Utk sesama muslim, kayaknya yg paling feasible ya melakukan re-definisi
"ukhuwah Islamiyah", alias persaudaraan (umat) Muslim.  Mungkin mbah Soel
atau "kyai2 Jawa" bisa kasih masukan yg lebih modern ttg ini.  Jadi bisa
punya rujukan baru gitu : nggak usah repot2 ngurusi nasib Muslim di Ambon
atau dimanapun jika defnisi ttg Muslimnya sendiri bisa diubah-ubah.

regards, RdF

----- Original Message -----
From: Bambang Sumantri <[EMAIL PROTECTED]>

Aku jadi inget, tapi lupa detilnya, soal salah seorang kyai di
ngayogyakarta, yang sangat akrab bergaul dengan berbagai 'kiai' dari agomo
laen, yang sering nampil di berbagai forum agomo lain. Bliouw sendiri
pimpinan sebuah pesantren, yang kalau di forum suka manggil para romo dengan
sebutan kiai, dan bliouw sendiri di-'romo'-kan oleh para ulama Katolik. Tapi
bliouw juga banyak terima anceman dari sesama agomo bliouw, justru karena
kedekatannya dengan para ulama dan 'kiai' dari agomo lain kasebut.

Apa enaknya bliouw kita jadikan panglima saja ?
Sama Yogyanya kan dengan itu yang mobil-e mbledos di Nganjuk?



->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke