KONTAN  EDISI 15/V Tanggal 8 Januari 2001

  Arief Budiman:
"PDIP, Golkar, dan Tentara akan Berkoalisi"
Pemerintahan Gus Dur selama setahun tiga bulan ini penuh dengan
gonjang-ganjing. Suasana tenang hanya seumur jagung, selebihnya adalah
ketegangan demi ketegangan politik. Beberapa kali kabinet dibongkar pasang,
toh kepercayaan rakyat pada pemerintah kian surut. Sebaliknya, elite-elite
politik terus bertikai, kerusuhan terus saja meletus, begitu pula tuntutan
merdeka di beberapa daerah.

Memang, siapa pun pemerintahnya akan sulit mengobati negara yang sudah parah
sakitnya ini. Tapi, banyak yang makin percaya di bawah Gus Dur ini nasib
negara juga makin terombang-ambing. Kepemimpinannya dinilai amburadul, tidak
pedulian, sehingga hasilnya adalah governless.
Bagaimana jalan keluarnya agar negara bisa selamat beserta agenda
reformasinya? Apakah harus menunggu sampai tahun 2004 tapi negara tetap
tidak stabil? Apa yang terjadi bila Gus Dur dipaksa turun sebelum masa
jabatannya habis? Untuk mengurai permasalahan inilah wartawan KONTAN Bagus
Marsudi mengontak Arief Budiman, yang kini mengajar sosiologi di Melbourne
University, lewat telepon pertengahan Desember lalu. Arief cukup lama
mengenal sosok Gus Dur dari dekat, tapi dengan posisinya sekarang ini dia
bisa membaca konstelasi politik Indonesia secara lebih netral.

KONTAN: Apa catatan Anda terhadap pemerintahan Gus Dur setahun terakhir?
ARIEF: Masalah Gus Dur itu karena, tampaknya, dia tidak begitu bijak untuk
menjadi pemimpin modern. Memang dia dulu Ketua NU. Tapi, mengelola NU lain
dengan mengelola negara. Akibatnya, dia menjalankan semua cara-cara
kepemimpinan secara tradisional. Di NU dia dipuja seperti wali. Di sini
enggak bisa begitu. Salah sedikit bisa disikat orang-orang. Gus Dur kok
tampaknya enggak sadar.
Mungkin soal mata juga cukup mempengaruhi. Kalau dia bisa melihat dengan
baik, kenyataannya bisa lain. Jadi, Gus Dur seakan hidup dalam dunianya
sendiri. Baru kalau ada bentrokan keras, pendapatnya bisa bergeser sedikit.
Tapi, dia akhirnya balik lagi. Tampaknya, dari keempat pemimpin yang berada
di jalur kekuasaan (Gus Dur, Megawati, Akbar Tanjung, Amien Rais), kita
tidak bisa mengharapkan apa-apa dari mereka semua. Kita perlu ganti yang
lain saja.

KONTAN: Masalahnya, soal kapabilitas atau style yang tidak bisa diterima?
ARIEF: Style-nya bahwa Gus Dur adalah orang yang biasa dihormati dan lebih
tahu dari yang lain menjadi substansi di sini. Makanya Gus Dur cuek saja.
Gus Dur menganut biarinisme, biarin aja. Soal Aceh, misalnya, dia bilang,
"Biarkan saja, itu kan soal waktu." Ya enggak bisa begitu. Waktu itu membuat
berjalan semua jadi tak terkendali. Memang, perlu dilihat juga kondisi
pemerintahan Gus Dur ini kan ibarat memperbaiki mobil rusak. Tapi, kalau dia
bisa nyetir secara lebih baik, barangkali mobil itu bisa lebih baik sedikit.
Jadi, bukan hanya faktor Gus Dur yang membuat jadi jelek. Keadaan memang
sukar sekali. Militernya jalan sendiri-sendiri. Aparatnya masih korup. Tapi,
enggak bisa diingkari, faktor Gus Dur cukup penting. Kalau orang yang
mengelola profesional, keadaannya bisa lebih terkendali. Sebenarnya, Gus
Dur, sih, ide-idenya bagus. Demokrasi jalan. Pluralisme juga bagus. Cuma,
yang tidak saya sangka itu dia bisa terlibat masalah-masalah uang. Saya
kenal dulu, dia tidak peduli soal uang. Ini yang membuat saya kaget. Kok
sekarang menjadi seperti sekarang ini.

KONTAN: Anda yakin Gus Dur terlibat ataukah itu hanya serangan dari
lawan-lawannya saja?
ARIEF: Mungkin juga ada unsur politik. Artinya, dia kan juga mau PKB jadi
besar. Makanya dia main macam-macam. Ini yang mengkhawatirkan saya. Kalau
dulu, sewaktu di NU, soal keuangan kan secure sekali. Jadi, Gus Dur tidak
banyak terlibat dalam soal-soal seperti itu. Tapi yang jadi masalah adalah
kok dia melakukan itu. Kalau yang dia tunjuk adalah orang-orang yang
disenangi saja, tanpa menilai kesanggupannya, itu yang membuat Gus Dur
lemah. Kalau di NU tidak jadi masalah kalau membiayai organisasi itu supaya
dapat banyak uangnya. Tapi, pada negara agak sukar.

KONTAN: Kalau begitu, orang-orang di sekitar Gus Dur pun ikut berperan dalam
kebobrokan pemerintahannya?
ARIEF: Ya, begitu juga. Tapi orang-orang itu kan ditunjuk Gus Dur juga.
Jadi, Gus Dur bertanggung jawab, dong. Dalam wawancaranya dengan Tempo,
Ryaas Rasyid bilang, "Sudah dibilangi begini, tapi Gus Dur balik lagi tak
menepati komitmen." Hal seperti itu di NU enggak apa-apa. Di negara, hal
seperti itu banyak orang enggak suka. Orang seperti Yusril itu kan punya
agenda sendiri. Tapi karena bisa baik dengan Gus Dur, dia dipakai. Waktu
zamannya Soeharto pun demikian. Di depan Partai Bulan Bintang dia pernah
berucap kalau perlu akan mundur, tapi kemudian enggak apa-apa juga.

KONTAN: Seandainya Gus Dur memang ada di balik skandal-skandal itu, apa
target Gus Dur?
ARIEF: Gus Dur itu kan bukan boneka. Dia itu justru dalang betul. Cuma
dalangnya sering tidak berinteraksi dengan kenyataan. Jalan sendiri.
Kelihatannya dia tidak peduli macam-macam. Dikritik maupun dipuji, dia
enggak peduli.

KONTAN: Apa kepentingan Gus Dur terlibat pelbagai kasus itu?
ARIEF: Saya kira untuk PKB. Dia mengambil uang, mungkin intensinya ke sana.
Tapi dia tidak bisa me-manage-nya. Di NU juga, macam-macam sumbangan, tapi
enggak jelas uangnya ke mana. Bukan berarti dia korup. Tapi orang pakai
begitu saja. Dan, banyak orang yang beriktikad baik. Makanya, teman-temannya
yang kelompok Cina itu kalau dia mau menyumbang, dia bilang, jangan nyumbang
Gus Dur dengan uang kontan. Tapi harus proyek saja. Betulin rumahnya,
bikinin pesantren, itu bisa. Kalau nyumbang uang, enggak jelas uangnya akan
ke mana.

KONTAN: Banyak dugaan, para pengusaha mendekati Gus Dur dengan bayaran. Apa
cara ini cukup efektif untuk menaklukkan Gus Dur?
ARIEF: Saya kira begitu. Gus Dur itu enggak ngurusi uang. Kalau konglomerat
begitu, semua pengusaha kalau ada peluang akan begitu. Susahnya, sebagai
seorang kiai, hidup Gus Dur dari dulu berasal dari sumbangan. Hubungan
dengan penyumbang jadi sangat erat, saling menghargai. Di NU, kalau orang
mau menyumbang ke pesantren kan harus ikhlas. Tak ada motivasi di
belakangnya. Kalau sekarang dia jadi presiden, sumbangannya lain lagi.
Kepentingan di belakangnya banyak sekali.
Nah, saya curiga, kalau Gus Dur menerima sumbangan dari para konglomerat.
Hubungan balas budi akan pola kiai tentu terjalin. Satu sikap psikologis
yang menarik. Secara psikologis, Gus Dur itu menarik diteliti.
Bertahun-tahun dia hidup sebagai kiai, putra mahkota yang dipuja-puja yang
membuat dirinya kurang memahami dan mendengar orang.

