Mudah-mudahan ada manfaatnya
Shinrin-gaku dalam pengertiannya mirip dengan Silviculture
atau forestry. Saya pernah menyaksikan, bagaimana suatu
prefecture di Jepang mengelola Hutan Negara, yaitu Gifu.
Seperti diketahui, Jepang adalah negara yang padat
penduduknya (120.000.000 juta dengan area 1/5 luas
daratan Indonesia). Sehingga hutan adalah kebutuhan sangat
vital untuk mendukung keberlangsungannya, agar proses
dan kondisi alami mampu menyangga eksistensi manusianya.
Sehingga mereka sangat hati-hati dalam memanen produk
hutan. Padahal lebih dari 60% konstruksi rumah (terutama
di pedalaman) adalah kayu. Tembok-2 pun banyak yang
memanfaatkan papan partikel. Mereka sangat ketat dalam
memilih pohon yang akan ditebang. Satu pohon disaratkan
hanya yang berumur 40 tahun lebih yang boleh dipanen.
Pemanenannya pun sangat selektif. Penebang akan "merempeli"
dulu cabang-cabangnya, sebelum pohon dirobohkan.
Si pohon pun tidak langsung tumbang menimpa pohon-2
lain yang masih muda, melainkan ditali 2 titik yang cukup
panjang, sehingga batang akan menggantung mendatar.
Untukselanjutnya diluncurkan dengan traktor-kawat.
Maka wajar bila satu pohon berharga 160 - 600 ribu yen.
Semua bagian pohon termanfaatkan. Bahkan ranting-2
kecilpun termanfaatkan untuk bikin "sumpit dan tusuk
gigi". Hasil penjualan, 60% dikembalikan ke hutan
untuk reboisasi dan rehabilitasi. Hanya 30% saja yang
benar-benar dipanen sebagai penghasilan dari sektor
kehutanan dari departemen PERTANIAN.
Reboisasi dilakukan dengan kerapatan populasi 10x
populasi tebangan. Sehingga untuk hutan 1 hektar
yang jumlah pohonnya 100 batang layak tebang,
akan ditanami 1000 bibit. Selanjutnya secara bertahap
dijarangkan pada keadaan tanaman muda sudah layak
dimanfaatkan, walaupun hanya sebagai bahan
kerajinan tangan maupun arang-bakar.
Dengan pengelolaan begitu, terbukti Jepang yang
curah hujannya hanya 1\2 curah hujan Indonesia,
jarang mengalami kekeringan.
(Aku sendiri heran, karena banyak pakar kehutanan
atau linkungan hidup yang lulusan Jepang tersebar di
PT-PT dan Balai-2 penelitian. Apakah mereka selama
di sini belum sempat melihat?)
wassalam,
Soeloyo
--------
----- Original Message -----
From: "��" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, August 26, 2000 6:26 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Keprihatinan Atas Kasus Indorayon
: Yang pasti, kalau kita menual kayu gelondongan maka nilai
tambah
: itu tidak akan dinikmati.
:
: Bayangkan, tahu 80 an Kompas pernah menurunkan artiel mengenai
: penebangan hutan itu yang intinya ada orang Filipina
: mengatakan:"dari jendela ini aku meliat setiap hari dolar
: mengalir"
:
: Yang harus membayar externalities orang di Kalimantan sedang
yang
: menikmati revenue adalah para Koruptor!
:
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!