------Original Message------
From: "mBah Soelojo" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: September 3, 2000 9:29:00 PM GMT
Subject: [Kuli Tinta] Sebuah Kesombongan atau...?


Dari SMOL:
SALA-Pengusaha memberikan waktu tiga bulan kepada tim ekonomi
Gus Dur untuk memulihkan perekonomian. Waktu itu terhitung sejak
dilantik menjadi anggota kabinet oleh Presiden. ''Kalangan
pengusaha intinya sangat berharap terhadap kinerja tim ekonomi
yang dikomandani Menko Rizal Ramli,'' jela Ketua Umum Pusat
Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Haryadi B Sukamdani,
seusai talk show di Hotel Sahid Raya Sala, Sabtu.
------>
Adakah yang terkejut atau senyum kecut, atau
bahkan nangis sesenggukan dalam hati membaca
alinea sebuah berita utama SMOL di atas?

Sudah menjadi kebiasaan atau pendapat umum
dalam menyikapi komposisi kabinet reshuffle GD.
mulai dari yang melecehkan hingga mengharapkan.
namun ungkapan "Beri mereka kesempatan" atau
yang lebih sadis lagi "Kita lihat saya apa langkah
konkrit-nya" begitu sering kita baca di media massa,
seminar-seminar, bahkan dalam acara diskusi
panel suatu temu ilmiah yang kemarin saya "tonton"
di Hamamatsu Shizuoka-Jepang oleh Persatuan
Pelajar Indonesia (PPI) Jepang, pun demikian pula
isinya. sayangnya lagi ungkapan "kita tunggu
langkah-langkah konkrit (dalam hal ini ristek dan
kebijakan IPTEK) kemetrian kali ini." itu keluar dari
salah seorang "pejabat" pemerintah di deplu, yang
saya nilai kurang berkait dengan masalah yang akan
beliau tunggu itu.

Sekarang,
kita bisa baca pendapat seorang penguasaha muda
yang menjadi "pentholan" HIPMI, memberi tenggat
3 bulan kepada kabinet (tim ekonomi) untuk memulihkan
perekonomian Indonesia...? apa maksudnya ini?
sebuah kesombongan? atau justru kebodohan yang
terpelihara rapih? perlukah (terutama saya) rakyat
awam yang sesungguhnya sebagai penderita utama
krisis ekonomi yang langsung atau tidak langsung mereka
(pengusaha) ikut andil dalam menyalakan dan memper-
besarnya bertanya dan menuntut: "Apa kontribusi HIPMI
dalam usaha lepas dari krisis ekonomi? sungguhpun itu
hanya sekedar sumbangan saran atau konsep?
terutama kepada tim ekonomi kabinet reshuffle-2000?"

atau adakah saran dan pendapat rekan-2 internaut
sekalian? sumbangan pemikiran apa yang bisa kita
berikan kepada TIM EKONOMI kabinet itu agar
dapat memenuhi tuntutan yang terhomat HIPMI?
toh korban utama krisis bukan beberapa gelintir
pengusaha (yang konon menikmati 80% GNP yang
rata-rata hanya USD 640), melainkan 80% rakyat
yang menjadi penderita nilai negatif dari GNP?

wassalam,

mbah soeloyo
-----------
(belajar jadi pengamat yang usil dan seneng bercanda...)
-------------------------------------------------------------

Perbaikan ekonomi, selain dapat dilakukan oleh pengaturan melalui berbagai
kebijakan ekonomi yang kondusif, sebenarnya lebih banyak dipengaruhi oleh
bagaimana kinerja para pelakunya. Dolar naik berduyun-duyun, ternyata
ditanggapi secara apik oleh para pelaku bisnis di sektor pertanian. Jika
boleh berdoa keras-keras, maka mereka akan bilang, semoga Tuhan mengijinkan
krisis moneter ini agak lamaan sedikit.

Pun demikian dengan sektor-sektor lainnya. Jika mereka ini benar-benar
menyelenggarakan kegiatan bisnisnya berdasarkan apa yang berlaku di pasar,
maka pasti mereka segera akan tahu, hal-hal apa yang mereka perlukan untuk
mendorong layar lebih kencang melaju, serta hambatan-hambatan apa sajakah
yang membuatnya termehek-mehek.

Yang muncul justru teriakan-teriakan yang terlalu dangkal, dan sangat umum.
Mestinya, masing-masing pelaku bisnis segera membuat penelitian, mengenai
hal-hal apa sajakah yang mereka perlukan, dan apa yang menurut mereka perlu
dikurangi atau ditiadakan, per masing-masing tipikal bisnis yang mereka
jalani. Kalau perlu, sebut peraturan pemerintah yang mana, nomor dan perihal
apa, lalu blejeti apa-apa yang salah. Kalau perlu sekalian sama edaran dari
pemda, atau aparat setempat, dan tindakan-tindakan mereka yang tak patut.
Sebut saja.

Ekonomi yang tak jalan akhirnya lebih banyak tergantung kemauan para pelaku
ekonomi itu sendiri. Pemerintah, siapa pun, hanya berfungsi menyediakan
fasilitas saja. Kalau pun dirasa menghambat, maka segera serbu dengan
keberatan-keberatan. Contohnya mengenai Keppres soal pengaturan IT,
multimedia, dan Internet. Sebaik aturan itu dirasa tak betul, maka e-mail
sang dirjen pun segera penuh dengan keberatan. Cuma berlangsung beberapa
bulan saja, maka Keppres itu batal sudah.

Mestinya kita semua fair, untuk tak cuma menuntut jatah enaknya saja, tetapi
juga harus punya kepedulian dengan hal-hal yang menuntut kerja ekstra keras.
Jangan cuma keluar dalam bentuk statemen yang nyaris tak ada manfaatnya sama
sekali seperti itu. Jika selama ini kelompok pengusaha yang lebih merasakan
madu dari bergulirnya ekonomi, mestinya mereka juga harus turun dengan
tindakan-tindakan nyata, membantu pemerintah. "Tiga bulan lagi harus beres',
katanya. Lha kalau tidak ? tentu bagi mereka tak akan apa-apa, wong duit
mereka juga berlipat-lipat, kok. Kipas-kipas.


______________________________________________
FREE Personalized Email at Mail.com
Sign up at http://www.mail.com/?sr=signup


->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke