>From: "Usman Maine" <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: [EMAIL PROTECTED]
>CC: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
>Subject: [is-lam] Masih soal RIA 1/3
>Date: Thu, 08 Jun 2000 09:20:06 PDT
>
>Assalamu'alaikum Wr.Wb.
>
>o] Jalan Keluar
>
>>Mas Abu menulis:
>>"Satu-satu solusi untuk Aceh adalah ditegakkannya hukum Allah".
>
>Kalau benar demikian, saya pernah mengusulkan 5-6 bulan yang lalu
>ketika sedang melayani diskusi Akhi Jailani Ibrahim dan Cut Nyak
>[maaf saya lupa nama belakang]. Bila itu satu-satunya solusi, I am
>ahead of you...dan saya tidak salah membaca peta politik di Aceh.
>Atau setidaknya kita punya satu persamaan pendapat.  Saya justru
>bukan hanya menawarkan diberlakukannya hukum Islam, tapi juga
>otonomi secara luas untuk Aceh, dan diadilinya pihak-pihak yang
>telah melukai rakyat Aceh [siapa pun, termauk gubernur yang waktu
>itu mengundang tentara shg diberlakukan DOM].
>
>Ini yang saya tulis beberapa bulan yang lalu:
>
>[1] Berikan otonomi seluas-luasnya
>
>[2] Kembalikan keadilan untuk rakyat Aceh [ini bisa dibaca
>adili mereka yang selama ini membuat rakyat Aceh menderita...
>Termasuk tentara yang mengorbankan sipil, GAM yang sering
>berlindung dibalik penduduk sipil sebagai tameng hidup.
>
>[3] Berlakukan hukum Islam di Aceh.
>
>Bodoh sekali saya kalau sampai beranggapan dengan memberikan uang
>ke rakyat Aceh akan dapat mengobati sakit hati seluruh rakyat Aceh.
>Dalam paket yg saya, Ekonomi hanyalah salah satu sarana. Dan saya
>percaya perbaikan kesejahteraan dalam arti luas akan banyak membantu
>menyembuhkan luka.
>
>Bila sampeyan hanya minta diberlakukannya hukum Allah di Aceh,
>saya malah punya cita-cita hukum Allah diberlakukan untuk seluruh wilayah
>Indonesia. Untuk itu, kita perlu melakukan "deal" dengan
>saudara-saudara non-muslim agar mereka mengerti mengapa hukum
>Islam perlu diberlakukan. Deal yang saya maksud adalah deal
>politik. Ini yang masih kita cari bentuknya. Bagaimana kita
>bisa terapkan hukum Islam tanpa mengganggu dan membuat resah
>penganut agama lain.
>
>Saya melihat mereka yang non-muslim juga saudara kita [saya
>melihat kita ini sama-sama keturunan Adam], yang tinggal di rumah
>yang berbeda. Kita ingin mengatur rumah kita [muslim] menurut aturan rumah 
>tangga kita sendiri [hukum Allah]. Tetapi kita tak bisa membabi buta asal 
>menerapkan hukum Allah krn kita hidup di  Indonesia ini tidak sendirian.
>
>
>Saya well aware kalau penerapan hukum Allah akan mengalami
>resistensi dari saudara-saudara non-muslim. Resistensi ini muncul
>bisa jadi krn [1] ketidaktahuan, [2] ketakutan; atau  [3] arrogant.
>Untuk yang [1] dan [2] kita bisa buka dialog dengan mereka shg mereka 
>menjadi tahu dan tidak takut, yang karenanya akan mengurangi
>resistensi itu. Untuk yang [3] saya tidak tahu solusi apa yang
>terbaik.
>
>Mohon juga difahami ketika saya menyebut diberlakukannya hukum
>Islam untuk ummat Islam Indonesia, ini bukan berarti saya melihat
>nasionalisme sempit hanya Indonesia. Tentu saja, setiap muslim
>punya cita-cita hukum Islam menjadi "the law of the land", bukan
>hanya untuk Indonesia.
>
>Dalam kerangka itulah, saya menolak pemisahan Aceh dari NKRI.
>Pemberlakuan hukum Allah di Tanah Rencong dapat dilakukan tanpa pemisahan 
>Aceh dari NKRI.
>
>Wassalam,
>=Usman Kris Joko Suharjo=
>Dept. of Applied Ecology and Environmental Sciences
>University of Maine
>Deering Hall, Orono, ME 04469
>USA
>phn: 207-866-0680
>fax: 207-581-2999
>Email: [EMAIL PROTECTED]
>-----------------------------------
>
>
>
>
>
>
>
>>From: "Abu Geudong" <[EMAIL PROTECTED]>
>>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>>To: <[EMAIL PROTECTED]>
>>Subject: [is-lam] Komentar balik dari RIA [2]
>>Date: Wed, 7 Jun 2000 23:09:14 +0800
>>
>>Assalaamu alaykum,
>>
>>Ini komentar saya khusus untuk Mas Usman Maine yang beberapa waktu yang
>>lalu
>>memberikan pandangannya mengenai konflik di Aceh. Juga untuk pernyataannya
>>dalam menanggapi Pangkostrad yang sedang kalap itu.
