sebetulnya aku ini heran,
mengapa GBHN disamakan dengan buku cheque
soalnya hasil isian cek itu kalau digunakan kan
bentuknya cuman que-tansi?

tapi ya betul barangkali, jabatan presiden itu
identik dengan menguangkan buku cek ya?
artinya, dengan jadi presiden (duluuuu) akan
bebas menuai cek-cek? sehingga di sekitar
presiden terus bertumbuhan KKN-KKN model
pesantren... hehehe...

lha di sini saya tak paham lagi.
soal KKN dan sebagainya itu yang ngurus siapa?
apakah bukan bagiannya para yudikatif? lha ning
gimana, wong yang mengatur sekarang itu cukup
duo-politica, eksekutif yang dikontrol ketat oleh
legislatip. sementara pengontrol kemencongan
legislatif, masih dipertanyakan oleh sementara
ahli tata-negara. ada yang tahu?
(tahu kempong apa tahu brontak?)

soeL
------

----- Original Message -----
From: "��" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Wednesday, August 16, 2000 8:25 AM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Keterbatasan fisik dan kesehatan (dua
kali stroke?)


| Meneer lucu,
|
| Cek kosong itu dibuat karena memang tidak ada isinya. Kalau
| pebisnis mah masih punya harapan rekeningnya akan terisi
setelah
| kliring. Lha kalau politisi siapa yang akan ngisi?
|
| Tetapi memang point-nya logika mencong itu koq meneer, seperti
| kapal silem mencong. Dilanjut meneer....
|
|
|
| ----- Original Message -----
| From: reijkman karrountel <[EMAIL PROTECTED]>
| To: <[EMAIL PROTECTED]>
| Sent: Tuesday, August 15, 2000 4:32 PM
| Subject: [Kuli Tinta] Keterbatasan fisik dan kesehatan (dua
kali
| stroke?)
|
|
| >  Point saya adalah siapa saja yang kita pilih, GD atau Mega
atau
| Amin atau
| >  siapapun harus dipantau terus. Kalau performance-nya
mencong ya
| di
| luruskan.
| >  Kalau tidak bisa diluruskan karena terlalu memble , atau
| ternyata
| >  sama-sekali tidak memberikan harapan lagi,( dengan
penilaian
| 700 orang
| wakil
| >  rakyat hasil pemilu), ya jangan sayang. Dibuang saja.
Kemudian
| diganti.
| >  Tidak ada yang namanya setia-setia kepada kesepakatan awal
.
| Kesetiaan
| yang
| >  konyol itu , menurut istilah sekarang adalah memberikan cek
| kosong pada
| >  seorang presiden. Maka dari itu, diperlukanlah
interpelasi,
| hak angket,
| >  sidang tahunan, pers bebas ........dll.kebiasaan demokrasi
| modern.
| >   semuanya tidak ada dalam kerajaan Majapahit).
| >
| >  Sekarang ganti saya yang  tanya pada anda , apa point anda
| dengan
| >  ganti-ganti nama itu. Sekedar tersinggung sang pujaan di
ledek
| sehingga
| >  bisa kelihatan seperti manusia biasa ?
| >
| >  Wassalam
| >  Abdullah Hasan.
| >
|
| ----------------------
|
| Dari mbah Soeloyo pehade, sampai ke siapa saja, yang mencoba
| mencela mereka
| yang meributkan GD bukanlah menyoalkan 'performance mencong ya
| diluruskan',
| tetapi adalah penggunaan alasan-alasan keterbatasan fisik dan
| kesehatan (dua
| kali stroke?) untuk menyorongkan GD agar dibelejeti di DPR/MPR
| itulah yang
| tak etis.
|
| Jika mau bikin perkara dengan GD, maka seyogyanya bukan
| menggunakan
| analasan-alasan keterbatasan fisik dan pernah stroke tersebut,
| mengingat GD
| juga sudah tak awas dan telah stroke jauh ketika sebelum
pemilihan
| presiden.
| Lain halnya, kalau selama 10 bulan terakhir ini, tiba-tiba GD
| buta, atau
| stroke, bolehlah itu dipakai alesan.
|
| Maka sering kita dengar, 'lucu, kok sekarang dimasalahkan',
lalu
| orang-orang
| lain, yang senada dengan Abdullah Hasan, akan bilang 'mengapa
| harus setia
| dengan kesepakatan awal, kalau mencong', dan lain sebagainya.
| 'Mencong
| diluruskan', siapa saja OK. Dan bagian dari 'mencong
diluruskan'
| itu pula,
| mengapa sohib Soeloyo pehade mencoba membuat pelurusan kepada
| mereka yang
| menggunakan alasan keterbatasan fisik dan pernah-stroke GD
untuk
| marah-marah
| sama GD. Jika 'butadan pernah-stroke' sebagai sebuah
kemencongan,
| dan mesti
| diluruskan, maka sebenarnya para penyeponsor GD dulu sudah
dari
| sononya
| mencong pula niatnya.
|
| Kata-kata 'jangan beri cek kosong' merupakan slogan-slogan
yang
| banyak
| didengungkan oleh kelompoknya AR, yang notabene merupakan
| penyeponsor
| naiknya GD dulu. Mestinya pula, mereka segera mengisi cek
tersebut
| sebelum
| diberikan kepada GD. Kenapa sekarang tiba-tiba mereka (atau
| Abdulah Hasan
| sendiri?) merasa telah menyerahkan cek kosong, lalu kaget?
|
| Berbagai hak milik DPR, dan agenda-agenda sidang tahunan MPR,
| memang bisa
| dipandang sebagai alat-alat demokrasi (modern, kata Abdulah
Hasan,
| sambil
| sinis 'yang tak ada di jaman Majapahit' segala). Tetapi
penggunaan
| alat-alat
| tersebut secara serampangan, tanpa mengindahkan penderitaan
| rakyat, bahkan
| konstitusi, hanya berlindung kepada demokrasi (seolah-olah
| demokrasi itu
| boleh berlaku apa saja), bukanlah sesuatu yang pantas
| dikembangkan.
|
|
|
|
|
| _______________________________________________________
| Say Bye to Slow Internet!
| http://www.home.com/xinbox/signup.html
|
|
| ->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
| Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN
SENDIRI
| Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
| Keluar: [EMAIL PROTECTED]
|
| Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| ->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
| Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN
SENDIRI
| Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
| Keluar: [EMAIL PROTECTED]
|
| Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|



->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke