Kemarin dulu aku menulis tentang alang-alang.
Beberapa rekan netters menanggapinya sebagai
posting sindiran untuk tingkah-laku berpolitik.
Aku sendiri bingung, apa iya aku mampu membuat
analogi politik dengan cerita alang-alang dan
putri malu? Ah, ini paling faktor kebetulan saja bahwa
ada beberapa rekan yang tajam teropongnya sehingga
mampu menganalogikan alang-alang dan putrimalu
itu dengan tokoh yang dianggap bandel, hijau melulu
walaupun kering, dan ada yang seperti putri malu, yang
berduri, malu-malu, tetapi ganasnya minta ampun dalam
menguasai lahan atau ruang tumbuh.
Ada pula yang bertanya menggoda, lantas siapakah
singkongnya yang dengan kesuburan tanah
diteorikan mampu mengalahkan kebandelan
alang-alang dengan jalan menaunginya dari
cahaya matahari kecintaannya. Ah, biarlah
semua memang terserah persepsi dan penerimaan
masing-masing.
Kini aku ingin menampilkan sosok rerumputan lain
yang juga dikenal bandel dalam berebut fasilitas
tumbuh dan berproduksi dengan tanaman pangan
terutama jagung dan padi gogo. Apalagi dia senang
hidup di lahan gembur cenderung berpasir. Mungkin
berkaitan erat dengan cara penyebarannya yang
bergerilya dari bawah tanah dengan organ semacam
CORM (akar gendut berpati banyak). Dialah teki
atau Cyperus rotundus.
Konyol memang gulma ini. Pada lahan gembur dia
subur, bahkan kecepatan tumbuhnya mengalahkan
tumbuh bibit-bibit lemah padi gogo, jagung atau kedelai
dan kekacangan yang lain. Suasana agak teduh
juga malah memperhebat etiolasinya, sehingga
kecepatan "nlolornya" menjadi-jadi.
Benarkah demikian?
Ah, mungkin karena si gulma teki ini berhak tumbuh
rame-rame menjarah fasilitas hidup bibit-bibit lemah
yang terpaksa ditanam individual atau paling banyak
bertigaan selubang. Tapi apa betul, kan kata orang
teki-teki itu mengeluarkan senyawa ALELOPATIK
di perakarannya yang menolak atau paling tidak
"mengintimidasi" akar-akar bibit tanaman kesayangan
manusia. Yah, memang bisa juga menebar benih rapat-2
untuk menekan si teki itu, tapi apa ekonomis? Ngawur
kalau tetap melakukannya bukan?
Mendingan meniru petani di daerah Bantul atau Wonosari
sana yang telah mengembangkan kreativitasnya mengolah
umbi-umbi teki sialan itu menjadi EMPING. Kreativitas
kolektif karena keterpaksaan menghadapi PACEKLIK.
Yaah.. rupanya inilah kunci kelemahan si teki. Diberantas
dari akrnya yang sumber cadangan makanan, yang sumber
alelopatik, yang menjadi oknum gerilya penangkarannya...
dimakan saja, sebelum umbi-umbi itu memakan akar
tetangga tanaman pangan kita. Atau setidaknya, kita
rebus umbi-umi itu dengan dicampur nenas muda dan
sedikit gula aren, untuk jamu "pengempis" radang AMANDEL
atau dicampur beras kencur, katanya sih dapay menyaringkan
suara. Apa betul?
salam,
Fukuoka Kitaro
----------------------
MOSOK NDHAK MAMPU?
................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com
