi memang type
pimpinan yang beginilah yang sementara ini kita
perlukan. Kita perlukan
ketegasan untuk memelihara arah kebijakan, kesabaran
untuk memberi wacana
demokrasi, kesopanan untuk merangkul para kiai dan para
pemimpin dunia, dan
humor untuk mencairkan kebekuan dalam situasi yang
diprediksi mengeras.
Ketika perlawanan dilakukan dengan gaya melingkar, dia
cuek atau balas
dengan joke, ketika ditengarai ada yang mau main
frontal, dia menunjukkan
kekerasannya dengan membabat siapa yang ingin
dibabatnya. Sama sekali sulit
memprediksi reaksinya, sehingga siapapun yang akan
melawannya dipaksa
mengerenyitkan jidat, berpikir ulang, atau tertawa
terpingkal pingkal.
Bahkan secara sederhana para professor dibuatnya telmi
dan akhirnya berebut
menjilat ludahnya sendiri.
Saya nggak tahu apa tulisan ini nyambung dengan thread
ini, tetapi kayaknya
lagi pengen aja nulis begitu. Sekedar pelepas lelah dan
pelepas kangen
setelah blusukan ketengah hutan. he hehee.
yap
____________________
Success is neither magical nor mysterious.
Success is the natural consequence of consistently
applying basic
fundamentals.
----- Original Message -----
From: By <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, 04 May 2000 9:05 WIB
Subject: Re: [Kuli Tinta] Contoh dari partai kecil
> Wah kalau mau dikurang2x-i sih bisa aja mBah,
misalnya : Tentu saja Nur
> mau ninggalin PK, partai kecil aja. Mending jadi
menteri yang udah jelas
> "basah"nya. Tapi sampai kapan sih kita berpikir
negatif terus gitu? Saya
> sih lebih suka nganggap : Tujuan utama tetap : amar
makruf nahi munkar,
> memperbaiki bangsa. Partai cuma sarana, menteri
(mestinya) sarana yang
> lebih besar lagi. Sekalian ngasih kesempatan sama
kader2x yang lain di
> partai. Asik kan?
>
> Lagipula tingkah-polah Nur dengan pk-connection-nya
(katanya lho) di
> dephutbun, sudah terbukti ok kan, seperti yang
ditulis mas Gigih?
>
> Soal mbelain GD, nggak mBah anda tidak sedang
mbelain. Cuma mungkin
> sedikit terjangkiti sindrom "GD effect". Itu, jalan
pikiran yang "semua
> yang baik PASTI akibat dari ucapan, tindakan, atau
manuver GD".
> Ada juga "AR effect" : "Semua yang dilakukan AR pasti
demi ambisinya jadi
> Preseiden"
> Atau "MS effect" : Ah definisiin sendiri aja....!
>
> By.
>
> mBah Soeloyo wrote:
>
> > mas By,
> > apakah keputusan bang mahmudi itu ada
> > pengaruh dari pencopotan 2 menteri kemarin-2?
> > sehingga bliouw yang masih muda dan semangat
> > terus faham akan kemauan pak dur?
> > (eh, nanti dibilang membela pak dur lagi, nih?)
> >
> > salam,
> >
> > mBS
> > --------
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta
www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN
SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!