>>
>>Saya agak kecewa membaca analisis Mas Usman dalam melihat "peta
>konflik"
>>>yang terjadi di Aceh. Kekecewaan itu terutama terletak pada
>kesimpulan
>>beliau, bahwa konflik di Aceh itu bermotif ekonomi. Atau kalau mau
>>diperhalus sedikit, karena adanya ketimpangan dalam distribusi kekayaan.
>>Mas
>>Usman mengambil contoh mengenai masalah transmigrasi, di mana pendatang
>>mendapatkan previlege yang lebih baik dibandingkan dengan penduduk asli,
>>kemudian masalah LNG Arun, dan masalah ketimpangan pembangunan antara Aceh
>>dan Jawa. Berdasarkan latar belakang yang seperti itu beliau menyimpulkan
>>bahwa penyelesaian sebaiknya ditempuh dengan pendekatan kesejahteraan dan
>>tetap dalam konsep negara persatuan.
>
>>Saya sangat tidak setuju dengan pernyataan Mas Usman itu, setidaknya 
>>karena
>>dua sebab. Pertama, konflik di Aceh tidaklah disebabkan oleh motif 
>>ekonomi.
>>Pandangan yang sangat materialistis ini harus ditolak berdasarkan fakta
>>sejarah bahwa pemberontakan rakyat Aceh telah terjadi sejak masa-masa awal
>>berdirinya republik ini. Justru ketika itu Aceh masih relatif lebih makmur
>>dibandingkan daerah-daerah lain di Indonesia.
>>
>Bila kita tidak mau memakai DI/TII sebagai asal muasal konflik di
>>Aceh,
>>maka
>>titik awal konflik yang berikutnya adalah berdirinya GAM di tahun 1976. 
>>Ini
>>pun harus dipahami bahwa GAM itu dipersiapkan oleh Tgk. Daud Beureueh,
>>bukan
>>oleh Hasan Tiro.
>>
>>Saya tidak menyangkal bahwa ada sementara kalangan yang berjuang hanya
>karena ketidakadilan dan masalah ekonomi lainnya. Niat orang mana
>>kita
>>tahu.
>>Hanya sejarahlah yang bisa mencatat. Sama ketika sejarah mencatat bahwa
>>ternyata yang diperjuangkan Hasan Saleh tidaklah sama dengan yang
>>diperjuangkan oleh Abu Daud Beureueh, sekalipun mereka bersama-sama naik
>>gunung ketika DI/TII. Hasan Saleh hanya berjuang demi sebuah propinsi,
>karena Aceh dihapus sebagai propinsi, maka dia marah dan naik
>>gunung
>>bersama
>>Abu Beureueh. Setelah status propinsi Aceh dikembalikan, maka dia
>>menganggap
>>perjuangan sudah selesai. Turunlah dia bersama seluruh persenjataan yang
>>dimiliki DI/TII, sedemikian sehingga Abu Beureueh tidak memiliki senjata
>>lagi. Dan sejarahpun mencatat bahwa Hasan Saleh menjalani sisa
>hidupnya
>>dengan nyaman di perkebunan teh di Jawa Barat, sedangkan Abu Beureueh 
>>harus
>>menjalani tahanan rumah sampai mati setelah matanya dibutakan.
>>
>>Bila Mas Usman mengetahui ada pihak-pihak yang berjuang karena motif
>>ekonomi, sayapun tidak menutup mata mengenai hal itu. Tetapi mengatakan
>>SEMUA orang Aceh berjuang karena Aceh tidak memiliki jembatan sebanyak di
>Jawa, wah, Mas, anda salah besar.
>>
>>Alasan kedua, KALAU memang sekiranya masalah ekonomi adalah benar 
>>merupakan
>>motif utama perjuangan rakyat Aceh, dan karena itu anda berkesimpulan 
>>bahwa
>>masalah itu bisa diselesaikan dengan perbaikan ekonomi juga, maka anda
>>jelas
>>tidak mengetahui sosiologi orang Aceh. Anda tidak memasukkan penistaan 
>>yang
>>sudah dilakukan oleh Pemerintah RI kepada rakyat Aceh. Apakah
>orang yang
>>terhina akan bisa begitu saja melupakan masalah hanya karena dikasih uang?
>>Mungkin saja terjadi memang, tapi tidak untuk orang Aceh.
>>
>>Kebencian yang meluas terhadap Pemerintah RI sekarang ini adalah kebodohan
>>Pemerintah RI sendiri dalam menangani GAM. Ratusan orang di dalam
>hutan
>>berperang [betul mas, hanya ratusan orang], ribuan rakyat tak bersalah 
>>jadi
>>korban, jutaan orang jadi sakit hati. Katakanlah yang ratusan orang itu
>>adalah gerombolan haus duit, [dengan memakai teori Mas Usman],
>lantas yang
>>ribuan dan jutaan itu bagaimana? Haus duit juga? Mereka tidak tahu 
>>apa-apa.
>>Mereka bahkan tidak pernah tahu kalau di Jakarta banyak jembatan yang 
>>tidak
>>ada sungainya. Mereka bahkan tidak tahu harus cemburu kepada siapa, dan 
>>apa
>>yang harus dicemburui. Mereka hanya tahu bahwa harta mereka
>dirampas oleh
>>tentara, harga diri mereka dinistakan, nyawa mereka tidak ada harganya
>>dimata Pemerintah RI.
>>
>>Kalau sekarang mereka marah dan minta merdeka, itu tidak ada hubungannya
>>dengan duit ataupun distribusi kekayaan, Mas. Mereka marah karena harga
>>diri
>mereka sebagai manusia diabaikan. Berapa menurut Mas ganti rugi
>>yang cukup
>>untuk penderitaan mereka? 90% hasil bumi? Menurut saya Mas, jangankan 99%
>>hasil bumi, 200% saja tidak akan bisa menghapus kepedihan yang mereka
>>alami.
>>
>>Harus ada yang bisa mengembalikan harga diri mereka, izzah mereka. Kami
>>berpendapat bahwa harga diri rakyat Aceh [dan seluruh kaum muslimin] bisa
>>dikembalikan dengan menegakkan hukum Allah di atas segala hukum. Dan kami
>>akan menegakkannya dengan segala konsekuensinya.
>>
>>Masalah ada Pangkostrad yang sedang kalap, kemudian mengeluarkan ancaman
>>bermacam-macam, Mas, bagi orang Aceh, itu sudah menu sehari-hari. Ditambah
>>satu lagi ancamannya "nggak ngaruh" lagi.
>>
>>Saya sangat tidak setuju dengan pernyataan Mas Usman :
>"Jika itu nanti terjadi...tentara tak bisa disalahkan. Yang patut
>>disalahkan
>>adalah mereka yang menimbulkan pertumpahan darah itu dan mereka yang
>>memberi
>>perintah para tentara itu."
>>
>>Kalau pernyataan ini di interpolasikan, anda akan menyalahkan Rasulullah,
>>Mas. Dan pada gilirannya anda akan menyalahkan Allah.
>>
>>"Telah diwajibkan kepada kamu berperang, sedangkan kamu tidak 
>>menyukainya."
>>Itu sudah menjadi ayat yang tersurat di dalam AlQuran. Mas Usman senang
>atau
>>tidak, saya senang atau tidak, perang sudah diwajibkan oleh Allah.
>>
>>Bersalahkan Nabi bila keluarga Yasir terbantai di kala kaum muslimin belum
>>ada kekuatan sedikitpun? Padahal ketika itu perintah berperang pun masih
>>jauh. Pertumpahan darah masih sepatutnya dihindarkan karena kaum muslimin
>>belum kuat.
>>
>>Tentara memang dilatih untuk membunuh, Mas. Tetapi merekapun seharusnya
>>dilatih untuk melokalisir masalah. Anda takut bahwa nanti bila tentara
>datang, rakyat Aceh akan terbantai. Mas, bukannya AKAN terbantai,
>>mereka
>>memang SUDAH terbantai, karena tentara pembunuh yang sangat profesional 
>>itu
>>tidak bisa melokalisir masalah. Kalau mereka memang akan dibantai lagi, 
>>itu
>>bukanlah berita baru bagi kami. Kata-kata yang sering dilontarkan oleh
>>tentara pembunuh itu memang "kami akan menghabisi orang Aceh". Dan mereka
>>melakukannya dengan senang hati.
>>
>>Apakah kalau kami dari RIA tidak melakukan apa-apa, rakyat Aceh akan
>>mendapatkan harga diri kembali? Apakah mereka juga akan
>mendapatkan harta
>>mereka yang sudah dirampas? Tidak, Mas. Kami tidak berbuat apa-apa, mereka
>>juga akan tetap terbunuh.
>>
>>Lihat saja sekarang ini, sudah ada kesepakatan damaipun masih banyak 
>>korban
>>dari masyarakat. Padahal kami boleh dibilang tidak berbuat apa-apa, Mas.
>>
>Kesimpulannya : Solusi satu-satunya bagi konflik di Aceh adalah
>>ditegakkannya hukum Allah di atas segala hukum lain, tanpa syarat. Hanya
>>itu
>>yang bisa menjadikan obat bagi hilangnya harga diri kaum muslimin di Aceh.
>>
>>BTW, Mas Usman, menurut anda sendiri, bagaimanakah kita harus menegakkan
>>hukum Allah?
>
>>Wassalaam,
>>
>>Abu Geudong

________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com


->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke