Kalau anda pencinta kerukunan ( beragama ), jangan lewatkan membaca "Tiga
Agama Satu Tuhan"( Mizan, 1998). David Gordis, Ph.D , seorang Yahudi, George
B. Grose, seorang Kristen, dan Muzammil Siddiqy, ph.D, seorang Islam
mengobrol serius tentang agamanya dan agama orang. Kita bisa belajar
bagaimana cara apresiasi agama orang. Dari hati yang bukan basa-basi.
Saya yang Islam tidak begitu heran melihat seorang Muslim "dengan caranya"
percaya pada Perjanjian Baru. Atau seoarang Kristen pada Taurat Yahudi.
Karena semuanya itu sebagian sudah ada "dalam" agamanya masing-masing.
Tapi dalam dialog itu saya juga bisa melihat bagaimana seorang Kristen
"dengan caranya" percaya bahwa Muhammad adalah seorang Nabi.
Menarik sekali.

Perempuan muda itu bekerja sebagai staf akunting dikantor saya. Kerjanya
rapi, bicaranya lugas, tanggung jawabnya teruji lulus, paling tidak dalam
empat tahun masa kerjanya. Dia mengenakan Jilbab. Dan dia anggota sekte
"Islam Jamaah". Dalam berbagai hal, Islam Jamaah hampir-hampir tidak berbeda
dengan Islam biasa. Caranya sholat, caranya puasa dan caranya bicara
sehari-hari. Sama saja dengan saya. Tapi mereka menutup informasi keagamaan
dari luar sang guru. Tidak ada buku, tidak ada televisi, tidak ada diskusi
agama dengan orang lain. Mereka punya mesjid sendiri. Seorang Muslim
seperti saya yang bisa bangga tidak pernah meninggalkan sembahyang sejak j
atuh kewajiban, tidak punya arti apa-apa. Tetap saja dianggap najis dan
kafir.
Sentuhan dilantai mesjid "khusus" tersebut dari orang seperti saya
mengundang
guyuran air dan pel khusus buat membersihkan lantai yang tercemari najis.
Tapi
perempuan tersebut tidak mengganggu kita semua. Dia bekerja bagus,
berhubungan bagus, dan becanda bagus. Maka, saya dan yang lain pun tidak
peduli dan tidak usil dengan keyakinan perempuan itu.  Dan Alhamdulillah ,
kami pun tidak merasa lebih "berbudaya" karena punya keyakinan lebih baik
dibanding perempuan itu.

Isteri saya mengenakan Jilbab. Tapi sama sekali saya tidak pernah
mengutarakan keinginan atau memerintahkan dia untuk itu. Barangkali dia pun
tidak begitu mengerti kalau saya pribadi tidak meyakini bahwa Jilbab adalah
kewajiban dalam Islam. Tapi saya meyakini bahwa mengenakan Jilbab bisa
berarti seperti puasa Senin-Kamis. Sesuatu yang tidak diwajibkan, tapi suatu
bentuk latihan pengekangan pamer-diri yang spirituil yang insyaallah
"dihargai"
oleh Yang Maha Lembut. Saya tahu betul, ibu saya adalah seorang soleh,
walaupun seumur hidupnya cuma mengenakan kebaya Jawa plus kerudung
sederhana.

Saya tidak mengerti kok ada orang yang meributkan Jilbab. Kok sampai sibuk
sekali cari reference ensiklopedi , koran Jepang dan Italy dan Rusia bahwa
pakaian itu cuma lahir karena sebab hujan dan angin dan matahari. Apakah
perasaannya sedemikian tumpulnya sampai gagal melihat bahwa ada pakaian yang
dipakai sebab keyakinan. Seperti Jilbab dan Sorban Sikh. Keyakinan adalah
soal yang "beyond" discussion. Jadi apakah yang semacam itu bisa menyumbang
pada kerukunan dan kemanusiaan dan kebangsaan ? Apakah itu bukannya adalah
bentuk dari keangkuhan ?

Wassalam
Abdullah Hasan.














->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke