KONTAN EDISI 15/V Tanggal 8 Januari 2001 Arief Budiman: "PDIP, Golkar, dan Tentara akan Berkoalisi" Pemerintahan Gus Dur selama setahun tiga bulan ini penuh dengan gonjang-ganjing. Suasana tenang hanya seumur jagung, selebihnya adalah ketegangan demi ketegangan politik. Beberapa kali kabinet dibongkar pasang, toh kepercayaan rakyat pada pemerintah kian surut. Sebaliknya, elite-elite politik terus bertikai, kerusuhan terus saja meletus, begitu pula tuntutan merdeka di beberapa daerah. Memang, siapa pun pemerintahnya akan sulit mengobati negara yang sudah parah sakitnya ini. Tapi, banyak yang makin percaya di bawah Gus Dur ini nasib negara juga makin terombang-ambing. Kepemimpinannya dinilai amburadul, tidak pedulian, sehingga hasilnya adalah governless. Bagaimana jalan keluarnya agar negara bisa selamat beserta agenda reformasinya? Apakah harus menunggu sampai tahun 2004 tapi negara tetap tidak stabil? Apa yang terjadi bila Gus Dur dipaksa turun sebelum masa jabatannya habis? Untuk mengurai permasalahan inilah wartawan KONTAN Bagus Marsudi mengontak Arief Budiman, yang kini mengajar sosiologi di Melbourne University, lewat telepon pertengahan Desember lalu. Arief cukup lama mengenal sosok Gus Dur dari dekat, tapi dengan posisinya sekarang ini dia bisa membaca konstelasi politik Indonesia secara lebih netral. KONTAN: Apa catatan Anda terhadap pemerintahan Gus Dur setahun terakhir? ARIEF: Masalah Gus Dur itu karena, tampaknya, dia tidak begitu bijak untuk menjadi pemimpin modern. Memang dia dulu Ketua NU. Tapi, mengelola NU lain dengan mengelola negara. Akibatnya, dia menjalankan semua cara-cara kepemimpinan secara tradisional. Di NU dia dipuja seperti wali. Di sini enggak bisa begitu. Salah sedikit bisa disikat orang-orang. Gus Dur kok tampaknya enggak sadar. Mungkin soal mata juga cukup mempengaruhi. Kalau dia bisa melihat dengan baik, kenyataannya bisa lain. Jadi, Gus Dur seakan hidup dalam dunianya sendiri. Baru kalau ada bentrokan keras, pendapatnya bisa bergeser sedikit. Tapi, dia akhirnya balik lagi. Tampaknya, dari keempat pemimpin yang berada di jalur kekuasaan (Gus Dur, Megawati, Akbar Tanjung, Amien Rais), kita tidak bisa mengharapkan apa-apa dari mereka semua. Kita perlu ganti yang lain saja. KONTAN: Masalahnya, soal kapabilitas atau style yang tidak bisa diterima? ARIEF: Style-nya bahwa Gus Dur adalah orang yang biasa dihormati dan lebih tahu dari yang lain menjadi substansi di sini. Makanya Gus Dur cuek saja. Gus Dur menganut biarinisme, biarin aja. Soal Aceh, misalnya, dia bilang, "Biarkan saja, itu kan soal waktu." Ya enggak bisa begitu. Waktu itu membuat berjalan semua jadi tak terkendali. Memang, perlu dilihat juga kondisi pemerintahan Gus Dur ini kan ibarat memperbaiki mobil rusak. Tapi, kalau dia bisa nyetir secara lebih baik, barangkali mobil itu bisa lebih baik sedikit. Jadi, bukan hanya faktor Gus Dur yang membuat jadi jelek. Keadaan memang sukar sekali. Militernya jalan sendiri-sendiri. Aparatnya masih korup. Tapi, enggak bisa diingkari, faktor Gus Dur cukup penting. Kalau orang yang mengelola profesional, keadaannya bisa lebih