Bung Wibi ? What happen with your mind ?
Saya juga pengamat KT sama seperti anda. Jarang aktif, berhubung sesuatu dan
lain hal. Hanya saja, saya kok ya merasa anda terlampau berlebihan mengamati
keadaan di tanah air. Maklum dari jauh.
Saya disini tidak cuma sekedar mengamati, terkadang juga mengalami sendiri
berbagai kejadian di sekitar kita. Misalnya saja kerusuhan Glodok yang
barusan terjadi pekan lalu. Kantor saya jaraknya sekitar 150 meter dari
lokasi kejadian, persis di Komplek Glodok Plaza, salah satu komplek
pertokoan yang hancur paling parah pada kerusuhan Mei 1998,
Bung,
Bahwa Soeharto bisa bercokol begitu lama, Belanda bisa mengangkangi negeri
ini begitu lama, Soekarno bisa diangkat menjadi Presiden seumur hidup,
Nasakom bisa diterima, PKI (yang seharusnya sebuah idelogi / pandangan
hidup) bisa dihabisi/ditumpas habis, dll, hanya karena manusia Indonesia
sebetulnya tidak tahu apa-apa, tidak mau tahu apa-apa dan tidak peduli
dengan lingkungannya.
Menyalahkan Soeharto an-sich tidak menghasilkan apa-apa Bung,
Kita. Rakyat kita. Saya dan anda. Jujur harus kita akui bersama bahwa rakyat
kita tidak mempunyai idealisme yang tertanam didalam hati. Yang difikirkan
adalah diri mereka sendiri, kasihan sekali jadinya, mereka dengan sangat
mudah dimanipulasi orang yang jahat, atau diombang-ambingkan keadaan dan
tidak memiliki kendali.
Actually they have no idea of how a country should be run and how they can
contribute.
Jangan salah, Soeharto bukan jatuh karena korupsi bung! Bahkan waktu itu
semua orang berlomba menjadi sahabat Soeharto, meskipun mereka tahu Soeharto
jahat.
Dia (Soeharto) jatuh karena krisis ekonomi dimana lapangan kerja lenyap,
daya beli jeblok dan ...... ..... bahan bakar naik. Memang semuanya ini
akibat besarnya korupsi yang tak terkendali lagi. Jadi alasannya adalah
karena kantong mereka dirogoh, baru mereka ngamuk. Bukan karena moral.
Betul-betul sebuah bangsa yang menakjubkan, bahkan menyedihkan.
Mereka masih berfikir dengan tingkatan yang paling primitif, bahkan seperti
hewan dan lebih jelek lagi tidak ada yang peduli mengingatkan mereka bahwa
itu salah.
(Selalu dihalangi dengan alasan jangan menunggangi, jangan ikut campur, dll)
Sebuah tantangan bagi kita-kita ini - minimal yang ada di milis ini - untuk
mulai berbicara dan mengajak berfikir para lapisan bawah dari masyarakat
(tukang mie, baso, supir, dll) dan mengingatkan mereka bahwa apa-apa yang
terjadi di negeri ini
(terutama dikalangan kaum elitnya), bukan suatu kejadian di planet Mars yang
tak ada kaitannya apa-apa dengan hidup kita.
Bung,
Apa yang terjadi dinegeri ini sebetulnya akan berpengaruh terhadap kehidupan
kita, dan kita juga bisa mempengaruhi hasilnya bila kita mau berhenti
menjadi penonton. Jangan salah, mengajak lapisan bawah ini berfikir (tidak
gampang) akan membawa pengaruh, mereka akan berbicara dengan kawan-kawannya.
Saya percaya akal sehat itu menular.
Saya melihat bahwa harapan itu tetap masih ada,
Berapa lama ? Saya tidak tahu. Tetapi bahwa kita bisa bertindak
kecil-kecilan dan melakukan apa yang bisa kita lakukan mungkin bermanfaat
untuk anak-anak kita nanti. Sungguh saya tak tahu.
Itu saja dulu. Silahkan dilanjutkan,
-----Original Message-----
From: tigun <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Monday, May 22, 2000 11:19 AM
Subject: [Kuli Tinta] Pangkal persoalan di Indonesia.
