>Kompas, Sabtu, 23 Desember 2000

Amien Rais Saksikan Praktik Kerukunan di Minahasa

PENGALAMAN menarik dan langka ditemukan Ketua MPR RI Amien Rais ketika
menghadiri perayaan Natal di Gereja Sentrum Tondano, ibu kota Kabupaten
Minahasa, Sulawesi Utara, Selasa (19/12). Amien tak kuasa menahan rasa haru
yang dalam saat menyaksikan kelompok Qasidah Kampung Jawa Tondano
menyanyikan lagu Torang Samua Basudara dalam perayaan Natal yang juga
dihadiri oleh para ulama Muslim.
Kelompok Qasidah, kumpulan para anak cucu Pangeran Diponegoro dan Kyai
Madja, dengan ceria menyampaikan pesan-pesan perdamaian secara bergantian
dengan kelompok koor Gereja Sentrum. "Torang samua basudara dan mari torang
baku-baku bae dengan baku-baku sayang (Kita semua bersaudara, mari saling
berbaikan dan saling menyayangi)," demikian salah satu bait lagu yang
didendangkan Qasidah Kampung Jawa Tondano dalam bahasa daerah Tondano.

"Saya betul-betul terharu menyaksikan praktik kehidupan rukun dan damai
masyarakat di tempat ini. Sungguh, ini menjadi pengalaman yang amat berharga
bagi kita semua," ujar Amien dalam nada kalimat yang bergetar saat diminta
menyampaikan pidatonya.

Alunan lagu Rukun dan Damai yang kental dengan pesan-pesan perdamaian
menyambut kehadiran Ketua MPR RI Amien Rais dan rombongan, di antaranya
Sekjen Partai Amanat Nasional (PAN) Hatta Radjasa, terlihat juga Bupati
Minahasa Dofie Tanor, Ketua DPW PAN Sulut Prof Dr AE Sinolungan SH, sejumlah
tokoh Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM), dan sejumlah ulama Muslim.

"Luar biasa, sebab ternyata wujud persaudaraan di sini bukan sekadar slogan
tetapi hidup dalam praktik nyata. Ini akan saya ceritakan ke tempat-tempat
lain," ujar Prof Sinolungan mengutip Amien Rais. Ini mestinya, kata Amien
Rais, dijadikan contoh yang bagus bagi daerah-daerah lain yang kini dilanda
pertikaian dan perang saudara.

"Pak Amien sudah memperlihatkan contoh yang sangat bagus bahwa dirinya
adalah seorang pemimpin yang mengedepankan pluralitas. Dirinya (Pak Amien)
tidak seperti dugaan orang selama ini," kata Prof Sinolungan yang mantan
Rektor IKIP Manado.


***
KETUA MPR RI Amien Rais dan rombongan tiba di Manado Senin 18 Desember. Dari
Bandara Sam Ratulangi, Amien langsung menuju lokasi korban bencana banjir
Kelurahan Ternate Baru dan Ketang Baru Manado. Di sana Amien Rais yang juga
Ketua Umum DPP PAN menyerahkan bantuan Rp 300 juta. Ia kemudian menelusuri
rumah-rumah penduduk, memasuki lorong dan gang-gang yang becek. Kepada warga
yang tertimpa bencana, Amien berdialog dan menyampaikan harapan-harapan ke
depan. Malam harinya ia berbuka puasa dengan warga Muslim Manado.

Di Tondano, sebelum menghadiri perayaan Natal di Gereja Sentrum, Ketua MPR
RI itu melaksanakan buka puasa bersama warga Muslim Kampung Jawa Tondano.
Disebut Kampung Jawa Tondano, sebab cikal bakal dan seluruh penduduk warga
kampung itu adalah warga keturunan Kyai Madja dan Pangeran Diponegoro yang
dibuang Belanda ke Tondano pada tahun 1800-an.

Kyai Madja dan keluarga serta pengikutnya tetap tinggal di Tondano,
sementara Pangeran Diponegoro dipindahkan Belanda ke Makasar, sebab Belanda
mencurigai telah mulai terjalin hubungan erat antara Diponegoro dengan warga
Minahasa.

Dugaan Belanda benar, sebab setelah itu terjadi perkawinan antara keturunan
Kyai Madja dengan warga Minahasa. Warga pendatang ternyata tidak sedikit pun
mengalami hambatan dalam mengembangkan agama yang diyakininya, Islam.
Pertemuan dan hidup bersama Muslim Kristen di Tanah Minahasa berlangsung
secara alamiah hingga sekarang. Bahkan, warga Kampung Jawa Tondano sudah
menyebar ke berbagai pelosok Minahasa, terbukti dengan hadirnya kampung Jawa
Tomohon di Tomohon, di Gorontalo, dan di berbagai tempat lain.

Di Tondano, Amien Rais menyerahkan bantuan untuk pembangunan sejumlah mesjid
dan gereja. Di hari terakhir kunjungan kerja itu, ia menyempatkan diri
mengunjungi kelompok nelayan di Kota Bitung. Selain berdialog, Amien juga
menyerahkan bantuan modal sebesar Rp 60 juta untuk kelompok nelayan.

Beberapa saat sebelum meninggalkan Bandara Sam Ratulangi Manado, Amien Rais
kepada wartawan mengatakan, banyak hal positif yang diperolehnya selama
berada di daerah Nyiur Melambai. Salah satunya, ketegaran dan tekad warga
Sulut untuk menjaga keutuhan dan integritas bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara.

Amien Rais sendiri di mata dan benak para tokoh Kongres Minahasa Raya adalah
seorang sahabat, sebab ketika delegasi Kongres Minahasa Raya menemuinya di
Gedung MPR RI saat berlangsung Sidang Tahunan MPR Agustus 2000, langsung
menyatakan sikap tegasnya terhadap keutuhan Negara Kesatuan RI (NKRI). Di
tengah kesibukan memimpin sidang-sidang di MPR waktu itu, sempat dua kali ia
menerima dan berdialog dengan para tokoh Kongres Minahasa Raya.

Mengomentari adanya kelompok yang belum puas dengan kiprahnya selama ini,
dengan senyum khasnya ia mengatakan, kalau seluruhnya berjalan mulus, juga
nantinya disebut rekayasa. Wajar saja, katanya. (Freddy Roeroe)




................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com 















Kirim email ke