On Tue, 13 Jun 2000, GIGIH NUSANTARA wrote:
> Di bagian manakah aku harus diharapkan mempercayai,
> WAM ? Atau aku harus bilang percaya, demi untuk
> membuatmu senang ? Bolehlah, kalau begitu. Demi WAM,
> aku percaya semua. Mungkin dengan cara inilah aku bisa
> membuatmu tenang, berhenti untuk mudah memaki, dengan
> sejumlah kata-kata kasar setiap aku membaca postingmu.
WAM:
He..hee..heee
Sabar mbah.
> Aku percaya, di Ambon situasinya sudah seperti itu.
> Ada snipper (apa susahnya jadi snipper? asal ada
> senjata dan berkesempatan berlatih? dan untuk itu tak
> usah jadi tentara, seperti atlit perbakin itu bukan?)
WAM:
Berarti, simbah percaya juga ya, kalau konflik Ambon itu memang konflik
bernuansa agama?
> Bahkan aku percaya, persoalan Ambon akan menjadi
> sebuah persoalan abadi. Kawasan teritorinya sangat
> mendukung. Juga struktur populasinya. Persoalan asli
> yang menadi pemicunya, sudah bukan menjadi urusan
> lagi, dan beranjak menjadi pertikaian agama. Padahal
> kita tahu, yang namanya agama itu adalah sebuah
> keyakinan yang amat hakiki, dan sulit sekali untuk
> dipertukarkan secara begitu saja.
WAM:
Saya juga percaya itu. Masalahnya, pemerintah sepertinya buta tuli.
Seperti membutakan diri dengan selalu mengatakan: itu bukan konflik agama.
Padahal, sudah jelas sekali bahwa di Ambon nyawa orang sangat ditentukan
dengan agama yang dianutnya.
> Yang aku sayangkan, kalau boleh, mestinya penjalaran
> ke arah pertikaian agama itu harus diupayakan untuk
> lebih dijaga agar tak sampai benar-benar ke sana (soal
> agama itu). Sebab, kalau sudah benar-benar sampai,
> maka aku kuatir akan jadi problem abadi, dan mudah
> merembet. Khususnya bagi kalangan intelek, yang sudah
> banyak belajar dan paham perkara-perkara seperti itu.
> Jangan makin diperkeras.
WAM:
Banyak mbah, yang berfikiran seperti anda. Tadinya, saya juga
menghendaki pemerintah cepat bertindak supaya image bahwa itu konflik
bernuansa agama tidak makin mengental. Tapi, bahkan mbah Dur yang sehari
tunggangtunggik lima kali itu pun malah mempersalahkan orang Islam yang
jelas-jelas dizalimi. Bukannya mengirim tentara supaya konflik terhenti
malah buka bacot yang enggak-enggak. Jangan salahkan kalau banyak orang
yang kemudian mencari jalan sendiri untuk menyelesaikan kasus Ambon.
Ambillah contoh Laskar Jihad. Bukannya menghentikan Laskar Jihad dengan
mengirim tentara untuk mendamaikan Ambon, mbah Dur malah ngomong yang
engga-enggak. Termasuk orang Jawa pseudo-Islam yang mensinisi gerakan LJ.
(Ya, saya juga Jawa).
> Aku juga percaya, banyak anggota LJ yang sibuk berada
> di sana untuk melakukan perbaikan rumah rusak,
> kesehatan, dan siraman rohani. Sangat percaya. Sebab,
> memang hanya melalui jalur itulah tak ada alasan bagi
> aparat untuk melarang mereka datang dan melaksanakan
> misinya. Sesampai di sana, seperti cerita Ukhti,
> sambil tertawa, ada tugas tambahan, yaitu BERPERANG.
> Aku percaya, WAM.
WAM:
Cuma anda sendiri yang tahu mbah, apakah anda bicara jujur, atau sedang
meledek saya.
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!