AM Fatwa : Menteri Ondel-ondel

Lagi, sifat 'urik', kata orang Jawa, atau 'cunihin'
Sunda bilang, menghasilkan sebuah komentar, 'menteri
ondel-ondel'. Bisa diartikan, bahwa maksudnya adalah
'sekedar pajangan', bukan benar-benar seorang menteri,
yang punya kekuasaan untuk mengambil kebijakan.
Ungkapan 'urik' tersebut dilontarkan oleh AM Fatwa,
salah seorang dari kelompok, yang selalu mengambil
sisi berlawanan terhadap Gus Dur, apa pun soalnya.
Jika ada sesuatu kasus, di mana melibatkan Gus Dur,
maka ia akan berada di pihak berseberangan dengan
siapa yang sedang 'melawan' Gus Dur tersebut.

AM Fatwa adalah seorang politikus, karena ia memang
berada dalam domain politik. Namun jika diperhatikan,
tak banyak yang bisa kita ambil dari sikap politiknya.
Soalnya, ia sendiri adalah bukan politisi 'dari
sononya', tetapi hanya 'beruntung' karena pernah
dipenjarakan Soeharto. Jika kemudian ia pernah
bergabung di kelompok Petisi 50, itu tetap tak pernah
membuat justifikasi bahwa ia benar-benar seorang
politikus. Tampak sekali kalau ia muncul di layar
teve, lalu dicecar oleh pewawancaranya. Ia akan lebih
banyak mengiyakan saja apa statemen yang dipancingkan
oleh pewawancaranya. Acapkali bahkan ia tak tahu,
kalau si pewawancara tersebut berbuat 'nakal', dengan
membuat berbagai statemen yang secara substansial
rada-rada berbalikan.

Ketidakgenahan pemikiran politiknya pun terlihat
arut-marut, ketika ia harus berhadapan dengan Faisal
Basri, yang bertarung dalam arena politik partai PAN.
Komentar-komentar Fatwa sama sekali tak mencerminkan
sesuatu yang cerdas. Boleh dikata, kadar politis yang
ia miliki sangat di bawah standar minimal.

'Nama besar' yang ia peroleh, karena ia pernah
dipenjara oleh Soeharto, namun belakangan ia bukan
main terimakasihnya kepada Habibie yang tak lain
adalah 'murid' Soeharto, membuat ia seolah-olah
memiliki karcis untuk naik ke peringkat atas papan
catur politik Indonesia. Dan dengan demikian ia
terlegitimasi untuk membuat pernyataan-pernyataan
politis, dan bisa dianggap 'layak muat' bagi media
masa.

Pernyataannya mengenai 'menteri ondel-ondel', bahkan
telah digunakan oleh istri Prof Ichlasul Amal, yang
'karena AM fatwa menyebut menteri sekarang tak lebih
sekedar ondel-ondel, tak mungkin Prof Ichlasul Amal
mau jadi ondel-ondel'.

Ungkapan 'urik' nan 'cunihin', karena diucapkan oleh
seseorang yang punya posisi politik cukup tinggi, maka
lalu seolah-olah menjadi benar. Sementara itu, apakah
juga ia bukan seorang 'politisi ondel-ondel', yang
sama sekali tak memiliki kemampuan sumbangan politis
yang berharga bagi bangsa?

Seorang menteri adalah 'hanya' sebagian dari komponen
sebuah kepemerintahan. Dia bukan seseorang yang super,
yang mampu membuat beres semua persoalan negeri ini.
Kementeriannya hanya akan merupakan sebuah komponen
saling melengkapi dengan kementerian lainnya, bahkan
harus rela berbagi peran dengan eselon birokrasi yang
ada di bawah, hingga ke tataran pemerintah daerah.
Masih belum cukup, ada komponen yang lebih besar lagi,
kepentingan publik negeri ini.

