mbah,
dilemanya memang karena seringkali antara realita dan idea itu kadang2 sulit
untuk direkonsiliasikan. Dalam kasus seperti Ambon misalnya, pada tataran
rasa kebangsaan semua pihak adalah saudara kita juga, tapi pada saat cerita2
ttg kekejaman disana sampai ke telinga kita maka rasa primordial cenderung
memaksa untuk memihak. Paling tidak dalam konteks "tega lorone ning ora
tega patine..". Mestinya kan gitu.
Soal kekejaman, kalo cerita2 seperti itu tak bisa dipercaya, mau percaya
pada cerita siapa ? versi pemerintah/tni apa bisa diyakini tidak telah
di-toned down- seperti yg selama ini terjadi ?
kalo mui bilang kekejaman itu ada, trus pgi juga (dgn pelaku & korban yg
jelas diametral berbeda) ya wajarlah kalo banyak yg mempercayai berita itu
sebagai fakta. masih inget tragedi May 98 kan ? mana yg fakta mana yg
sensasi kan masih gak jelas sampai sekarang, walaupun kebanggaan sbg
Indonesian sudah terbanting habis waktu itu. kalo tragedi ambon relatif
kurang gebyar beritanya mungkin cuma karena mereka nggak punya cantolan di
dunia internasional.
Disisi lain, utk berlindung pada teori provokator kok sepertinya berarti
ikut2 membenarkan tindakan yg tidak bertanggungjawab dari mereka2 yg punya
kuasa tapi tak mau (tak mau lho, bukan tak mampu) berbuat banyak utk
menghentikan konflik ini. Tragedi ini menguntungkan banyak pihak kok: para
"pembela Islam" a la lasji menjadikannya bahan utk semakin ngomporin massa,
yg majuin diri sbg pendukung Islam inklusif a la GD menjadikannya sbg iklan
gratis ("itu yg akan terjadi kalo sektarianisme berkembang, maka pilihlah
aku yg paling toleran"), belum lagi mas2 yg punya bedil itu (gak usah
diuraikan lagi kan ?).
sorry kalo posting ini isinya nggak runtut. kupikir setelah eyang turun &
para reformis naik panggung situasi bisa makin baik, tapi kok sekarang malah
semakin bubrah begini. itu alasannya kenapa read-only-mode ku di milis ini
berubah jadi aktif lagi: sekedar memuntahkan kekesalan yg semakin memuncak.
regards, RdF
----- Original Message -----
From: mBah Soeloyo <[EMAIL PROTECTED]>
> mas fajar..
> mana berani aku kasih ulasan
> apalagi melakukan kajian untuk redifinisi ukhuwah segala.
> kan untuk jadi pemikir islam itu gak gampang syaratnya.
> tak cukup hanya bergelar KH, apalagi mBah... hahaha.
> bisa-bisa mengamali nasib lebih jelek dibanding syech
> siti jenar, dengan vonis anumerta, dinyatakan berkepala
> anjing dan badannya jadi cacing... lak repok, se?
> atau kaya kyai syech amongraga yang dengan ilmunya
> yang kebanyakan "asal" malah dihukum diceburin ke
> laut kidul.... takut ah mas...
>
> kan sudah lahir ulama pungkasan, yi. eyang ghazali.
> sampai kini belum pernah rasanya pembaharu datang
> atau lahir kembali. ya monggo, kepada para ahli dan
> para al-mukaram lah... untuk mengkaji-nya.
>
> makasih,
>
> soeL
> -------
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!