terkendali. Sebenarnya, Gus Dur, sih, ide-idenya bagus. Demokrasi jalan. Pluralisme juga bagus. Cuma, yang tidak saya sangka itu dia bisa terlibat masalah-masalah uang. Saya kenal dulu, dia tidak peduli soal uang. Ini yang membuat saya kaget. Kok sekarang menjadi seperti sekarang ini. KONTAN: Anda yakin Gus Dur terlibat ataukah itu hanya serangan dari lawan-lawannya saja? ARIEF: Mungkin juga ada unsur politik. Artinya, dia kan juga mau PKB jadi besar. Makanya dia main macam-macam. Ini yang mengkhawatirkan saya. Kalau dulu, sewaktu di NU, soal keuangan kan secure sekali. Jadi, Gus Dur tidak banyak terlibat dalam soal-soal seperti itu. Tapi yang jadi masalah adalah kok dia melakukan itu. Kalau yang dia tunjuk adalah orang-orang yang disenangi saja, tanpa menilai kesanggupannya, itu yang membuat Gus Dur lemah. Kalau di NU tidak jadi masalah kalau membiayai organisasi itu supaya dapat banyak uangnya. Tapi, pada negara agak sukar. KONTAN: Kalau begitu, orang-orang di sekitar Gus Dur pun ikut berperan dalam kebobrokan pemerintahannya? ARIEF: Ya, begitu juga. Tapi orang-orang itu kan ditunjuk Gus Dur juga. Jadi, Gus Dur bertanggung jawab, dong. Dalam wawancaranya dengan Tempo, Ryaas Rasyid bilang, "Sudah dibilangi begini, tapi Gus Dur balik lagi tak menepati komitmen." Hal seperti itu di NU enggak apa-apa. Di negara, hal seperti itu banyak orang enggak suka. Orang seperti Yusril itu kan punya agenda sendiri. Tapi karena bisa baik dengan Gus Dur, dia dipakai. Waktu zamannya Soeharto pun demikian. Di depan Partai Bulan Bintang dia pernah berucap kalau perlu akan mundur, tapi kemudian enggak apa-apa juga. KONTAN: Seandainya Gus Dur memang ada di balik skandal-skandal itu, apa target Gus Dur? ARIEF: Gus Dur itu kan bukan boneka. Dia itu justru dalang betul. Cuma dalangnya sering tidak berinteraksi dengan kenyataan. Jalan sendiri. Kelihatannya dia tidak peduli macam-macam. Dikritik maupun dipuji, dia enggak peduli. KONTAN: Apa kepentingan Gus Dur terlibat pelbagai kasus itu? ARIEF: Saya kira untuk PKB. Dia mengambil uang, mungkin intensinya ke sana. Tapi dia tidak bisa me-manage-nya. Di NU juga, macam-macam sumbangan, tapi enggak jelas uangnya ke mana. Bukan berarti dia korup. Tapi orang pakai begitu saja. Dan, banyak orang yang beriktikad baik. Makanya, teman-temannya yang kelompok Cina itu kalau dia mau menyumbang, dia bilang, jangan nyumbang Gus Dur dengan uang kontan. Tapi harus proyek saja. Betulin rumahnya, bikinin pesantren, itu bisa. Kalau nyumbang uang, enggak jelas uangnya akan ke mana. KONTAN: Banyak dugaan, para pengusaha mendekati Gus Dur dengan bayaran. Apa cara ini cukup efektif untuk menaklukkan Gus Dur? ARIEF: Saya kira begitu. Gus Dur itu enggak ngurusi uang. Kalau konglomerat begitu, semua pengusaha kalau ada peluang akan begitu. Susahnya, sebagai seorang kiai, hidup Gus Dur dari dulu berasal dari sumbangan. Hubungan dengan penyumbang jadi sangat erat, saling menghargai. Di NU, kalau orang mau menyumbang ke pesantren kan harus ikhlas. Tak ada motivasi di belakangnya. Kalau sekarang dia jadi presiden, sumbangannya lain lagi. Kepentingan di belakangnya banyak