Dari detik.com, Fuad Bawazier mengatakan bahwa pemerintahan GD telah gagal menciptakan rasa aman untuk rakyat. Sebelumnya, Ketua DPR Akbar Tanjung mengatakan bahwa jangan menuduh Orba dibelakang peledakan bom di malam natal kalau tidak mempunyai argumentasi mendasar. Pernyataan dua orang tokoh yang dulu cukup dekat dengan pusat kekuasaan masa lalu itu menarik untuk dikaji. Pernyataan Fuad jelas menyiratkan bahwa ada kekuatan yang melebih kemampuan aparat keamanan dibawah pemerintahan GD sehingga pemerintahan GD tidak bisa mengantisipasinya atau menangkalnya. Sedang Akbar Tanjung menepis tuduhan bahwa Orba terlibat tanpa argumentasi mendasar. Secara implisit Akbar tidak ingin terbentuknya opini Orba terlibat tanpa pembuktian terlebih dahulu bila argumentasi mendasar itu dimaksudkan sebagai bisa diperttanggungjawabkan atau bisa dibuktikan. Sayang sekali, bangsa ini sudah terlanjur kenyang melihat teater perngadilan dimana mereka yang diduga terlibat bebas. Artinya, tidak cukup bukti bahwa mereka yang diduga terlibat itu bersalah. Dus, sebenarnya tidak ada argumentasi mendasar yang bisa digunakan untuk menunjuk seseorang terlibat. Kasus Udin di Yogya dimana ada yang terbunuh namun pelakunya tidak ada padahal skenario pembelokan perkara melalui Iwik sudah terbukti di pengadilan dimana Iwik bebas, artinya pembuat skenario pembelokan itu logis pasti memiliki kaitan atau informasi. Namun kenapa tidak kunjung tergelar? Kasus Bank Bali yang baru saja digelar dimana semua terdakwa bebas. Lalu 540 milar itu lari kemana? Lalu kesaksian bambang Subianto dan Glen Jusuf itu merupakan argumentasi mendasar atau hanya asal cuap? Jadi, apa yang dikatakan oleh Fuad Bawazier memang sudah diakui oleh GD jauh sebelum peristiwa pemboman itu GD mengatakan bahwa ada kekuatan yang besar dengan dukungan dana yang besar hendak membuat negeri ini tidak aman. Artinya, ucapan Fuad dibenarkan oleh GD. Masalahnya siapa kekuatan besar itu, dari mana dana besar itu diperoleh, dan untuk tujuan apa pengeboman itu dilakukan? Nah, ketika semua orang berusaha untuk menahan diri dan mengutuk perbuatan itu, kenapa Akbar membela diri dan Fuad menyalahkan ketidakmampuan pemerintahan GD? Apakah karena Akbar merasa perlu membela diri dan Bawazier merasa perlu mengambil posisi di saat yang tepat? Akbar boleh saja menepis dan Fuad boleh saja berkomentar mengenai ketidakmampuan pemerintah GD, namun fakta sejarah telah menunjukkan bahwa ada korelasi positif antara tekanan terhadap kekuatan masa lalu dan kerusuhan yang terjadi. Orang akan dengan mudah membuat konotasi pemboman itu dengan penangkapan Tommy yang dijadwalkan akhir tahun ini tanpa argumentasi yang mendasar. Adalah sangat manusiawi bila sikap bertahan individu atau kelompok muncul ketika kemapanan, kekuasaan, dan kekayaan diambil dari diri mereka dan bahkan terancam untuk dibuka. Sikap bertahan itu bisa positif dan bisa pula negatif. Apa yang terjadi barusan adalah sikap bertahan yang negatif. Korbannya nggak tanggung-tanggung adalah kelestarian bangsa dan negara ini. Tidak bisa dipungkiri, mesin uang Orba muncul karena KKN. Mereka yang dulu berusia 25 tahunan dengan satu celana ketika mengawali karirnya kini tentu saja telah berusia 57 tahun dengan kekayaan yang luar biasa. Kredit macet luar biasa panjang daftarnya. Usia disekitar itu kebawah hampir mendominasi penjabat dan pengusaha. Dengan kata lain, mereka besar selama Orba. Apakah semua itu diperoleh dengan cara yang wajar? Itulah masalahnya. Tubuh tidak akan sakit dipegang kalau tidak luka, demikian pepatah mengatakan. ................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia............... Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com