KONTAN: Apa darah biru kewalian itu juga tercermin kuat dalam cara
memerintah?
ARIEF: Ya begitu. Ada cerita tentang Nabi Khidir yang dipercaya sebagai
wali. Nabi Musa pernah jalan bersama dia. Nabi Khidir memberi syarat, asal
Musa tidak tanya apa pun tentang apa yang dilakukan. Nah, waktu jalan, ada
anak kecil yang tiba-tiba dibunuh Nabi Khidir. Nabi Musa kan bingung, kenapa
dibunuh? Ada tiga kali hal sama diulang. Nabi Musa penasaran ingin tahu
kenapa. Akhirnya Nabi Khidir bilang, anak kecil itu kalau sudah besar nanti
bisa jadi pembunuh. "Kamu tidak tahu, tapi saya tahu," ujar Nabi Khidir,
"Lebih baik saya bunuh daripada banyak korban nantinya."
Di kalangan NU, orang menganggap Gus Dur sebagai Nabi Khidir. Kalau orang
enggak ngerti, itu salah kita. Soalnya, logika kita kan masih logika Nabi
Musa, selangkah di belakang. Itu yang jadi masalah bagi Gus Dur. Orang yang
sudah dianggap wali itu akibatnya membentuk satu keyakinan tersendiri bahwa
dia itu tidak salah.
Tapi Gus Dur aneh juga. Waktu dia belum jadi presiden, dia pernah bilang dia
akan jadi presiden. Itu kan aneh. Waktu itu, maaf, kita hanya bilang, "Udah
buta, gila lagi." Tapi ternyata benar juga dia jadi presiden. Ada ilmunya,
nih. Begitulah Gus Dur. Dia banyak terlalu percaya diri. Kurang mendengarkan
orang. Dan psikologi ini terbentuk karena sudah lama di NU.

KONTAN: Kalau banyak yang tidak memahami Gus Dur, sebenarnya persoalannya
itu ada pada orang yang tidak paham atau memang Gus Dur tidak mampu
menjelaskan?
ARIEF: Saya lebih cenderung melihat dia itu banyak untung. Tindakannya
insting sekali. Saya cukup lama dengan dia. Pikirannya selalu berubah-ubah.
Sampai kita males datang pada Gus Dur. Tapi, kadang-kadang dia pun mujur.
Jadi presiden itu benar-benar suatu kejutan. Buat orang yang percaya, itu
adalah ilmu Gus Dur. Buat saya, dia itu untung saja.

KONTAN: Selama masa pemerintahannya, Gus Dur selalu bersitegang dengan DPR.
Apa ini cerminan sikap rakyat yang berani mengoreksi pemerintah?
ARIEF: Secara formal iya. Tapi saya kira, kita sedang kembali ke tahun
50-an. Saat itu terjadi oligarkhi. Artinya, memang yang elite di DPR yang
mengkritik Gus Dur, semuanya secara formal memang mewakili rakyat. Tapi,
dengan rakyat dia terpisah juga. Akibatnya, mereka menjadi sekelompok orang
yang punya privilese untuk mengatasnamakan rakyat. Dalam hal tertentu, saya
bisa senang DPR-MPR bisa memaki presiden. Tapi tampaknya mereka lebih banyak
mewakili agendanya sendiri.
Dalam hal Gus Dur, mereka marah karena mereka sudah merasa mendukung Gus Dur
jadi presiden. Tapi, sifat Gus Dur, mereka itu dicuekin saja. Dalam
pembentukan kabinet pertama, soal kepentingan banyak pihak itu diperhatikan.
Tapi, Gus Dur merasa dia tidak bisa apa-apa, makanya dihabisi saja. Gus Dur
pun tidak sadar. Dalam sistem UUD 45, kabinetnya presidensial, tapi Gus Dur
terpilih bukan karena mayoritas partainya. Dan Gus Dur tidak peduli lagi
terhadap kekuatan partainya itu.
Yang paling gila, waktu di kabinet, Megawati tidak didengarin juga. Padahal
itu satu-satunya dukungan terpenting. Gus Dur hanya berpikir bahwa
kabinetnya presidensial. Ini masih kacau semua, terutama ketatanegaraannya.
Bahwa DPR-MPR menekan presiden, secara formal baik. Tapi mutu penekanan itu,
saya lihat, karena sakit hati karena dicuekin dan tidak kebagian. Akibatnya,
jadi oligarkhi. Orang merasa berjasa, tapi disikut begitu saja interesnya
oleh Gus Dur.

KONTAN: Masyarakat kan cuma bisa memandang bahwa ada pertikaian elite, tapi
sulit memilah mana kepentingan reformasi dan kepentingan Orde Baru.
Kenyataannya apa seperti itu?
ARIEF: Kelihatannya memang begitu. Ada beberapa pusat kekuasaan. Gus Dur
sendiri yang tidak peduli pada yang lain. Lalu ada kepentingan dari Megawati
PDIP, Golkar, fraksi Amien Rais, dan militer. Semuanya bikin agenda. Saya
kira, kekacauan yang terjadi antara elite politik itu memang bukan
direkayasa. Itu benar-benar terjadi. Banyak pemimpin yang merasa dikhianati
Gus Dur. Dan Gus Dur bertahan dengan UUD 45-nya bahwa kabinetnya adalah
kabinet presidensial, tidak bisa dijatuhkan begitu saja. Akibatnya, macetnya
di ketatanegaraan.
Kelihatannya, untuk menghilangkan Gus Dur, mereka akan berkoalisi. Yang
paling mungkin, kalau Gus Dur disingkirkan, Mega akan naik. Dia butuh suara
lagi. Yang paling dekat adalah Golkar. Bisa jadi, PDIP, Golkar, dan tentara
akan berkoalisi. Kemungkinan, kalau Banser ngamuk akan dihadapi oleh
tentara. Tentara siap untuk membantu Megawati. Mungkin militer-militer dan
kroni yang takut diadili --dan Gus Dur bisa melakukan itu-- lebih
mengharapkan orang seperti Akbar. Kalau dia naik, setidak-tidaknya militer
merasa bahwa Akbar bekas teman. Kalau Gus Dur tidak bisa bertahan lagi, yang
paling bisa masuk adalah koalisi tiga kekuatan itu. Kalau Amien Rais makin
tertinggal. Orang sudah tidak percaya lagi padanya.

KONTAN: Setelah Sidang Tahunan MPR, kekuasaan pemerintahan sehari-hari
praktis jatuh ke tangan Mega. Ini terbukti dalam kasus Theys H. Eluay,
perintah Gus Dur untuk melepasnya bisa diabaikan begitu saja. Anda melihat
begitu saat ini?
ARIEF: Sekarang, orang makin sadar kalau Gus Dur itu tak perlu diperhatikan
secara serius. Soal penangkapan Theys itu, Gus Dur memerintahkan polisi.
Tapi dicuekin saja, dan Gus Dur tak bisa apa-apa. Memang, Mega saya lihat
masih terlalu lunak. Mungkin dia bodoh juga. Dia nunggu saja, tidak
mengambil inisiatif. Kelihatannya memang Megawati bukan seorang inisiator.
Saya kira, Megawati masih lebih percaya pada Gus Dur daripada Akbar.
Soalnya, waktu susah-susahnya dulu, Gus Dur kan cukup menolong Megawati.
Saya kira ikatan itu masih kuat pada Mega. Hanya, aset semacam itu tidak
dimainkan dengan baik oleh Gus Dur. Akibatnya, dia dicuekin saja. Waktu
pembacaan kabinet, Mega dibilang pulang mandi. Bukan punya maksud menyakiti
Mega. Tapi memang Gus Dur itu enggak pedulian. Tidak ada sensitivitas sama
sekali. Jadi, amburadul betul pribadinya.
Sekarang ada dua hal yang membuat Gus Dur kehilangan kekuasaan dan
wibawanya. Pertama, soal Agus Wirahadikusumah yang telah membongkar korupsi,
tapi akhirnya dihantam, dan Gus Dur tidak bisa berbuat apa-apa. Yang kedua
soal Theys ini. Selanjutnya, saya kira, orang tidak peduli betul terhadap
Gus Dur. Dalam kasus Singapura, misalnya, dunia internasional jadi tahu
bagaimana watak Gus Dur. Mula-mula Singapura memang ribut dan kaget. Tapi,
akhirnya orang bilang, ya sudah, enggak apa-apa. Biarin aja, toh akhirnya
enggak ngapa-ngapain. Akhirnya Gus Dur jadi tidak diperhitungkan sama
sekali.
Saya kira, dilema betul bagi Gus Dur kalau tidak memperbaiki
performance-nya. Katanya sukar memperbaikinya. Soalnya dia memang tidak
merasa salah. Susah, sih, sudah pola dia memang begitu.

