----- Original Message ----- From: "mbah soeloyo" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Monday, August 14, 2000 2:53 PM Subject: Tanggapan Ustadz #1 ----------------------- Assalamualaikum wr. wb., Saudara-saudara pembaca e-mail ini, saya memang telah menjelaskan kata ‘silm’ kepada Sdr. WDW. Maksud saya sebenarnya bukan untuk ‘meng-kaunter’ secara langsung artikel ‘mari berjihad’ yang ditulis oleh Sdr. Fulan. Dengan penjelasan saya itu, saya hendak mendudukkan lebih dulu makna ‘silm’ sehingga akhirnya kita mengerti bahwa ‘jihad’ itu bukan hanya bermakna ‘perang’ seperti yang dituliskan dalam artikelnya ‘mari berjihad’. Saya tetap memahami bahwa kata ‘silm’ itu bermakna ‘kedamaian ’ atau ‘hidup damai’. Ini tidak berarti saya tidak pernah membaca tafsir Depag. Tetapi kata ‘silm’ dalam makna ‘kedamaian’ itulah yang lebih pas bila kita membaca seluruh ayat-ayat Al Quran, maupun dalam praktik. Di bawah ini saya ambilkan beberapa tafsiran ayat 208 Surat Al Baqarah. Bunyi QS 2 : 208, “Yaa ayyuhalladziina aamanuu dkhuluu fi s silmi kaaffah, wa laa tattabi-‘uu hutuwaati sy syaithaan, innahuu lakum ‘aduwwun mubiin.” Terjemahan Depag RI edisi revisi 1989: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam islam keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” Terjemahan A. Hassan: “Hai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu sekalian ke dalam keselamatan….dst.” Terjemahan Quran Suci oleh Maulana Muhammad Ali: “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah sama sekali dalam perdamaian dan janganlah mengikuti jejak-jejak setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang terang bagi kamu.” Kalau kita mau jujur memahami kalimat “masuklah kamu ke dalam islam keseluruhannya” dari terjemahan Depag tersebut, maka semua orang yang mengaku beriman kepada Nabi SAW diseru hidup berislam, yang artinya hidup damai. ‘Bukan masuk Agama Islam secara sempurna’! Dan sampai ayat ini turun, yaitu tahun ke-2 Hijriyah, nama ‘agama Islam’ belum ada. Lihat semua surat Al Quran yang turun sebelum Surat 2:208 ini, yang memuat kata ‘islaam’ adalah QS 6:125 dan 39:22. Pada 6:125 kata islam dioposisikan dengan kata ‘dada yang sesak lagi sempit –shadrahuu dhayyiqan harajaa.” Dengan demikian kata ‘islam’ pada ayat ini adalah ‘hati yang lapang, hati yang damai, pikiran yang jernih’. Pada 39:22 kata ‘islam’ dioposisikan dengan kata ‘hati yang membatu dalam mengingat Allah’. Jadi, kata ‘islaam’ dalam 39:22 ini selaras dengan makna ‘saliim’ dalam QS 26:89, “Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” Kata ‘silm’ hanya terdapat sekali dalam Al Quran, yaitu pada Surat Al Baqarah/2 : 208. ‘Silm’ sebenarnya pengucapan menurut ‘Ashim dan Ibnu Amir. Ini bagi yang mengerti ilmu qiraat lho! Menurut Ibnu Katsir (penulis Tafsir Al Quran al-‘azhim), Nafi ’ dan Kisai, ada 3 kata ‘salm’ dalam Al Quran yaitu 2:208, 8:61 dan 47:35. Jadi, menurut orang-orang tersebut ‘ayat fis silm’ dibaca ‘fis salm’. Dan arti kata ‘salm’ adalah perdamaian! Lihat Al Anfaal/8:61, “Dan jika ia condong kepada perdamaian (lis salm), hendaklah kamu condong pula kepadanya, dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Juga perhatikan makna Surat Muhammad/47:35, “Maka janganlah kamu lemah dalam menyeru kepada perdamaian (ilaas salm), dan kamulah yang unggul dan Allah beserta kamu. Dan Dia sekali-kali tidak akan mengu-rangi imbalan bagi amal-amalmu.” Jadi, jelaslah bahwa ‘silm’ atau ‘salm’ adalah perdamaian. Wajar jika Ustadz A. Hassan, seorang tokoh PERSIS (Persatuan Islam), yang sebenarnya sangat gigih dalam pemurnian Islam, juga menerjemahkan kata ‘udkhuluu fis silm’ sebagai ‘masuklah kamu semua ke dalam keselamatan (silm)’. Mengapa damai itu sangat penting? Karena di dalam hidup damai itulah manusia bisa menjalankan misinya sebagai khalifah Allah. Dengan hidup damai manusia bisa menjadi orang yang hidup secara ikhlas. Dan hanya hidup yang tulus, ikhlas, yang tidak dapat digoda atau dijerumuskan oleh iblis (QS 15:40 dan 38:83). Dalam kehidupan yang penuh kedamaianlah Umat Islam mampu menjadi ‘rahmat’ bagi seluruh alam. Dan di dalam kehidupan yang damai pula Islam bisa menampilkan pesan-pesan Rasul Allah bahwa Islam itu dibangkitkan untuk menyempurnakan budi pekerti yang mulia. “Innamaa bu-itstu liutammima makaarimal akhlaq” Sesungguhnya saya dibangkitkan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (Al Hadis). Dan Nabi SAW memang diseru oleh Allah agar bersikap lemah lembut. Dalam QS 3 : 159, “Maka disebabkan rahmat Allahlah engkau berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar (fazhzha ghaliizhal qalb), tentulah mereka menjauhkan diri dari sekeliling engkau. Jelas sekali bahwa kelembutan itu merupakan prinsip hidup dalam Agama Islam. Dan beliau memang diutus sebagai ‘rahmat’ bagi semesta alam (QS 21:107). ------bersambung---------- ->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
