Perjuangan Senjata bukan milik Marxis semata?

Biar tidak di bodohi sama orang bodoh saya buat contoh ketimbang
menjelaskan dalam hal yang lebih teoritis.

1. GAM perjuangannya Islam tetapi ia juga mengambungkan dengan kekuatan
senjata.
2. Permesta yang kemudian pada akhirnya mampu menumbangkan Bung karnopun
   juga di gabungkan dengan kekutan bersenjata.

Jadi semua kepentingan (politik) dan idiologi di dunia ini semua
digabungkan dengan kekuatan bersenjata, sebagai strateginya bukan tujuannya.

Islam yang dibawa Nabi muhammad juga memakai kekuatan bersenjata (perang
badar),
walaupun setelah besar
dia tidak lagi memerlukan senjata setelah balik untuk merebut mekah.
Kolonial dan Negara-negara Kapitalis macam amerika juga memakai senjata pada
perang
dunia pertama dan kedua, tetapi setelah besar tidak lagi memerlukan senjata
tetapi
dengan uang (pasar bebas).
Negara-negara eropa (kolonial) dalam menjajah negara-negara miskin juga
menggunakan senjata.
Lenin dalam menerapkan Marxisme juga akhirnya menggunakan senjata, walaupun
dia menitik beratkan pada kekuatan masa non senjata untuk mengurangi korban
jiwa.

Lalu pertanyaannya jika orang menggunakan senjata untuk mengancam apa
salahnya
jika kita juga mempertahkan diri.

Biar lebih puas;
Pasukan penyerbu markas dpp PDI Mega pada 27 juli 1996, juga dilatih dan
dipersiapkan
menggunakan senjata malah disiapkan untuk membunuh juga. (ini bukan Marxis
atau komunis).

Pembunuh bayaran yang ingin menghabisi matori Abdul jalil (Ketua PKB) juga
berfaham Islam
tetapi bisa-bisanya membawa senapan dan melukai orang tak bersenjata.
Penyerang bukan
Marxis, malah menuduh matori Komunis?

Peledakan, kedutaan Filipina, Gedung kejaksaan Agung, peledakan mini bus
didepan "toko
Karya" (baca kompas) dekat gedung pertanian dimana akan digelar pengadilan
Soeharto juga menggunakan senjata/bom dan bukan extrim kiri dari marxis atau
komunis.

Belajar dari sejarah.

Ucapan Perjuta (perjuangan Bersenjata) pada awal revolusi fisik dalam mana
merebut kemerdekaan
sangat di yakini sebagai salah satu cara yang evektif dalam merebut
kemerdekaan. Slogan
Merdeka atau mati (kemarin demokrasi atau mati, Lawan), membahana
kekuatan-kekutan bersenjata dari puluhan atau ratusan laskar rakyat, dari
Hisbulah (Islam), Pesindo (Sosialis), bahu membahu
mengangkat senjata. Musuhnya jelas kolonial Belanda.

Jadi perjuangan bersenjata, bukan untuk ditakuti malah harus dipelajari. Di
Singapure seluruh
rakyatnya wajib ikut wajib militer tujuannya jelas terbiasa memegang senjata
dan siap bila
ada ancaman dari luar. Dinegara kita malah orang belajar sendiri-sendiri
atau diperalat
oleh kepentingan tertentu karna tidak ada demokrasi.

Dinegara kita Militer yang menekan rakyat (dengan dwi fungsinya), sehingga
program "wajib militer" yang jelas termaktub dalam konstitusi tidak pernah
diprogramkan dan direalisasikan.
Sehingga rakyat tidak terbiasa mengamankan diri dan lingkungannya sendiri
dan mudah diprovokasi.
Jadi saya mendukung cara yang ditempuh Gus dur dengan cara kebudayaan dalam
menyelesaikan
kemulut disintegrasi Nasional bukan dengan kekerasan.
Sebenarnya rakyat sendiri yang harus mengamankan daerahnya, untuk masalah
Aceh rakyat aceh yang
harus menyelesaikan masalah AGAM (jika itu diangap menggangu rakyat Aceh),
Ambon, Irian
biarkan rakyat yang menyelesaikan sendiri (hanya orang yang bodoh yang akan
mati sia-sia).

