Aku sedang berpikir, apakah situasi seperti sekarang ini memang
telah menjadi bagian dari sebuah proses yang harus dilalui oleh
bangsa ini untuk menjadi lebih baik dalam hal berdemokrasi.
Kini, orang semakin melihat bagaimana perilaku orang-orang yang
dulu dipilihnya. DPRD Yogya akan memanggil Fuad Bawazir sebagai
Wakil Utusan Daerah dari DIY karena dia dinilai telah tidak
menghargai aspirasi rakyat DIY yang memilihnya dalam kasus
pertemuan 4 tokoh itu. Juga, semakin dirasakan oleh masyarakat
melalui DPRD bahwa wakil mereka di Senayan itu sebenarnya tidak
mencerminkan aspirasi rakyat dari daerah yang diwakilinya.
Tampaknya kelihatan bahwa para wakil rakyat itu masih berperilaku
seperti zaman Orba sesuai dengan tesis HMS bahwa Senayan adalah
tempat dimana eksekutif bisa mengendalikan legislatif melalui
partai dan golongan yang orang-orangnya juga dikendalikan agar
stabilitas politik terjadi. Wakil-wakil rakyat adalah orang-orang
partai yang dikendalikan oleh para pemimpin partai yang tidak
bebas dari nilai dan ambisi. Lihat saja dijaman Orba bagaimana
anak-anak, kerabat, dan kroni HMS mewakili daerah yang tidak
dikenalnya.
Kalau kesadaran bahwa wakil mereka di Senayan itu ternyata sangat
menentukan hidup mereka itu mulai muncul dan mulai merebak di
masyarakat seiring dengan terbukanya belenggu kebebasan itu maka
kesadaran itu mungkin akan semakin mempengaruhi perilaku pemilih
di Pemilu 2004 nanti.
Maka, target 2004 mendatang mestinya bukan hanya masalah Presiden
dan Wapres melainkan juga Wakil-wakil rakyat di Lembaga Perwakilan
Rakyat kalau kita tidak ingin melihat situasi seperti sekarang ini
berulang. Reformasi Total untuk mewujudkan Indonesia Baru itu
mestinya tidak menempatkan Lembaga Perwakilan dilar domain.
----- Original Message -----
From: mbah soeloyo <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Monday, August 07, 2000 4:44 AM
Subject: [Kuli Tinta] Walk Out
di koran listrik suaramerdeka hari ini muncul
2 berita tentang walk-out. satu di headline,
tentang ancaman jalan-keluar itu dari FPDI-P
bila ada usulan "ngajak" sidang istimewa.
kedua datang dari para UD di berita utama. anggota
UD ngancam ngacir dari sidang bila usulan pembentukan
FUD ditolak
----->
apakah ini pertanda kemajuan berdemokrasi, bermusyawarah
atau sekedar menunjukkan sikap-sikap "ngotot"?
tak tahu lah aku. yang jelas gejala "ngotot" ini semakin
kentara mengemuka di lingkungan elite politik. sejak
KPU hingga MPR/DPR. di eksekutif apakah juga?
embuh wis... yang jelas ST MPR kali ini telah bersifat
istimewa. karena ketua MPR dan DPR penginnya
ngatur bentuk laporan kemajuan pemerintah (presiden)
dengan kesempatan penilaian yang 3 kali lebih lama
dibanding laporan lembaga-2 tinggi negara yang lain.
sekali lagi masalhnya, kalau dalam laporan kemajuan
yang disampaikan oleh lembaga tinggi negara yang
lain juga dinilai MERAH oleh rakyat, siapa
yang NJEWER? banser atau satgas kali ya?
nyilem
-----
Bah Soeloyo
moderator [EMAIL PROTECTED]
http://www.egroups.com/group/wjseto
HP: http://io.spaceports.com/~wjseto
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
- [Kuli Tinta] Walk out Andriecht
- Re: [Kuli Tinta] Walk out Iwans
- Re: [Kuli Tinta] Walk out Raja Komkom Siregar
- Re: [Kuli Tinta] Walk out Wira Abadi
- [Kuli Tinta] Walk Out mbah soeloyo
- Re: [Kuli Tinta] Walk Out ��
- Re: [Kuli Tinta] Walk Out reijkman karrountel
- RE: [Kuli Tinta] Walk Out Christian S.
- Re: [Kuli Tinta] Walk Out ��
- Re: [Kuli Tinta] Walk Out ��
- Re: [Kuli Tinta] Walk Out Agus Satrio
- Re: [Kuli Tinta] Walk Out Frijnk Zillaanz
- Re: [Kuli Tinta] Walk Out Sukaton _