>Beberapa lama saya mengikuti arena kuli-tinta yang dari dulu tak pernah
>berubah kwalitas bahan argumentasi yang di bicarakan. Yang ada hanyalah
>soal sodok-menyodok mau menang sendiri dan mental sok hebat yang amat saya
>prihatinkan sebagai pengamat milis ini. Seolah memang beginilah generasi
>produk orde-baru yang memang sudah terjejali penuh oleh
>indoktrinasi-indoktrinasi feodalisme gaya si tua bangka Suharto, tanpa mau
>mencoba berontak melepaskan diri untuk memerdekakan diri dari kungkungan
>alam feodal ala Suharto.
>
>Yang lebih parah lagi, hingga kini tidak ada satupun dari kita semua yang
>menyadari, bahwa sebenarnya Suharto, militer dan organisasi masanya seperti
>Golkar dsb adalah biang keladi dari sumber kehancuran Indonesia. Dan HINGGA
>KINI mereka belum tersentuh hukum sama sekali.
>
>Tidak ada satupun dari kita yang menyadari, bahwa ekonomi di Indonesia
>tidak akan pernah berubah membaik, selama Suharto dan lingkarannya masih
>belum tersentuh hukum sama sekali.
>Suharto dan lingkarannyalah yang selama ini berusaha mengacau keadaan di
>Indonesia, hingga ekonomi di negeri kaya raya bernama Indonesia ini luluh
>lantak.
>
>Memang betul katanya Marzuki Darusman selalu berteriak, bahwa kasus Suharto
>akan terus diperiksa dan Suharto dikenakan tahanan kota. Tapi itu hingga
>kapaaaaaannn???? Buktinya si Pataq Warak Suharto masih hidup tenang-tenang
>di Jakarta. Wan Habibi juga dengan tenangnya seolah tanpa rasa dosa bahkan
>mendirikan The Habibi Center (proyek cuci dosa). Dan kita semua diam saja.
>HOPO TUMON???
>
>Kita semua saat ini ribut membicarakan ekonomi yang rasanya tak akan pernah
>berubah membaik. Ribut membicarakan siapa yang seharusnya baik untuk jadi
>pemimpin. Ribut partai mana yang bagus untuk kita dukung dsb dsb. Sedang
>pangkal persoalan yang sudah ada jelas-jelas di depan mata kita, malahan
>kita abaikan. Bukti-bukti tentang kesalahan-kesalahan dan penyebab
>kehancuran Indonesia yang dilakukan oleh Suharto, militer dan Golkar-nya
>sudah jelas nyata!!! Tapi kok hingga kini kita semua belum mampu
>menjebloskan Pataq Warak Suharto dan lingkarannya ke dalam sebuah sidang
>pengadilan.
>
>Ada lagi hal yang amat sangat menyedihkan dan membuat saya menangis
>sendirian dalam kamar kecil saya diperantauan ini. Kita sudah terkecoh
>habis dengan gerakan ABRI alias TNI yang saat ini bermain manis sebagai
>anak ingusan yang baru lahir dan tak berdosa. Tidak ada satupun yang
>menyadari, bahwa mereka sebenarnya adalah biang-biang kerusuhan yang
>semakin merebak saat ini. Dan tidak ada satupun dari kita yang menyadari
>semua ini. Kita semua di milis ini hanya sibuk untuk merebut kejuaraan
>balap karung bernama argumentasi kuli-tinta.
>
>Tiba-tiba saya ingat Indonesia-L sekitar 5 tahun lalu ketika saya
>seringkali dihajar simpatisan Suharto, setiap kali tulisan saya muncul di
>Indonesia-L. Lantas saya dan Pak John ketawa-ketawa cekakaan lewat telphon
>antara NYC - Maryland (ketawa karena sudah tak bisa lagi merasakan
>bagaimana rasanya sakit ). Saya ingat ketika beliau bilang; Lihat saja
>nanti kalau satu waktu Suharto jatuh, pasti mereka akan saling berebut
>untuk memenangkan diri sebagai reformis. Dan saya cuma bisa tersenyum
kecut.
>
>Dan ternyata itu terbukti saat ini. Bahkan dalam milis ini juga.
>
>Sungguh saya prihatin adanya. Ternyata kita selama ini masih belum mampu
>menterjemahkan apa arti kemerdekaan dan apa arti demokrasi yang sebenarnya.
>Kita semua masih terkungkung dalam piramid Orde-Baru !!! Piramid FEODALISME
!!!
>
>G. Wibisana
>IPS-USA
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!