On Wednesday, 28 June 2000, Wisnu Ali Martono wrote:

>WAM:
>Iya sih. But, itu kan kalau sarapnya udah ketahuan dari awal to, pakde?
yap:
apa iya baru ketahuan sekarang? Coba deh cari referensi yang lebih valid. 
Referensiku bilang GD itu gayanya memang begitu dari dulu, sehingga sempat 
menjadikan NU 'berhadapan' dengan Muhammadiyah, dan bahkan terpilihnya dia 
jadi Ketua Umum PBNU tidak direstui Soeharto, dan digoyang ala Konggres 
Medan. Tapi nggak mempan. Kalau itu dianggap sarap, ya sarapnya sudah dari 
sononya. Jadi lebih sarap benar yang mencapreskannya.

>WAM:
>Wah, dua-duanya perlu, pakde.
>Di MPR juga perlu, di koran juga iye.
>Itu wajar kok. Di mana-mana juga dilakukan.

yap:
Ya nggak masalah, tapi juga wajar saja kalau banyak yang tereak sebaliknya.
Jangan pula yang tereak sebaliknya dianggap pro GD. Buat apa pro-proan. 
Jangan pula yang sejalan pemikirannya dengan GD dianggap mirip Muhaimin dsb. 
  Biasa saja, namanya demokrasi ya berfikir merdeka. Tetapi lagi lagi 
kemerdekaan individu selalu dibatasi (atau dapat berbenturan) dengan 
kemerdekaan individu lainnya. Dan itu wajar saja.

>WAM:
>Wah, memang susah kalau bicara ukuran.
>Tapi, percaya lah pakde, ukuran bisa disesuaikan setelah hasil tercapai.
>Nggak percaya? Lha kalau ukurannya jadi presiden nggak boleh ada yang
>ngganggu, lha gimana waktu Suharto dioyag-oyag tiap hari? Tapi, karena
>usaha itu berhasil menjatuhkan Suharto, ya dianggap benar kan? Itu
>kewajaran kok. Bukan berarti benar lho.

yap:
Nggak dong, itu nggak obyektif namanya. Dalam kasus oyag-oyag Soeharto, dari 
awal sudah diyakini ukurannya benar. Around 1990, seorang Professor saya 
(yang bukan orang Indonesia) sempat becanda : What is Soeharto stands for? 
Dan Anda tentu tahu jawabnya. Atau yang dilokal kita ada canda: Apa bedanya 
Tutut dengan Pinky (Benazir)? Itu sangat populer bung, dan artinya bahkan 
pelengseran Soeharto itu sudah sangat terlambat, walaupun masih tetap perlu 
disyukuri.

>WAM:
>Weh pakde, nek begini caranya, sekali lagi, boleh dong Suharto dulu kasih
>alasan: medannya sulit nih, penumpang jangan ribut aja. Nek nggak iso
>meneng tak kaplok sampeyan. Boleh gitu? Kayaknya kok nggak ya? Baiknya,
>kalau sopirnya merasa medannya sulit dan terus digangguin penumpang, yo
>medun ae rek. Emangnya nggak ada orang yang mampu nyopir lagi? Lha itu kan
>pandangan yang dihidupkan sewaktu jaman Suharto. Nek dudu aku, sopo sing
>bakal nyelametke negoro? Pakde, opo jawaban sampeyan iku nggak jawabane
>wong sing gak gelem medun dadi presiden tah?

yap:
Nggak dong, situasinya sangat berbeda. Perhatikan kurva Soeharto. Pada tahap 
awal dia memberi penekanan pada stabilitas, baru pertumbuhan dan pemerataan. 
Semua rakyat setuju, termasuk para demonstran angkatan 66, karena untuk 
membangun memang perlu stabilitas. Tetapi itu diselewengkan untuk memperkuat 
posisi dan merepresi rakyat. Apapun bentuk pikiran lain, langsung ditumpas. 
Sampai Pelita 3, itu masih OK. Tapi setelah itu jadi over dosis, karena 
teori trickle down effect telah termanipulasi secara alami. Nggak pernah ada 
tetesan karena yang mendapat tetesan pertama nggak pernah merasa cukup. Beda 
dengan model Korea, disana trickle down effect lumayan jalan, karena chaebol 
yang dikembangkan masih punya budaya malu dan disiplin masyarakat telah 
lebih baik. Beda dengan konglomerat disini.. Stabilitas Soeharto telah 
dipakai untuk membangun SDM ABRI dengan canggihnya, sehingga (mungkin sampai 
kini) HRD terbaik hanya ada diinstitusi militer (khususnya darat). Untuk 
apa? Apakah GD sudah setara itu? GD tidak boleh mengcopy system Soeharto, 
sementara stabilitas tetap diperlukan. Pada posisi itu, harapan yang tersisa 
adalah pangerten (understanding) masyarakat untuk berinteraksi secara 
dinamis, menolong diri sendiri dan tidak destruktif. Ternyata situasinya 
beda banget. Kelompok yang terganggu kenyamanannya ada yang mencari 
alternatif lain secara damai, misalnya melepas bisnis domestik, lalu 
memanfaatkan fund manager asing untuk mengurus uangnya dan mencari peluang 
bisnis diluar pagar. Tetapi ada juga yang resist sehingga tabrakan dengan 
new players. New players ini pada umumnya belum kaya tetapi banyak yang 
sangat ingin cepat kaya. Dengan power ditangan (label reformis), bermain 
untuk mengaktualisasikan eksistensinya. Inilah tabrakan utama yang 
memudarkan stabilitas. Sementara new players lain ada juga yang main secara 
damai, dengan menggarong duit negara bertopeng menolong rakyat, misalnya 
dengan berbagai skim kredit dan bantuan program. Ada yang justru 
memanfaatkan situasi chaos ini untuk melakukan business as usual, dengan 
memetik manfaat kemudahan birokrasi. Kelompok ini mengalami grafik naik 
secara damai, tetapi kurvanya cukup landai, sehingga nggak tampak 
dipermukaan. Begitulah, bahasa sahamnya, ada yang main teknikal, ada yang 
main fundamental. Harapannya, semakin banyak yang main fundamental, sehingga 
ribut ribut selama ini sesungguhnya pada tataran pengurangan yang main 
teknikal, karena sangat fluktuatif dan melulu bermotifkan brute profit 
taking.
Saya melihat GD main fundamental. Dengan modal kekuatan politik domestik 
yang rentan dan tidak besar, dia menggaet simpati international. Didalam 
negeri dia menerima kompromi bancakan para politisi new comers dalam 
kabinetnya. Saya kira dia sangat tertekan. Tetapi dia punya pola main 
sendiri, dengan harapan one day he will show up the truth. Tambahan friksi 
muncul ketika manusia sekitarnya ternyata banyak juga yang tertarik main 
teknikal. Itu tambahan PR yang memusingkan.
Semakin kesini dia semakin sadar sedang dijadikan tumbal, dan dia ingin 
membuktikan sebaliknya. Saat ini saya kira sekarang dia adalah the lone 
ranger. Dukungan PKB yang membabi buta itupun nggak pernah akan masuk 
kalkulasinya. Sudah kepalang basah, dan dia akan buktikan bahwa dia bisa. 
Nggak masalah berapa banyak yang akan mengganggu, karena worst case-nya dia 
didepak dari kursi presiden. Dan itu sangat affordable bagi dia, karena 
nothing to loose: bukan dia yang mau jadi presiden. Dia semakin akan 
membuktikan bahwa dia hanya diperalat dalam sebuah permainan politik yang 
dijuluki cantik oleh kreatornya, dan biarlah boomerang itu akan menyambit 
sendiri pelemparnya.
Saya tidak termasuk yang yakin dia bisa bertahan dari badai ini, atau dia 
tidak tersesat untuk mengulang pola Soeharto (menjadi diktator), tetapi saat 
ini saya simpati pada upayanya untuk bertahan dan memberikan session : 
learning by doing kepada bangsa ini, dengan segala tindakan dan ucapannya.
Interaksi masih terus berlangsung, dan sebagai outsider (khususnya dalam 
kancah politik), saya akan senantiasa mencoba melihat secara obyektif dengan 
mata fisik dan mata hati. Bagi saya, ini kesempatan belajar yang menarik 
dari pentas dunia nyata.

>WAM:
>Nah pakde, itu kan soal persepsi to?
>Anda punya persepsi Suharto itu salah.
>Itu hak anda. Tapi, apa anda yakin bahwa tidak ada orang yang punya
>persepsi bahwa Suharto bener?
>But, berikan hak yang sama pada yang punya persepsi bahwa mbah Dur
>nyopirnya ngiwa-nengen. Anda boleh punya persepsi mbah Dur sudah bener
>nyopirnya. Namanya juga demokrasi.

yap:
Sekali lagi masalahnya referensi Mas, bukan sekedar persepsi. Coba tanya 
orang Bappenas yang lama, apa yang terjadi setiap tanggal 31 Maret, ketika 
DIP sedang diprint. Apa benar disitu ada kelompok eksklusif dalam 4 deretan 
kursi, dengan seksama mengamati hasil print out dan memberi tanda seperlunya 
untuk menentukan kapling proyek mana yang disukainya. Yang jelas mereka sama 
sekali bukan pegawai Bappenas. Atau yang sederhana saja, bagaimana seorang 
Tommy membebaskan tanah dan membangun sirkuit sentul, bagaimana seorang 
mamik membebaskan lahan dan memiliki kebun buah terbesar (mungkin) didunia, 
bagaimana bambang tri hampir saja menjadikan jonggol menggantikan ibu kota 
republik ini dalam bentuk kota mandiri, bagaimana seorang tutut menjadi 
pemilik tunggal jalan tol dengan kekuasaan jauh diatas jasa marga, bagaimana 
seorang sigit menjadi penguasa industri keuangan, berapa uang tunai yang 
biasanya ada dibagasinya ari, dan siapa pengawalnya untuk sekedar jalan 
santai sekalipun.
Ini sama sekali nggak ada hubungannya dengan persepsi (yang subyektif), 
tetapi fakta ya fakta.


> > yap:
> > Dengan segenap keyakinan mari kita baca lagi kisah burung ababil...
>
>WAM:
>Itu sedang terjadi, lately.

yap:
Kalau begitu perlukah kita yang manusia ini berpretensi bisa mengatur 
kehidupan?

>WAM:
>Pakde, nggak perlu ada krisis Ambon, kalau manusia menghargai manusia.
>Aku yo pengin pakde, ndelok Indonesia iki anteng, makmur.

yap:
Pada jaman jahiliyah, situasinya lebih mengerikan. Ada yang perlu dilawan 
dengan pedang, tetapi lebih banyak yang disadarkan dengan diambil hatinya.

wassalam,
yap
(pengennya sih mau nyingkat, tapi nggak sempat. sorry!)
________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com


->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke