-From: mbah soeloyo <[EMAIL PROTECTED]>
1. cinta mas? rasanya kok bukan ya. ...rasanya sejak jaman dulu aku
menyatakan bahwa "tidak pantas" menjadi presiden ".
2.jadi apa? saya di sini hanya sekedar mencoba me-nyetia-i
suatu kesepakatan. ...dari majelis permusyawaratan rakyat,
yang tentunya di-amini oleh rakyat yang mempercayakan
hak-hak-nya kepada para anggota MPR itu, termasuk
dalam "memilih"-kan pemimpin bangsa.
3. kalau sekarang kesepakatan bersama itu sepertinya
di-obok-obok bukan oleh orang luar, melainkan
pencetus kesepakatan itu sendiri, kita mau
bicara apa? selain ngerumpi gini-ginian......
=============================================
Mbah Soel,
Gaya sampeyan yang jadi amat serius membuat saya amat sungkan untuk bersikap
celelekan terus. Diatas ini, ueneg-uneg anda yang serius, yang pasti dari
dalem ati, saya coba singkatkan untuk diskusi kita.
Ada dua hal yang perlu kejelasan dari sampeyan:
1. Bila saja MPR sepuluh bulan yang lalu memilih orang yang lain, bukan
manusia "tidak pantas" seperti keyakinan anda ( Gus Dur ). Katakanlah
Megawati. Apakah itu berarti kita tidak boleh mengoreksi bila Megawati
ugal-ugalan , umpamanya giat menanam KKN bersama suaminya Taufik Kemas.
Apakah MPR tidak kemudian boleh membuangnya ke Kali Ciliwung , hanya karena
setia pada "kesepakatan" ?. Apakah kita harus memberi "cek kosong" pada
presiden pilihan kita ? Apakah kita sebaiknya membuang sikap feodal yang
terkandung dalam kata "setia", menggantinya dengan yang lugas baru seperti
"performance" ?
2. Yakinkah anda bahwa sebetulnya anda tidak begitu bening melihat fakta?.
"Yang meng-obok-obok" , istilah saya: "Yang lugas kritis" bukan hanya
pencetus pengusul GD presiden, tapi hampir-hampir seluruh fraksi kecuali
fraksi PKB. Lha wong GD itu kyai-nya ! Partai saya PDIP yang dulu disakiti
babakbelur pun dengan gagah berani berada didepan. Sayang sekali anda tidak
seleluasa kami yang ditanah air untuk bisa membaca koran. Setiap hari anda
bisa melihat Arifin Panigoro dkk bermain aktif menjemput bola! Saya bilang :
PDIP tidak gebleg lagi, bung ! Merdeka!
3. Saya kira kita tidak cuma bisa ngrumpi. Kita mesti bersyukur demokrasi
mulai jalan. Semua telah mendapat pelajaran untuk serius. Memang
betul. MPR kita belum sempurna. Banyak kepentingan berkelidan disana. Buruk
maupun baik. Demikian pula lembaga kepresidenan kita, juga belum sempurna.
Masih banyak yang mengira bisa berbuat macam-macam disana seenak udel-nya.
PERS kita belum sempurna. Masih banyak tercampur antara fakta dan gossip
khayalan berita bohong. Tapi...marilah kita merenung:
Apakah ini barangkali memang keajaiban demokrasi ? Kombinasi semua yang
tidak sempurna menjadi yang lebih sempurna ?.
Wassalam
Abdullah Hasan.
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!