Sekwilda Kabupaten Klaten (nama kota samaran), 
Drs. Lanjar, SPd adalah teman sekolah Klowor, anak 
Mat Pithi. Hanya nasib yang menentukan bahwa Klowor 
harus puas sebagai lulusan SMU, sedang Lanjar mampu 
memetik sarjana, doktorandus. Malah kesarjanaannya 
menjadi dobel ketika juga menyandang SPd, karena beliau 
diharuskan menempuh pendidikan di UT fakultas 
pendidikan, setelah diangkat sebagai Kepala Sekolah
SD, Sengkapura. (Lha dulu Drs-nya dari ilmu karawitan,
wong gelar SKar belum tercipta, pada jaman akhir
dinasri Suhartonotonegoro). Untung saja SD Sengkapura
mau menerima dan mengupayakannya menjadi guru
PNS.

Nasib lagi membawa dia sebagai tokoh PDI-P menduduki
jabatan itu, karena partai ini memenangi dan mendominasi
anggota DPRD. Namun sial segera menghantui dirinya,
ketika Otonomi Daerah diberlakukan mulai 3 hari yl.
Kenapa?
Pasalnya pada kesempatan Ramadhan yang lalu dia
pernah pusing diberi tugas untuk menggagas menciptakan
pendapatan daerah. Dia ingat teman baiknya yang pinter
dan berwawasan luas (sayang sekalilagi, hanya sempat 
lulus SMU) Klowor bin Pithi.
Dia bertanya kepada Klowor:
"Wor, gimana tahun depan ya, untuk menyambut dan
melaksanakan Otonomi Daerah kita, Klaten ini"
"Masalahnya apa? Otonomi ya tinggal otonomi saja
to nJar"
"Bukan itu, ini lho buat ningkatken pendapatan daerah
ini, lho"
"Lho, apa hubungannya otonomi dengan pendapatan?"
"Walah, biasanya kau ini kan luas wawasannya, mosok
masalah otonomi yang akhirnya menjadi rebutan
rejeki daerah itu kok kau ndak tahu?"
"Waaa... lha aku sekarang ndak mikir dakik-dakik lagi
kok. Sing penting merasa sejahtera, meski ndak makmur
kayak kamu kan beres to? Lha potensi daerah kita
ini apa? Sudah diinventarisasi belum?"
"Sudah. Malah waktu nyusun DAU, masih tekor tuh,
mangkanya pak Bupati menugasi aku sak wadyabala
buat ningkatken pendapatan daerah, gitu lho"
"Lha menurutmu gimana?"
"Setelah tak coba pelajari, tinggal intensifikasi pajak
tu Wor!"
"Heee.... blaik koen.. sontoloyo... jangan. Jangan itu,
kecuali mau merangsang revolusi, gitu..."
"Lhoh, nalarnya?"
"Wooooo, dasar bukan pengamat ekonomi dan sosial,
jadi Sekwilda..... jelas toh, kalau pajak naik, ya otomatis
harga-harga naik, daya beli turun, kan pajak erat dengan
dunia usaha, dunia bisnis.. ngono lho"
"Halah... wong yang mau tak intensifkan itu masalah
retribusi kok... misalnya retribusi kendaraan umum,
yang masuk Klaten, harus mbayar"

"Lho.. lak gebleg. Terus nanti setiap kendaraan dari
luar bayar pajak, lha kan biaya angkutan nambah.
terus nanti ditiru sama Kab. Boyolali, kendaraan 
masuk situ pajek....  dan seterusnya...."
"Lha apa mengandalkan pertanian ya Wor?"
"Nek kudunya gitu... tapi, wong sawahnya Den Lurah
kemarin yang 20 hektar gagal panen, dimakan tikus"
"Lho, kan sudah ada abasti, ada racumin ada macem-2
to Wor"

"Lha memang iya, tapi siapa yang mengerjakan? Wong
sudah nggak ada yang mau turun ke sawah? Malah,
sawah-sawah di pinggir jalan aspal desa kita ini, 
paling sebentar lagi berubah jadi gedung-2 dan
pabrik-pabrik yang tidak produktif"

"Wah, ya repot ya Wor ya kalau otonomi daerah
hanya diartikan rebutan rejeki? Apalagi hanya 
dianggap sebagai konsepsi seorang menteri yang
berencana mundur, gara-gara konsepsinya tidak
klop dengan presiden?"

"Lha iya.... herannya aku juga belum tahu kok,
konsepnya itu kayak apa, terus bedanya dengan
presiden itu yang di mana, kan sama-sama
munyuk-munyukan, kalok gini ini... Wis lah nJar,
mending nglaras Campur Sari Cong-Dhut
Didi Kempot lak enak tah?"

Sewu kutha wis tak .....




................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com 















Kirim email ke