Kebijakan yang kemudian berlaku di masyarakat, lebih
cocok untuk dibilang sebagai 'kebijakan pemerintah',
dan bukan 'kebijakan Departemen Perhubungan',
lebih-lebih 'kebijakan Agum', 'kebijakan Surjadi
Sudirdja', dan semacam lainnya. Lihat saja, setiap
menteri berbicara, selalu mengatakan 'pemerintah
memutuskan......', dan bukan 'Departemen Perhubungan
memutuskan...', lebih-lebih 'Agum memutuskan...'.

Jika meskipun menteri yang membuat kebijakan, lalu
kemudian disebut kebijakan pemerintah, atau jika
seorang menteri menjalankan kebijakan yang sudah
digariskan oleh pemerintah, tak bisa dengan
serta-merta itu sebagai 'menteri pajangan' yang
'ondel-ondel'. Sebab, begitulah aturan main sebuah
tim. Sepakbola saja ada posisi-posisi-nya
masing-masing. Yang dipasang sebagai 'bek' tak boleh
ngawur dengan merangsek ke depan meninggalkan
perannya. Atau kiper yang merasa tak enak dengan
teman-teman lainnya, karena lebih banyak diam di
belakang saja itu.

Pemerintahan Gus Dur saat ini mewarisi situasi yang
sangat kritis di semua lininya. Sungguh sesuatu yang
konyol, jika Gus Dur meniru model pemerintahan Orba
saat-saat terakhirnya, yang enak saja menunjuk orang
untuk jadi menteri tanpa catatan keahlian yang cukup
sebelumnya. Bob Hasan memang jago dagang, walau masih
ada catatan adanya berbagai kemudahan seorang kroni.
Tapi itu tak cukup untuk mendudukkan dia sebagai
Memperindag. Juga Tutut. Dapat dipastikan, semua
menteri yang diangkat, harus siap kerja keras, sangat
keras bahkan, untuk mampu membawa nasib bangsa ini
agar lebih baik. Jika tingkat kerja-keras-nya tersebut
ternyata tak seirama dengan keinginan kerja-keras yang
diharapkan oleh pimpinan pemerintah, bisa karena
terlalu keras atau kurang keras, atau cukup keras tapi
arahnya berlawanan, maka jangan aneh kalau ada
perombakan kabinet. Dan itu bukanlah sebuah kondisi
yang pantas dicap sebagai 'ondel-ondel'.

Aktivitas menteri tak harus memerlukan publikasi. Toh
begitu tak usah kuatir mereka tidak bekerja keras.
Sebab, kondisi negeri ini memang sudah berantakan.
Ibarat kapal, terlalu banyak lubang yang membuatnya
rawan tenggelam. Saya amat yakin, semua menteri sudah
bekerja sangat keras. Pemilihan dirinya untuk duduk di
suatu posisi adalah sebuah amanah yang harus
dijawabnya dengan kerja keras. Apakah hanya karena tak
muncul di media masa lalu disebut ia tak kerja?
Ondel-ondel? Atau kalau ia berani 'melawan' Presiden
lalu ia pantas disebut seorang yang berintegritas?

Dalam kemelut bangsa yang dirusak oleh Orde Baru,
melalui mekanisme legislatif yang dimotori oleh Golkar
sepanjang tiga puluh tahun, maka sebaiknya komitmen
diletakkan kepada penyelamatan tenggelamnya sebuah
bangsa bernama Indonesia. Jika karena terlalu
bersemangat, lalu ada orang yang tersenggol oleh teman
lainnya, tak seharusnya menyurutkan tekadnya untuk
tetap berupaya menyelamatkan bangsa ini. Lebih-lebih
terhadap mereka yang memiliki kesmepatan untuk
memegang posisi penting untuk berperan dalam
upaya-upaya darurat ini. Di bagian ini saya
menyesalkan Ryaas Rasyid yang tidak sabar, justru
ketika memiliki peran yang cukup diandalkan. dan di
bagian ini pula saya menyesalkan AM Fatwa yang tak
pernah menyadari kemampuan dirinya dan enak saja
'berak' di sembarang tempat.

=====
Sugih durung karuwan, sombong didisikno...

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Yahoo! Photos - Share your holiday photos online!
http://photos.yahoo.com/

................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com 















Kirim email ke