KONTAN: Dengan semakin redupnya Gus Dur, Megawati makin menaik?
ARIEF: Kalau Mega masuk jadi presiden, dia akan berhitung-hitung juga.
Sekarang, dengan adanya macam-macam itu, kalau Mega diam, kelihatannya hebat
dan bijaksana. Kalau dia jadi presiden dan tetap diam saja, akan kelihatan
bodohnya. Justru dia akan tunggu 2004. Akbar pun menunggu juga. Kalau Mega
naik, harus ada orang yang bisa memberitahu dia dan dipercaya. Kelihatannya
saat ini dia belum sampai ke sana. Buktinya, waktu Sidang Tahunan kemarin,
kalau Megawati mau, dia bisa sampai ke sana. Tapi dia tampaknya masih
menampik. Padahal semua orang sudah mau menyingkirkan Gus Dur.
Sekarang, dia sudah lebih dekat dengan jabatan itu, tapi belum sampai pada
kepercayaan hingga dia bisa menunjukkan kelemahannya. Misalnya, "Bang Akbar,
saya harus lakukan apa, nih?" Sama Gus Dur, dia masih berani. Soalnya Gus
Dur seperti kakaknya. Di sinilah Mega masih sangsi. Makanya, Gus Dur masih
bertahan, karena Mega belum punya partner lain tempat dia bisa ngomong
dengan bebas dan menunjukkan kelemahannya tanpa takut dieksploitir.

KONTAN: Dalam konstelasi ini, posisi TNI di mana?
ARIEF: TNI, menurut saya, masih terpecah dua: kubu antidwifungsi yang setuju
profesionalisme dan yang masih terancam oleh pengadilan-pengadilan. Saya
menganggap pengadilan itu tidak akan terjadi. Soalnya, banyak nasionalisme
yang dipaksakan. Tapi mereka juga makin takut kalau Gus Dur mulai
gila-gilaan. Bisa saja Gus Dur langsung menangkapi para jenderal itu.

KONTAN: Apa Gus Dur memang berniat untuk melakukan itu?
ARIEF: Dia lebih bisa melakukan itu. Dia orangnya cuekan, tak pernah
memperhatikan kondisi-kondisi apa pun. Kalau Mega, saya kira enggak bisa.
Akbar lebih tidak bisa lagi. Tentara kan tidak mungkin lagi masuk ke
kekuasaan. Pasti orang akan ribut. Jadi militer hanya bisa berkuasa dan
punya pengaruh lagi kalau dia punya partner, yaitu Megawati yang paling
dekat. Amien lebih tidak unpredictable lagi. Akbar terlalu berbau rezim
lama.

KONTAN: Kenapa Megawati yang dipilih militer?
ARIEF: Soalnya, justru karena Megawati lemah dan dia itu kan simbol
perlawanan Orde Baru. Dia itu korban Soeharto. TNI sangat butuh perbaikan
citra semacam itu. Mega menjadi aset, karena kalau Akbar atau TNI maju
sendiri, digebukin dia. Mega jadi penting karena harga dia itu, bahwa dia
korban Soeharto. Sebenarnya Soeharto sendiri yang bodoh. Kalau sejak lama
dibaik-baikin saja, bisa jadi Megawati bisa sekubu Soeharto. Hanya karena
Megawati mau dicalonkan jadi presiden saja Soeharto jadi benci. Tentara dan
Golkar butuh sekali figur Mega.

KONTAN: Yang menyakitkan TNI selama pemerintahan Gus Dur itu kan penyunatan
peran politik dan bisnis militer. Apa posisi mereka itu bisa kembali dengan
cara mendukung Mega?
ARIEF: Saya kira, ya. TNI kan banyak interest-nya. Apalagi bujet TNI kan
kurang. Karena itu dibutuhkan banyak yayasan yang bisa beroperasi bisnis.
Gus Dur kan menolak semacam itu. Konsep uang itu susah buat Gus Dur.
Biasanya, sambil berbisnis untuk prajurit, perwira-perwiranya pun dapat duit
banyak. Yayasan Kostrad dulu yang dibongkar Agus kan banyak diambil oleh
perwiranya. Sedikit yang jatuh ke tangan prajurit. Susah, sih, antara bisnis
dan politik itu kan saling berkaitan. Untuk itu perlu ada dwifungsi segala.
Saya kira, Akbar dan Mega adalah orang yang bisa menerima itu.

KONTAN: Siapa figur TNI yang masih cukup berpengaruh untuk mengangkat
citranya?
ARIEF: Saya kira, Wiranto masih sangat kharismatis. Dia sangat gentleman.
Waktu dia dipecat, dia datang. Dan dia menjaga itu. Cacatnya kan hanya
karena dia terlalu dekat dengan Soeharto. Yang lain, saya kira masih muda
dan namanya baru muncul. Kalau Wiranto itu kan sudah agak lama. Namanya
tetap dikenal karena terus disoroti orang meskipun sekarang dia dianggap
penjahatnya. Dan, dia pintar menjaga citranya dengan mengedarkan kaset
lagunya. Dia dianggap senior oleh militer dan namanya masih cukup kuat
meskipun sekarang masih hitam. Tapi hitam putih kan bisa dibalikin dengan
proses public relations.

KONTAN: Jadi, dengan peta semacam itu, apa proyeksi Anda terhadap nasib
pemerintahan Gus Dur tahun 2001?
ARIEF: Sekarang saya anggap Gus Dur masih fifty-fifty untuk bertahan atau
tidak. Dulu masih 60%-70%. Setelah melihat kasus Theys ini, saya pesimistis
Gus Dur bisa bertahan terus. Tapi itu tergantung sekali pada persatuan Akbar
dan Mega. Kalau militer, saya kira, sudah siap untuk masuk ke situ.
Tampaknya, faktornya yang paling penting adalah Mega.
Tahun depan, kalau Gus Dur tidak melakukan kesalahan serius, mulai cukup
hati-hati bertindak, mungkin dia akan bertahan terus. Tapi itu tampaknya
bukan sifat Gus Dur. Biasanya, kalau sudah terlalu rutin, dia malah bikin
kejutan sendiri. Jadi, ada kemungkinan, kalau dia bikin kejutan dan
akibatnya bisa negatif terhadap beberapa orang, bisa jadi usaha untuk
mengganti Gus Dur akan menang. Secara formal, di MPR, porsi PDIP, Golkar,
dan militer kan sampai 50%. Saya kira, pada saat itu Gus Dur makin
terisolasi.

KONTAN: Bagaimana dengan kekhawatiran terjadinya konflik horizontal di
antara kelompok masyarakat?
ARIEF: Katanya, memang Gus Dur dapat dukungan rakyat. Tapi saya kira, rakyat
di bawah tidak peduli soal penggantian di atas. Paling Banser yang agak
keras menentang. Tapi itu bisa diisolasi. Paling ada insiden-insiden kecil,
tapi masih bisa dikuasai. Soalnya, seandainya massa NU ribut, itu bisa
dihadapi oleh TNI dan massa PDIP, dan Muhammadiyah. Kelihatannya NU atau
Banser akan terisolasi. Akan sukar bagi mereka. Cuma, kalau Gus Dur
tersingkir, peran TNI akan meningkat meskipun tak sampai seperti zaman
Soeharto.

KONTAN: Ini kan bisa bisa menjadi preseden bagi pemerintahan berikut?
ARIEF: Ya, memang. Tapi itu tergantung performance presidennya. Gus Dur
terlalu amburadul, ya gimana lagi. Kalau Mega bisa bekerja sama dengan Akbar
Tandjung, mungkin keadaan akan lebih tenang dan rakyat pun lebih senang.
Kalau ini terjadi, tentu reformasi goodbye. Tapi, dalam hal ketenangan,
tentu bakal bisa lebih baik. Mereka bisa menguasai administrasi, tentara
jalan terus. Mungkin rakyat juga senang, meskipun tidak terjadi reformasi.
Tapi, zaman Gus Dur pun reformasi macet sama sekali. Bukan karena enggak
mau, tapi Gus Dur memang kurang serius menanganinya. Gus Dur terlibat
macam-macam dan disabot militer dan pengadilan. Kalau di bawah Akbar kan
semua teman-temannya lagi. Mengerikan memang skenarionya.

Berjarak dengan Pemerintah

Sikap konsisten aktivis mahasiswa tahun 1966 ini adalah tetap menjaga jarak
dengan pemerintah. Pergantian pimpinan dari Orde Lama ke Orde Baru dulu
menjadi berkah bagi kebanyakan aktivis. Bahkan, seperti rombongan sirkus,
para aktivis 1966 berebut kursi di pemeritahan maupun mencari konsesi
bisnis. Tapi, kakak kandung Soe Hok Gie ini malah menjaga jarak dengan
pemerintah. Jalur yang dipilih tetap menjadi aktivis. Malah, pada Pemilu
1971 ia bergabung di bawah bendera golput (golongan putih). Gara-gara
terlalu vokal menentang korupsi, ia pernah dipenjarakan.
Sikap menjaga jarak dengan pemerintah rupanya membuahkan pengalaman menarik
ketika menjadi Pembantu Rektor UKSW, Salatiga. Ketika kemelut pemilihan
rektor, tahun 1994, Arief dipecat. Ayah dua orang anak ini sempat menjadi
pengangguran, kendati laris menjadi pembicara di sana-sini dan menulis di
berbagai media. "Waktu itu hanya universitasnya Malik Fajar yang berani
menampung saya". Tapi, pilihan akhirnya jatuh ke Universitas Melbourne.
"Saya mempersiapkan pensiun saya," kata suami psikolog Leila Ch. Budiman
ini. Kini, selain mempersiapkan sebuah buku mengenai konsolidasi demokrasi
di Indonesia, Arief juga tetap kontak dengan para aktivis muda di Salatiga
dan Jakarta. Harapannya, tahun 2004 generasi muda mulai muncul dan memimpin
negara. Kini tiap hari Jumat di Melbourne, Arief memimpin diskusi tentang
proses transisi di Indonesia.

Pendidikan:
- 1955, lulus SD di Jakarta
- 1958, lulus SMP di Jakarta
- 1961, lulus SMU di Jakarta
- 1968, Sarjana Psikologi UI, Jakarta
- 1981, Doktor Sosiologi Universitas Harvard, AS.

Pekerjaan:
- 1972-1973, Staf Association for Cultural Freedom, Paris, Prancis
- 1977-1978, Asisten Peneliti Institute for Advanced Studies, Princeton, AS
- 1978-1981, Staf Pengajar Universitas California di Santa Cruz, AS
- 1981-1994, Staf Pengajar Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga
- 1997-kini, Staf Pengajar Pascasarjana Ekonomi-Politik Universitas
Melbourne, Australia.






................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com 















Kirim email ke