sekali. Nah, saya curiga, kalau Gus Dur menerima sumbangan dari para konglomerat. Hubungan balas budi akan pola kiai tentu terjalin. Satu sikap psikologis yang menarik. Secara psikologis, Gus Dur itu menarik diteliti. Bertahun-tahun dia hidup sebagai kiai, putra mahkota yang dipuja-puja yang membuat dirinya kurang memahami dan mendengar orang. KONTAN: Apa darah biru kewalian itu juga tercermin kuat dalam cara memerintah? ARIEF: Ya begitu. Ada cerita tentang Nabi Khidir yang dipercaya sebagai wali. Nabi Musa pernah jalan bersama dia. Nabi Khidir memberi syarat, asal Musa tidak tanya apa pun tentang apa yang dilakukan. Nah, waktu jalan, ada anak kecil yang tiba-tiba dibunuh Nabi Khidir. Nabi Musa kan bingung, kenapa dibunuh? Ada tiga kali hal sama diulang. Nabi Musa penasaran ingin tahu kenapa. Akhirnya Nabi Khidir bilang, anak kecil itu kalau sudah besar nanti bisa jadi pembunuh. "Kamu tidak tahu, tapi saya tahu," ujar Nabi Khidir, "Lebih baik saya bunuh daripada banyak korban nantinya." Di kalangan NU, orang menganggap Gus Dur sebagai Nabi Khidir. Kalau orang enggak ngerti, itu salah kita. Soalnya, logika kita kan masih logika Nabi Musa, selangkah di belakang. Itu yang jadi masalah bagi Gus Dur. Orang yang sudah dianggap wali itu akibatnya membentuk satu keyakinan tersendiri bahwa dia itu tidak salah. Tapi Gus Dur aneh juga. Waktu dia belum jadi presiden, dia pernah bilang dia akan jadi presiden. Itu kan aneh. Waktu itu, maaf, kita hanya bilang, "Udah buta, gila lagi." Tapi ternyata benar juga dia jadi presiden. Ada ilmunya, nih. Begitulah Gus Dur. Dia banyak terlalu percaya diri. Kurang mendengarkan orang. Dan psikologi ini terbentuk karena sudah lama di NU. KONTAN: Kalau banyak yang tidak memahami Gus Dur, sebenarnya persoalannya itu ada pada orang yang tidak paham atau memang Gus Dur tidak mampu menjelaskan? ARIEF: Saya lebih cenderung melihat dia itu banyak untung. Tindakannya insting sekali. Saya cukup lama dengan dia. Pikirannya selalu berubah-ubah. Sampai kita males datang pada Gus Dur. Tapi, kadang-kadang dia pun mujur. Jadi presiden itu benar-benar suatu kejutan. Buat orang yang percaya, itu adalah ilmu Gus Dur. Buat saya, dia itu untung saja. KONTAN: Selama masa pemerintahannya, Gus Dur selalu bersitegang dengan DPR. Apa ini cerminan sikap rakyat yang berani mengoreksi pemerintah? ARIEF: Secara formal iya. Tapi saya kira, kita sedang kembali ke tahun 50-an. Saat itu terjadi oligarkhi. Artinya, memang yang elite di DPR yang mengkritik Gus Dur, semuanya secara formal memang mewakili rakyat. Tapi, dengan rakyat dia terpisah juga. Akibatnya, mereka menjadi sekelompok orang yang punya privilese untuk mengatasnamakan rakyat. Dalam hal tertentu, saya bisa senang DPR-MPR bisa memaki presiden. Tapi tampaknya mereka lebih banyak mewakili agendanya sendiri. Dalam hal Gus Dur, mereka marah karena mereka sudah merasa mendukung Gus Dur jadi presiden. Tapi, sifat Gus Dur, mereka itu dicuekin saja. Dalam pembentukan kabinet pertama, soal kepentingan banyak pihak itu diperhatikan. Tapi, Gus Dur merasa dia tidak bisa apa-apa, makanya dihabisi saja. Gus Dur pun tidak sadar. Dalam sistem UUD 45, kabinetnya presidensial, tapi Gus Dur terpilih bukan karena mayoritas partainya. Dan Gus Dur tidak peduli lagi terhadap kekuatan partainya itu. Yang paling gila, waktu di kabinet, Megawati tidak didengarin juga. Padahal itu satu-satunya dukungan terpenting. Gus Dur hanya berpikir bahwa kabinetnya presidensial. Ini masih kacau semua, terutama ketatanegaraannya. Bahwa DPR-MPR menekan presiden, secara formal baik. Tapi mutu penekanan itu, saya lihat, karena sakit hati karena dicuekin dan tidak kebagian. Akibatnya, jadi oligarkhi. Orang merasa berjasa, tapi disikut begitu saja interesnya oleh Gus Dur. KONTAN: Masyarakat kan cuma bisa memandang bahwa ada pertikaian elite, tapi sulit memilah mana kepentingan reformasi dan kepentingan Orde Baru. Kenyataannya apa seperti itu? ARIEF: Kelihatannya memang begitu. Ada beberapa pusat kekuasaan. Gus Dur sendiri yang tidak peduli pada yang lain. Lalu ada kepentingan dari Megawati PDIP, Golkar, fraksi Amien Rais, dan militer. Semuanya bikin agenda. Saya kira, kekacauan yang terjadi antara elite politik itu memang bukan direkayasa. Itu benar-benar terjadi. Banyak pemimpin yang merasa dikhianati Gus Dur. Dan Gus Dur bertahan dengan UUD 45-nya bahwa kabinetnya adalah kabinet presidensial, tidak bisa dijatuhkan begitu saja. Akibatnya, macetnya di ketatanegaraan. Kelihatannya, untuk menghilangkan Gus Dur, mereka akan berkoalisi. Yang paling mungkin, kalau Gus Dur disingkirkan, Mega akan naik. Dia butuh suara lagi. Yang paling dekat adalah Golkar. Bisa jadi, PDIP, Golkar, dan tentara akan berkoalisi. Kemungkinan, kalau Banser ngamuk akan dihadapi oleh tentara. Tentara siap untuk membantu Megawati. Mungkin militer-militer dan kroni yang takut diadili --dan Gus Dur bisa melakukan itu-- lebih mengharapkan orang seperti Akbar. Kalau dia naik, setidak-tidaknya militer merasa bahwa Akbar bekas teman. Kalau Gus Dur tidak bisa bertahan lagi, yang paling bisa masuk adalah koalisi tiga kekuatan itu. Kalau Amien Rais makin tertinggal. Orang sudah tidak percaya lagi padanya. KONTAN: Setelah Sidang Tahunan MPR, kekuasaan pemerintahan sehari-hari praktis jatuh ke tangan Mega. Ini terbukti dalam kasus Theys H. Eluay, perintah Gus Dur untuk melepasnya bisa diabaikan begitu saja. Anda melihat begitu saat ini? ARIEF: Sekarang, orang makin sadar kalau Gus Dur itu tak perlu diperhatikan secara serius. Soal penangkapan Theys itu, Gus Dur memerintahkan polisi. Tapi dicuekin saja, dan Gus Dur tak bisa apa-apa. Memang, Mega saya lihat masih terlalu lunak. Mungkin dia bodoh juga. Dia nunggu saja, tidak mengambil inisiatif. Kelihatannya memang Megawati bukan seorang inisiator. Saya kira, Megawati masih lebih percaya pada Gus Dur daripada Akbar. Soalnya, waktu susah-susahnya dulu, Gus Dur kan cukup menolong Megawati. Saya kira ikatan itu masih kuat pada Mega. Hanya, aset semacam itu tidak dimainkan dengan baik oleh Gus Dur. Akibatnya, dia dicuekin saja. Waktu pembacaan kabinet, Mega dibilang pulang mandi. Bukan punya maksud menyakiti Mega. Tapi memang Gus Dur itu enggak pedulian. Tidak ada sensitivitas sama sekali. Jadi, amburadul