Karena semua cara pada intinya satu kepentingan Ekonomi. Dan ABRI selama 32
tahun diuntungkan didaerah-daerah oleh sebab itu mereka punya kepentingan
disana. lihat berita di TV dimana seorang
tentara dari Kodim Palembang yang tertangkap akan menjual senjata ke Aceh.

pemecahan ketakutan diatas dengan cara menghidupkan Demokrasi dan politik
serta ekonomi,
tanpa membedakan faham dan idiologi dari pelaku politik itulah demokrasi
sejati, mau komunism mau sosialis, mau sosdem, mau Marxis, mau Islam,
kristen, mau kapitalis, mau Nasionalis (asal bukan fasis) selama dapat
bersaing secara sehat sah-sah saja, tetapi jika tidak ya harus ada sangsi
dan aturan hukumnya dong, jika kesepakatan itu dibuat bersama (juga dengan
pengikut komunis/sosialis/Islam).
Tetapi menurut saya untuk fasisme tidak ada tempat (karena ada sejarah
komunis dan kapitalis pernah bersatu untuk menghancurkan fasisme pada perang
dunia kedua). Artinya Kapitalis dan komunis sama-sama bisa menerima
kompromi/negosiasi. Dan satu lagi biasanya
fasisme berlindung dalam jaket Agama untuk menghabisi seseorang, lihat
pembataian Yahudi.

kita harus jujur ada tidak hantu yang kita takuti (komunis) itu ada apa
tidak didepan mata kita.
Ada tidak di DPR (tidak ada), karena apa kita belum demokratis karena dalam
wacana demokratis
semua dapat tempat sehingga rakyat dapat  melihat strateginya dan taktik
kepentingan-kepentingan
tersebut. Jika tidak sekarang rakyat lebih percaya bahwa yang selama ini
membuat kacau adalah
yang ada dlm legislatif (DPR), kalau begini sudah kacau. Jadi saya mendukung
langkah gus dur untuk mencabut tap itu. Agar persaingan menjadi fear dan
adil siapa sebenarnya biang keroknya. Tetapi sudahlah tanpa dicabutpun
rakyat sudah tahu, kok? (ha..ha..ha..)

Nah Jika sudah fear semuanya tinggal kita tanya eh elu komunis mau tidak
kita bersaing secara
fear, juga begitu kepada pengikut fundamentalis Islam eh elu mau engak buat
aturan main bersama
sama dan bersaing secara fear. Kalau ngak mau biarin aja (cara gusdur) dia
akan dikucilin sendiri
oleh rakyat.

nah untuk demokrasi sendiri;
Demokrasi sendiri fersinya ada bermacam-macam, ada demokrasi ala Islam, ada
demokrasi ala barat
(liberal), ada demokrasi ala sosialis, ada demokrasi kerakyatan. Nah
demokrasi kalau menurut
saya demokrasi yang tidak statis tetapi terus berubah mengikuti keinginan
jaman (itu menurut
pendiri bangsa ini, lho).

Mashuri


-----Original Message-----
From: reijkman karrountel [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Thursday, August 31, 2000 2:46 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [Kuli Tinta] PERJUTA


Perasaan, istilah Perjuta bukan 'perjuangan bersenjata', kok. Tapi saya
lupa. Kalau nggak salah ada kata-kata 'rakyat'-nya, lalu mungkin 'semesta'.


On Thu, 31 Aug 2000 12:41:30 +0700 (JAVT), [EMAIL PROTECTED] wrote:

>  Saya forward satu posting hasil diskusi saya dengan kelompok yang
>  menamakan dirinya Marxis. Dari jawaban ini menambah keyakinan saya bahwa
>  ancaman kelompok kiri, yang belakangan dikecilkan sebagai _hantu ciptaan
>  Orba_, masih ada. Dalam kaitan dengan perdebatan mengenai Tap 25/66, amat
>  relevan memperhatikan diskusi di bawah ini.
>
>  Bagi mereka yang bukan penganut Marxisme, namun masih ragu dengan ancaman
>  ini, silahkan merenung sendiri.
>  ------------------------------
>  On Mon, 28 Aug 2000, Tri Laksmana Astraatmadja wrote:
>
>  > Lho loe kalo gak bisa ngerebut pake cara parlementer (karena parlemen
>  > toh juga bikinan borjuasi, kalo loe telurusin sejarahnya ke jaman
>  > kuda masih makan tempe, tempo doeloeeee buangeetttt.....), masa loe
>  > nyerah? Ya ganti cara lah!(tapi liat-liat sikon dulu, memungkinkan
>  > kagak metode itu) Kalo emang sikonnya mendukung perebutan dengan
>  > perjuta (perjuangan bersenjata), kenapa pusing?
>
>  WAM:
>  Bagus jawaban ente, be.
>  Jadinya terbukti semua anggapan bahwa pada saatnya, kalian akan buang
>  semua kata demokrasi. Pada saatnya kalian kuat, akan kalian pake bedil
>  buat ngelawan yang nggak sepaham. Kagak salah bukan, ketika ane ketawa
>  karena ade satu dari elu yang nyoba-nyoba berkotbah tentang reformasi
atau
>  demokrasi? Lah, ade setan berkotbah tentang dosa. Srimulat, kali.
>
>
>
>
>
>  ->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
>  Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
>  Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
>  Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
>  Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>





_______________________________________________________
Say Bye to Slow Internet!
http://www.home.com/xinbox/signup.html


->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!













->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke