Wisnu Ali Martono wrote:

> Dalam bahasa Jawa yang saya pahami, _kaul_ berarti dua hal. Pertama,
> melakukan sesuatu sebagai imbalan karena tercapainya suatu impian. Kedua,
> berbuat berlebih-lebihan karena dianggapnya tidak aturan yang melarang hal
> itu.
>
> Yang saya dengar dan baca, DPR dan DPRD saat ini seolah sedang _kaul_.
> Dalam artian _berpesta pora_. Gaji dinaikkan senak perut. Sampai-sampai
> menelan separo PAD (kasus Sumbar). Piknik keluar negeri dengan alasan
> _studi banding_.  Nggak tahu saya, kemana hilangnya moralitas anggota
> DPR(D) yang mereka gembar gemborkan pada saat kampanye? Atau, pada
> dasarnya mereka memang tak bermoral?

Kebetulan semalam saya baru pulang dari malang, di kereta sebangku sama bekas
anggota DPRD, katanya sih sampai 12 tahun, mungkin yang dua tahun nggak
komplet keburu di gusur sama reformasi.

Bliauw ini cerita, jamannya dulu anggota DPRD nurut cuma karena takut,
konditenya jadi nggak bagus - di recall, jadi nggak digaji sebagai DPRD lagi.
Jadi kalau disuruh milih si ini, ya dipilih. Kalau diminta menyetujui
kebijakan ini, ya disetujui.

Ternyata sekarang lain lagi, akibatnya sama, tapi prosesnya yang lain, bukan
karena takut, tapi karena duit. Jadi siapa yang mau dipilih tergantung
duitnya, siapa yang mau diuntungkan, atau siapa yang mau TIDAK diteriakin
lagi, tergantung berapa yang dibayarkan. Banyak contoh dimana suatu fraksi
jelas mayoritas toh kalah juga.

Bapak teman sebangku saya ini cuma bisa usul, kenaikan gaji, tunjangan, dll
itu ok, tapi mestinya supremasi hukum ditegakkan dulu. Saya jadi mikir, lha
gimana mau menegakkan hukum orang aparatnya juga doyan duit semua? Trus mesti
mulai darimana dong? Dalam hati saya mikir lagi, berhubung anggota dpr/d toh
dari partai2x, alngkah baiknya kalau rakyat diajari milih partai yang lebih
punya potensi untuk mempunya wakil2x yang berahlak lebih baik. Karena apalagi
yang bisa dipercaya selain dari ahlak ini? Niat baik? Apa dasarnya?

Tapi gimana juga ngasih tau rakyat untuk memilih (kalau ada) partai yang
demikian. Kalaupun bisa, darimana juga sebuah partai bisa mempunyai kader2x
yang cukup mempunyai syarat tsb, kalau memang sebagian besar "kita" ahlaknya
udah pada ambrol?

Trus buntut2xnya kita nampak sepakat kalau mungkin memang perlu lebih dari
satu generasi untuk memperbaiki bangsa ini. Tik suene, rek. Tapi tak pikir
lagi, ah itu juga kalau generasi yang baru tak keburu dirusak  atau
terkontaminasi. Pusing memang.

Jadi gimana dong?

By
Pesen untuk para anggota legeslatif, eksekutif, dan yudikatif :
"Happiness does not depend on how much you have to enjoy,
but how much you enjoy what you have " - Ziggy


- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!











Kirim email ke