betul pribadinya. Sekarang ada dua hal yang membuat Gus Dur kehilangan kekuasaan dan wibawanya. Pertama, soal Agus Wirahadikusumah yang telah membongkar korupsi, tapi akhirnya dihantam, dan Gus Dur tidak bisa berbuat apa-apa. Yang kedua soal Theys ini. Selanjutnya, saya kira, orang tidak peduli betul terhadap Gus Dur. Dalam kasus Singapura, misalnya, dunia internasional jadi tahu bagaimana watak Gus Dur. Mula-mula Singapura memang ribut dan kaget. Tapi, akhirnya orang bilang, ya sudah, enggak apa-apa. Biarin aja, toh akhirnya enggak ngapa-ngapain. Akhirnya Gus Dur jadi tidak diperhitungkan sama sekali. Saya kira, dilema betul bagi Gus Dur kalau tidak memperbaiki performance-nya. Katanya sukar memperbaikinya. Soalnya dia memang tidak merasa salah. Susah, sih, sudah pola dia memang begitu. KONTAN: Dengan semakin redupnya Gus Dur, Megawati makin menaik? ARIEF: Kalau Mega masuk jadi presiden, dia akan berhitung-hitung juga. Sekarang, dengan adanya macam-macam itu, kalau Mega diam, kelihatannya hebat dan bijaksana. Kalau dia jadi presiden dan tetap diam saja, akan kelihatan bodohnya. Justru dia akan tunggu 2004. Akbar pun menunggu juga. Kalau Mega naik, harus ada orang yang bisa memberitahu dia dan dipercaya. Kelihatannya saat ini dia belum sampai ke sana. Buktinya, waktu Sidang Tahunan kemarin, kalau Megawati mau, dia bisa sampai ke sana. Tapi dia tampaknya masih menampik. Padahal semua orang sudah mau menyingkirkan Gus Dur. Sekarang, dia sudah lebih dekat dengan jabatan itu, tapi belum sampai pada kepercayaan hingga dia bisa menunjukkan kelemahannya. Misalnya, "Bang Akbar, saya harus lakukan apa, nih?" Sama Gus Dur, dia masih berani. Soalnya Gus Dur seperti kakaknya. Di sinilah Mega masih sangsi. Makanya, Gus Dur masih bertahan, karena Mega belum punya partner lain tempat dia bisa ngomong dengan bebas dan menunjukkan kelemahannya tanpa takut dieksploitir. KONTAN: Dalam konstelasi ini, posisi TNI di mana? ARIEF: TNI, menurut saya, masih terpecah dua: kubu antidwifungsi yang setuju profesionalisme dan yang masih terancam oleh pengadilan-pengadilan. Saya menganggap pengadilan itu tidak akan terjadi. Soalnya, banyak nasionalisme yang dipaksakan. Tapi mereka juga makin takut kalau Gus Dur mulai gila-gilaan. Bisa saja Gus Dur langsung menangkapi para jenderal itu. KONTAN: Apa Gus Dur memang berniat untuk melakukan itu? ARIEF: Dia lebih bisa melakukan itu. Dia orangnya cuekan, tak pernah memperhatikan kondisi-kondisi apa pun. Kalau Mega, saya kira enggak bisa. Akbar lebih tidak bisa lagi. Tentara kan tidak mungkin lagi masuk ke kekuasaan. Pasti orang akan ribut. Jadi militer hanya bisa berkuasa dan punya pengaruh lagi kalau dia punya partner, yaitu Megawati yang paling dekat. Amien lebih tidak unpredictable lagi. Akbar terlalu berbau rezim lama. KONTAN: Kenapa Megawati yang dipilih militer? ARIEF: Soalnya, justru karena Megawati lemah dan dia itu kan simbol perlawanan Orde Baru. Dia itu korban Soeharto. TNI sangat butuh perbaikan citra semacam itu. Mega menjadi aset, karena kalau Akbar atau TNI maju sendiri, digebukin dia. Mega jadi penting karena harga dia itu, bahwa dia korban Soeharto. Sebenarnya Soeharto sendiri yang bodoh. Kalau sejak lama dibaik-baikin saja, bisa jadi Megawati bisa sekubu Soeharto. Hanya karena Megawati mau dicalonkan jadi presiden saja Soeharto jadi benci. Tentara dan Golkar butuh sekali figur Mega. KONTAN: Yang menyakitkan TNI selama pemerintahan Gus Dur itu kan penyunatan peran politik dan bisnis militer. Apa posisi mereka itu bisa kembali dengan cara mendukung Mega? ARIEF: Saya kira, ya. TNI kan banyak interest-nya. Apalagi bujet TNI kan kurang. Karena itu dibutuhkan banyak yayasan yang bisa beroperasi bisnis. Gus Dur kan menolak semacam itu. Konsep uang itu susah buat Gus Dur. Biasanya, sambil berbisnis untuk prajurit, perwira-perwiranya pun dapat duit banyak. Yayasan Kostrad dulu yang dibongkar Agus kan banyak diambil oleh perwiranya. Sedikit yang jatuh ke tangan prajurit. Susah, sih, antara bisnis dan politik itu kan saling berkaitan. Untuk itu perlu ada dwifungsi segala. Saya kira, Akbar dan Mega adalah orang yang bisa menerima itu. KONTAN: Siapa figur TNI yang masih cukup berpengaruh untuk mengangkat citranya? ARIEF: Saya kira, Wiranto masih sangat kharismatis. Dia sangat gentleman. Waktu dia dipecat, dia datang. Dan dia menjaga itu. Cacatnya kan hanya karena dia terlalu dekat dengan Soeharto. Yang lain, saya kira masih muda dan namanya baru muncul. Kalau Wiranto itu kan sudah agak lama. Namanya tetap dikenal karena terus disoroti orang meskipun sekarang dia dianggap penjahatnya. Dan, dia pintar menjaga citranya dengan mengedarkan kaset lagunya. Dia dianggap senior oleh militer dan namanya masih cukup kuat meskipun sekarang masih hitam. Tapi hitam putih kan bisa dibalikin dengan proses public relations. KONTAN: Jadi, dengan peta semacam itu, apa proyeksi Anda terhadap nasib pemerintahan Gus Dur tahun 2001? ARIEF: Sekarang saya anggap Gus Dur masih fifty-fifty untuk bertahan atau tidak. Dulu masih 60%-70%. Setelah melihat kasus Theys ini, saya pesimistis Gus Dur bisa bertahan terus. Tapi itu tergantung sekali pada persatuan Akbar dan Mega. Kalau militer, saya kira, sudah siap untuk masuk ke situ. Tampaknya, faktornya yang paling penting adalah Mega. Tahun depan, kalau Gus Dur tidak melakukan kesalahan serius, mulai cukup hati-hati bertindak, mungkin dia akan bertahan terus. Tapi itu tampaknya bukan sifat Gus Dur. Biasanya, kalau sudah terlalu rutin, dia malah bikin kejutan sendiri. Jadi, ada kemungkinan, kalau dia bikin kejutan dan akibatnya bisa negatif terhadap beberapa orang, bisa jadi usaha untuk mengganti Gus Dur akan menang. Secara formal, di MPR, porsi PDIP, Golkar, dan militer kan sampai 50%. Saya kira, pada saat itu Gus Dur makin terisolasi. KONTAN: Bagaimana dengan kekhawatiran terjadinya konflik horizontal di antara kelompok masyarakat? ARIEF: Katanya, memang Gus Dur dapat dukungan rakyat. Tapi saya kira, rakyat di bawah tidak peduli soal penggantian di atas. Paling Banser yang agak keras menentang. Tapi itu bisa diisolasi. Paling ada insiden-insiden kecil, tapi masih bisa dikuasai. Soalnya, seandainya massa NU ribut, itu bisa dihadapi oleh TNI dan massa PDIP, dan Muhammadiyah. Kelihatannya NU atau Banser akan terisolasi. Akan sukar bagi mereka. Cuma, kalau Gus Dur tersingkir, peran TNI akan meningkat meskipun tak sampai seperti zaman Soeharto. KONTAN: Ini kan bisa bisa menjadi preseden bagi pemerintahan berikut? ARIEF: Ya, memang. Tapi itu tergantung performance presidennya. Gus Dur terlalu amburadul, ya gimana lagi. Kalau Mega bisa bekerja sama dengan Akbar Tandjung, mungkin keadaan akan lebih tenang dan rakyat pun lebih senang. Kalau ini terjadi, tentu reformasi goodbye. Tapi, dalam hal ketenangan, tentu bakal bisa lebih baik. Mereka bisa menguasai administrasi, tentara jalan terus. Mungkin rakyat juga senang, meskipun tidak terjadi reformasi. Tapi, zaman Gus Dur pun reformasi macet sama sekali. Bukan karena enggak mau, tapi Gus Dur memang kurang serius menanganinya. Gus Dur terlibat macam-macam dan disabot militer dan pengadilan. Kalau di bawah Akbar kan semua teman-temannya lagi. Mengerikan memang skenarionya. Berjarak dengan Pemerintah Sikap konsisten aktivis mahasiswa tahun 1966 ini adalah tetap menjaga jarak dengan pemerintah. Pergantian pimpinan dari Orde Lama ke Orde Baru dulu menjadi berkah bagi kebanyakan aktivis. Bahkan, seperti rombongan sirkus, para aktivis 1966 berebut kursi di pemeritahan maupun mencari konsesi bisnis. Tapi, kakak kandung Soe Hok Gie ini malah menjaga jarak dengan pemerintah. Jalur yang dipilih tetap menjadi aktivis. Malah, pada Pemilu 1971 ia bergabung di bawah bendera golput (golongan putih). Gara-gara terlalu vokal menentang korupsi, ia pernah dipenjarakan. Sikap menjaga jarak dengan pemerintah rupanya membuahkan pengalaman menarik ketika menjadi Pembantu Rektor UKSW, Salatiga. Ketika kemelut pemilihan rektor, tahun 1994, Arief dipecat. Ayah dua orang anak ini sempat menjadi pengangguran, kendati laris menjadi pembicara di sana-sini dan menulis di berbagai media. "Waktu itu hanya universitasnya Malik Fajar yang berani menampung saya". Tapi, pilihan akhirnya jatuh ke Universitas Melbourne. "Saya mempersiapkan pensiun saya," kata suami psikolog Leila Ch. Budiman ini. Kini, selain mempersiapkan sebuah buku mengenai konsolidasi demokrasi di Indonesia, Arief juga tetap kontak dengan para aktivis muda di Salatiga dan Jakarta. Harapannya, tahun 2004 generasi muda mulai muncul dan memimpin negara. Kini tiap hari Jumat di Melbourne, Arief memimpin diskusi tentang proses transisi di Indonesia. Pendidikan: - 1955, lulus SD di Jakarta - 1958, lulus SMP di Jakarta - 1961, lulus SMU di Jakarta - 1968, Sarjana Psikologi UI, Jakarta - 1981, Doktor Sosiologi Universitas Harvard, AS. Pekerjaan: - 1972-1973, Staf Association for Cultural Freedom, Paris, Prancis - 1977-1978, Asisten Peneliti Institute for Advanced Studies, Princeton, AS - 1978-1981, Staf Pengajar Universitas California di Santa Cruz, AS - 1981-1994, Staf Pengajar Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga - 1997-kini, Staf Pengajar Pascasarjana Ekonomi-Politik Universitas Melbourne, Australia. ................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia............... Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com
