----- Original Message -----
From: "Abdullah Hasan" <[EMAIL PROTECTED]>

| Saya tidak mengerti kok ada orang yang meributkan Jilbab. Kok
sampai sibuk
| sekali cari reference ensiklopedi , koran Jepang dan Italy dan
Rusia bahwa
| pakaian itu cuma lahir karena sebab hujan dan angin dan
matahari. Apakah
| perasaannya sedemikian tumpulnya sampai gagal melihat bahwa
ada pakaian yang
| dipakai sebab keyakinan. Seperti Jilbab dan Sorban Sikh.
Keyakinan adalah
| soal yang "beyond" discussion. Jadi apakah yang semacam itu
bisa menyumbang
| pada kerukunan dan kemanusiaan dan kebangsaan ? Apakah itu
bukannya adalah
| bentuk dari keangkuhan ?
|
| Wassalam
| Abdullah Hasan.
|
------->
Berhubung saya yang mempostingkan KORAN ANAK SD JEPANG,
maka menurut posting Mas Hasan di atas, saya tergolong orang
yang "sedemikian tumpulnya sampai gagal melihat bahwa ada
pakaian yang dipakai sebab keyakinan".
Juga seandainya banyak orang berpaham seperti Mas Hasan
tersebut, diskusi msalah pakaian dan jilbab, mungkin sekali
tidak akan pernah ada. Yaitu, bila setiap orang berkeyakinan
saling menghormati keyakinan sesama manusianya.
Saya yakin itu!

Namun, ada beberapa hal sehingga "keraya-raya" saya mencari
referensi, membacai sejarah-sejarah yang (rasanya) tidak
diajarkan
di sekolah maupun pejaran agama. Awalnya, sih biasa saja sebagai
ekses "kenakalan" remaja kasip. Saya pernah tersinggung sama
sekali dengan tingkah sesama teman putri di institut pertanian
satu-satunya di Indonesia sana. Pada suatu keperluan, saya harus
menemui rekan putri untuk meyampaikan undangan mendadak
pertemuan kelompok. Kebetulan dia tinggal di kost-putri.

"Uluk salam" saya ucapkan sambil mengetuk pintu. Bukan jawaban
salam yang saya terima, melainkan suara cekikikan berhamburan
rekan-2 putri meninggalkan ruang tamu dan masuk ke kamar
masing-2. Lama baru ada jawaban dari teman sekamar rekan
putri yang akan saya undang.... dan dia tidak berjilbab.
Kejadian begitu selalu berulang, baik siang atau malam. lama-2
saya bertanya: "menjawab salam seseorang itu hukumnya wajib
atau bukan?" bukan jawaban yang aku peroleh, justru "olokan"
merendahkan keyakinan saya yang saya peroleh, walaupun sama-
sama "kerangka"-nya, ISLAM.
Suatu kali, saya sedang bertandang ke rumah teman berembuk
praktikum. Mendadak seorang rekan putri yang biasa berjilbab,
ikut nimbrung. biasa ngobrol-nya menjadi ngalor ngidul. Saya
terkejut, ketika rekan putri itu mau pamitan pulang, bilang:
"Soel, maaf ya saya telah memperlihatkan aurat kepala saya,
bagiamana pendapat-mu?" Terkejut, lha selama ngobrol itu
tidak terlintas sama sekali bahwa rekan itu berjilbab atau
tidak, mempertontonkan aurat atau tidak.... mengapa harus
bertanya begitu?
------
Lama setelah kejadian itu, sebagai seorang asisten praktikum
lapang saya sedang mengajari mahasiswa bertanam padi,
sehingga harus bermain lumpur. Sementara ada sekelompok
mahasiswi yang tidak mau sama sekali "nyemplung" ke sawah,
karena mereka mengenakan jilbab yang lengkap dengan
baju longgar sampai menutup mata kaki. Padahal, di buku
penuntun praktikum, sudah jelas disebutkan "pakaian" yang
harus dikenakan pada waktu praktikum, yi. layak untuk bekerja
di sawah. Dan nilai praktikum 75% ditentukan oleh aktivitas
mahasiswa bercocok tanam. Saya tanyakan mengapa mereka
memilih tidak ikut bekerja? Jawabannya, seperti ungkapan Mas
Hasan, itu adalah karena "Keyakinan", dan jilbab adalah salah
satu KEWAJIBAN. Pusing saya, bagaimana nanti memberikan
nilai kepada mahasiswa-2 ini?
---------
Akhir-akhir, saya bersama isteri hidup di Jepang. Kembali
khabar jelek sampai ke telinga. Isteri saya, karena tidak
berjilbab, dinyatakan sebagai "Muslim Ngeyel" oleh sesama
warga Indonesia, dengan dasar sama dengan point Mas Hasan,
berdasarkan KEYAKINAN mereka, Jilbab adalah suatu
Kewajiban. Tidak hanya itu, soal makanan-pun, keluarga saya
juga disebutnya sebagai "Keluarga Ngeyel" mengkonsumsi
daging tidak halal, karena di beli di Super-Market. Di sini
saya berani membalas, INI ADALAH KEYAKINAN SAYA
dengan dasar AYAT 5, surah Al-Maidah. Di situ bahkan Tuhan
pun membolehkan Muslim memakan "makanan" Ahli Kitab,
mengapa kita-2 menilai keyakinan orang dengan berdasarkan
MAKANAN dan PAKAIAN?
Jawaban yang saya peroleh, tetap, yaitu... memang SOEL
adalah NGEYEL. Tapi adalah suatu keberuntungan, ketika
lulus, minggu lalu, doa yang saya terima dari rekan-rekan
yang pernah memper-ngeyelkan saya adalah :

"Assalamu'alaikum wr. wb.
Kepada Mas Soel, kami juga mengucapkan selamat atas
keberhasilannya
menyelesaikan program doktornya.  Kamipun berdo'a semoga ilmu
yang telah
diperoleh bermanfaat bagi kemaslahatan seluruh ummat dan membawa
keberkahan.  Amien.
Wassalamu'alaikum wr. wb."

Alhamdulillaah, teman-temanku mendoakan agar yang telah aku
peroleh berguna bagi seluruh ummat.... tidak lagi sebatas ummat
tertentu berdasar KEYAKINAN. sungguh suatu penghormatan
besar. dan saya bermohon, mampu mewujudkannya walau
hanya setitik noktah terang.

salam

Soel
------
ps: 2 hari komputer di rumah jebol monitornya.....




->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke