----- Original Message -----
From: Wisnu Ali Martono <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, July 25, 2000 9:44 AM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Presidenku
> On Mon, 24 Jul 2000, Daniel H.T. wrote:
>
> > > saya terbelalak kaget ketika kamera wartawan
> > > menyorot Presiden yang lagi tidur di depan DPR.
> > > saya tidak tahu apakah yang demikian disiarkan
> > > oleh TV dalam negeri. terlihat di TV, Yenny
> > > membangunkan Presiden yang tidur nyenyak
>
> > > I don't know what to say ketika kawan-kawan
> > > bertanya: "is he your Presiden, Usman?"
> > > Akhirnya saya cuma nyengir sambil terus
> > > memasukkan nasi ke mulut.
>
> > > Wassalam,
> > > +++Poirot
>
> > Inilah akibat dari semangat ABM (Asal Bukan Mega) dari Amien Rais cs
>
> WAM:
> Salahkah semangat itu?
> Jika ya, salahkah pulakah semangat ABG (Asal Bukan Golkar)?
> Be fair.
>
Daniel:
Jangan generalisasi dlm melihat kasus. Lihatlah per konteks, dan obyektif.
Tolong baca juga kolom di bawah ini yg saya fw dari Tempo terbaru:
Kolom
Manuver Golkar, atau Status Quo?
Syamsuddin Haris *)
Sekitar setahun lalu, nasib Partai Golkar ibarat telor di ujung tanduk.
Betapa tidak, selama masa kampanye Pemilu 1999 para aktivisnya dikejar massa
di mana-mana. Menjelang pemilihan presiden, Profesor Habibie yang
dinominasikan Golkar sebagai capres terjungkal lantaran pidato
pertanggungjawabannya ditolak Sidang Umum MPR 1999. Ketika itu, Ketua Umum
Golkar Akbar Tanjung pada mulanya tampil sebagai Kuda Troya bagi Habibie,
tapi kemudian menjadi Brutus yang menjebloskan calon yang diajukannya
sendiri.
Kini, publik seolah-olah lupa dengan semua itu. Masyarakat awam maupun para
elite politik terpesona dengan teater politik yang dipentaskan elite Golkar.
Ironisnya, para politisi sekaliber Amien Rais bukannya memberikan pencerahan
dan menafsirkan realitas politik secara "lurus" bagi masyarakat, tapi justru
terperangkap arus permainan Golkar yang diperankan dengan baik oleh ketua
umumnya. Melalui dukungan pers yang haus hiruk-pikuk politik, Akbar Tanjung
dan Golkar tampil seolah-olah sebagai reformis baru yang tiba-tiba terjaga
setelah tertidur kekenyangan selama 30 tahun Orde Baru. Sementara itu,
partai-partai lain, termasuk PDI Perjuangan yang menjadi korban kejahatan
politik rejim Soeharto, tiba-tiba menjadi begitu konservatif dan ikut
terbawa irama permainan cerdik Golkar.
Kasus penggunaan hak interpelasi DPR adalah contoh paling relevan mengenai
hal ini. Atas inisiatif Golkar, melalui penggunaan hak interpelasi, DPR
mempersoalkan pencopotan anggota kabinet yang secara konstitusi menjadi
wilayah kewenangan presiden. Sebaliknya, hampir tidak ada usaha serius
Golkar yang bersifat kelembagaan untuk mengejar kelambanan pemerintah
menuntaskan kasus-kasus korupsi yang jelas-jelas dimandatkan MPR kepada
presiden. Juga tidak ada upaya institusional Golkar sebagai kekuatan politik
signifikan di DPR untuk mendesak pemerintah agar mengungkap berbagai
kejahatan politik dan kemanusiaan yang terjadi pada era rejim Orde Baru
Soeharto maupun Habibie.
Mengapa demikian? Jawabannya saya kira, sangat lugas dan sederhana. Kacamata
politik Golkar hanya diciptakan untuk membaca dosa-dosa orang lain, dan
tidak didesain untuk melihat keborokan dan kebusukan diri sendiri.
Kasus-kasus korupsi dan kejahatan politik hampir selalu membawa serta
gerbong besar keserakahan orang-orang Golkar, keluarga Soeharto, para kroni
Cendana, para jenderal, dan mantan menteri yang bisa tidur nyenyak di atas
penderitaan mayoritas rakyat kita selama ini. Politisasi atas kasus Gubernur
Bank Indonesia (BI) Syahrir Sabirin adalah contoh paling jelas tentang hal
ini. Golkar rnelalui Akbar Tanjung berusaha mengalihkan isu sentral skandal
Bank Bali yang melibatkan Partai Golkar dan tokoh-tokoh Golkar menjadi isu
intervensi presiden atas independensi BI.
Di tengah kesemrawutan politik yang tidak produktif itu, ironisnya, Ketua
MPR Amien Rais terpenjara oleh inkonsistensi perilaku politiknya sendiri.
Sebagai tokoh reformasi yang dahulu menolak bekerjasama dengan Golkar dan
pendukung utama pencalonan Abdurrahman Wahid sebagai presiden, Amien
mestinya bisa menjadi "penengah" yang fair dan netral di tengah kebingungan
serta kejenuhan masyarakat mengikuti pertarungan politik tingkat atas
tersebut. Sebaliknya, mantan pimpinan Muhammadiyah itu justru "merendahkan
diri" di balik jurus-jurus oportunisme politik tersembunyi yang diagendakan
Golkar.
Kalau dicermati secara seksama, apa yang tengah dilakukan Golkar tampaknya
adalah upaya membangun dan menganyam koalisi oportunisme baru, setelah
koalisi oportunisme lama bersama-sama dengan Soeharto, militer dan birokrasi
ambruk bersamaan dengan runtuhnya Orde Baru. PDI Perjuangan dan Poros Tengah
dicoba diajak di dalamnya. Keprihatinan kolektif patut kita miliki apabila
koalisi oportunisme baru itu hanya berorientasi pada upaya membersihkan
dosa-dosa besar Golkar, berbagai kasus korupsi, skandal, dan kejahatan
politik masa lalu.
Singkatnya, permainan politik elite Golkar perlu diwaspadai jika ia
benar-benar hanya berorientasi penyelamatan "aset" segenap kekuatan status
quo Orde Baru belaka. Apabila asumsi ini bisa dianggap benar, maka persoalan
serius yang dihadapi bangsa kita bukanlah masalah mencopot atau
mempertahankan Gus Dur, melainkan mewaspadai bahaya serta ancaman
oportunisme politik baru bagi kelangsungan agenda reformasi.
Bahaya besar lain yang dihadapi bangsa kita di balik fenomena politicking
yang berlatar oportunisme politik tersebut adalah terbukanya peluang bagi
militer untuk kembali menjadi "juru selamat" dalam rangka apa yang sering
disebut sebagai "tugas suci" mereka "menyelamatkan bangsa". Pertarungan
politik berlarut-larut antara Gus Dur, Akbar Tanjung, dan Amien Rais bisa
menjadi justifikasi bagi tentara bahwa para politisi sipil ternyata "gagal"
rnenciptakan stabilitas politik, mengatasi krisis ekonomi, dan menghindarkan
bangsa dari ancaman disintegrasi.
Kevokalan elite Golkar dewasa ini belum mengindikasikan adanya perubahan
signifikan di balik slogan paradigma baru Golkar. Perubahan ke arah
paradigma baru akan terjadi apabila ada kesediaan elite Golkar mengadili
serta membongkar topeng kebusukan orang-orangnya sendiri. Karena itu,
manuver politik Golkar yang tak terkontrol justru bisa "mengundang" hadirnya
otoritarianisme politik baru dengan slogan, katakanlah, "penyelamatan
reformasi". Kecuali, tentu saja, hal itu memang menjadi agenda tersembunyi
Golkar.
Widya Graha, 20 Juli 2000.
*) Pengamat politik dari LIPI
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!