Seorang ex-Dosen saya yang alumni ITB pernah cerita, di ITB (dulu) yang namanya
perploncoan, benar2x luar biasa. Kalau cuma 2 orang mati  per angkatan aja sih,
biasa. Seorang teman saya yang alumni ITB juga, yang lulusnya belum lama, juga
menceritakan hal yang sama. Mungkin kalau ada rekan2x yang dari ITB bisa
mengkonfirm-nya disini.

Yang menarik dari cerita ex-dosen saya tsb, perploncoan yang habis2x an tsb
perlu, untuk men-drain semua energi calon mahasiswa, agar tidak lagi egonya yang
tersisa. Dalam keadaan luluh-lantak, lemah tak berdaya, kosong seperti itulah,
seseorang mampu diisi dengan apa saja, sehingga bisa menyerap sebanyak-banyaknya
ilmu yang diberikan. (Lagi)  kalau ada rekan2x yang lebih mendalami psikologi
mungkin bisa  memberikan tambahan, atau sanggahan.

Diperusahaan tempat saya bekerja juga menyelenggarakan pendidikan untuk jurusan
Listrik dan Mesin selama tiga tahun. Dulu, sebelum tahun 1992, yang dididik
adalah anak2x tamatan smp dengan alasan hampir mirip seperti pada perploncoan,
bahwa anak2x pada umur sekian masih kosong, ego nya belum tinggi, sehingga masih
bisa dididik dengan disiplin dan aturan baru dengan lebih mudah. Entah juga apa
alasannya sejak tahun 1992 diubah jadi tamatan sma.

Lepas dari alasan2x diatas, perploncoan memang selalu jadi pertanyaan tiap
tahun, terutama oleh orang tua mahasiswa2x baru. Kok mereka nggak mempertanyakan
lagi ya tahun depannya ketika anak2x mereka mulai ikut memplonco?

Tapi kita pernah nggak menyadari bahwa memplonco adalah salah satu cara latihan
untuk tau enaknya jadi orang yang berkuasa? Makanya negara kita seperti ini,
semua orang haus kekuasaan, lha wong sejak mahasiswa sudah diajari tentang
enaknya berkuasa dan semena-mena...

"Daniel H.T." wrote:

> Membaca dua surat pembaca di Jawa Pos, Sabtu, 23 September 2000 ("Ospek ITS
> Berbau Kolonial?" dan "Mahasiswa, Mengapa Ada Perpeloncoan?"), menimbulkan
> dua ironi, selain ironi yang sudah disinggung dalam kedua surat pembaca
> tersebut). Surat yang dimaksud adalah yang mempersoalkan mengapa sampai saat
> ini perpeloncoan yang vulgar dan jelas-jelas melecehkan harkat manusia masih
> saja terus dipraktekkan oleh mahasiswa-mahasiswa senior -- yang notabene
> sering rajin menyuarakan penegakan hak asasi manusia. Padahal larangan
> perpeloncoan yang memang tidak ada gunanya itu sudah dilarang pemerintah.
> Anehnya, baik pemerintah sendiri (c.q. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan)
> dan pimpinan perguruan tinggi yang bersangkutan tidak berbuat apa-apa
> melihat pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan di depan mata.
>
> Ironi pertama  adalah dari dua surat pembaca tersebut, kita ketahui,
> ternyata praktek-praktek perpeloncoan yang melecehkan harkat dan martabat
> manusia (dalam hal ini para mahasiswa baru) itu masih terus berlangsung.
> Padahal larangannya bukan baru berlaku tahun ini, tetapi sudah beberapa
> tahun lalu (sekitar tahun 1984!). Tetapi, dari tahun ke tahun masih saja
> terdapat praktek demikian di beberapa perguruan tinggi (baik swasta, maupun
> negeri). Bahkan korban jiwa sempat jatuh. Tetapi, yang berkompeten di bidang
> pendidikan seolah-olah menutup mata dan telinga. Maka, larangan pemerintah
> tadi hanya bagaikan macan ompong belaka.
>
> Ironi kedua adalah soal pemuatan surat pembaca itu sendiri. Redaksi Jawa Pos
> mempunyai kebijakan bahwa untuk setiap surat pembaca yang dimuatnya,
> penulisnya harus bersedia dimuat nama dan alamatnya secara jelas. Namun,
> khusus untuk kedua surat pembaca tersebut Redaksi melakukan "langkah
> pengamanan" dengan mengrahasiakan nama dan alamat penulisnya. Catatan
> Redaksi Jawa Pos menulis: "Surat ini ditulis seorang dengan nama dan alamat
> yang lengkap. Namun dengan alasan untuk keamanan anaknya yang sedang ikut
> Ospek, penulis minta nama dan alamatnya tidak dicantumkan."
>
> Membaca ini, timbul kesan kok seolah-olah kita ini sedang berhadapan dengan
> sesuatu (institusi) yang patut ditakuti, kalau tidak mau dibilang
> seolah-olah seolah-olah sedang berhadapan dengan suatu institusi premanisme.
> Sampai-sampai (saking takutnya) nama dan alamat penulis harus dirahasiakan.
> Padahal yang dihadapi adalah suatu institusi intelektual yang punya nama
> besar di negeri ini.
>
> Berikut kedua surat pembaca dimaksud:
>
> Ospek ITS Berbau Kolonial?
>
> Mencermati pelaksanaan Ospek ITS tahun 2000, ternyata hanya berisi acara
> yang itu-itu juga: Hukuman fisik, caci maki dan sumpah serapah dari senior.
> Ini menimbulkan tanda tanya besar: Mengapa para pimpinan institut terkesan
> tidak berdaya menghadapi penyimpangan pelaksanaan Ospek di lapangan? Mengapa
> para mahasiswa senior itu, yang mengaku sebagai pejuang reformasi dan
> pembela hak-hak asasi manusia justru melakukan hal-hal yang bertolak
> belakang dengan semangat reformasi dan penghormatan dan penegakan hak-hak
> asasi manusia?
> Sungguh ironis sekali. Di zaman reformasi ini masih ada institusi pendidikan
> negeri yang melestarikan tradisi kolonial yang identik dengan pembodohan
> bangsa, dan terkesan seolah-olah itulah satu-satunya metode untuk membentuk
> jiwa korsa dan kebanggaan terhadap almamater. Apalagi yang melakukan itu
> adalah mahasiswa senior yang sering berteriak jika ada pihak lain yang
> melanggar hak-hak asasi manusia. Mengapa tidak dicarikan cara lain yang
> lebih bermutu, mendidik, dan manusiawi untuk mendidik mahasiswa baru?
>
> Nama dan alamat pada redaksi
> Catatan Redaksi:
>
> Surat ini ditulis seorang dengan nama dan alamat yang lengkap. Namun dengan
> alasan untuk keamanan anaknya yang sedang ikut Ospek, penulis minta nama dan
> alamatnya tidak dicantumkan.
>
> Mahasiswa, Mengapa Ada Perpeloncoan?
>
> Pada 17 September 2000 kami mengantar adik mahasiswa baru ITS yang
> diharuskan berkumpul di kampus untuk suatu acara bagi mahasiswa baru. Di
> kampus itu kami lihat ada kegiatan "perpeloncoan" bagi mahasiswa baru.
> Mereka "gundhul plonthos" direndam di sungai kotor yang ada di kampus,
> "briefing" oleh senior-senior di terik matahari, dibentak-bentak, dan
> sebagainya.
> Ternyata pada Sabtu dan Minggu yang semestinya libur, juga dilangsungkan
> kegiatan-kegiatan perpeloncoan dengan berbagai istilah baru. Sampai kapankah
> hal ini berlangsung? Bukankah kegiatan-kegiatan seperti ini semestinya sudah
> tidak boleh lagi dilaksanakan?- Apakah kegiatan ini di bawah tanggung jawab
> pimpinan lembaga pendidikan? Terima kasih.
>
> DIAN HANDAYANI, alamat pada redaksi.
>
> ->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!


->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke