Tidak jadi Merdeka!
Begitu naik Angkot 03, mBah Soelojo jadi suntrut dan ngedumel
sendiri. Pasalnya dia harus duduk tepat di belakang supir dan
Lek Oein duduk membelakangi supir di bangku cadangan yang
�oglak-aglik�. Mau tak mau kaki mBah Soel menyerong ke depan
dengkul Lek Oein. Pokoknya serba ndak nyaman lah, naik angkot
model begitu bagi orang
setua mBah Soel, yang lahir tahun 28. Lek Oein, yang lahir
�ceprot� 18 Agustus 1945, merasa enteng saja. Lha sejak kecil
bangsa urusan ungsi-mengungsi desak-desakan dan berimpit di
gerobak sapi atau praoto pabrik tebu sudah hal biasa baginya.
Jaman Orba, kalau hanya naik kereta Gaya Baru atau Purbaya tanpa
duduk-pun makanan bulanan baginya. Maka, �cengengesan� dia
menggoda paman kesayangannya.
�Lek, Lek Soel kok sejak naik tadi Sampeyan �mrengut� saja sih?
Wong tadi terkekeh-kekeh gitu kok, begitu naik Angkot 03 malah
'mendelep'. Nomor 03 kan lambang Persatuan to Lek? Gimana? Sakit
apa kaki Sampeyan?�
�Sontoloyooooo, anak nggak tahu diurus. Kan tadi kubilang apa,
bahwa untuk mencapai Merdeka kita harus berjuang dari Jembatan
Merah? Tapi kamu, dasar �bodong� malah endak! Sak penakmu dhewe,
langsung ke nomor 03 yang mau berangkat. Harusnya kan ke Merdeka
dulu to Le?!�
�Alaaah, wong temennya banyak gini kok ya. Lagian kan kita harus
nguber waktu, biar nggak telat njemput Den Tono, di Bandara
nanti, gitu.�
�Lhaaa itu, orang kalau Er-Ge (Rumongso Gedhe), akhirnya malah
kayak gini ini. Wong naik angkutan 03 kok malah �loro kabeh�
kayak gini. Wiiiiis, mbok sabar dikit gitu lho Le�
�Halaaah, lha kalau mau nggak loro kabeh, ya sana naik mobil
pribadi, Seluna, Beluna atau Karimun sana. Punya uang DP apa
sampeyan, buat sekedar mejeng.... hehehee...�
�Malah menjurus! Paling kowe kan ngarahin aku buat komentar kan?
Betapa sekarang buat mudik banyak yang bermobil baru dengan
bayar DP. Terus habis mudik dijual lagi. Rugi-rugi dikiit, ndak
papa, beli lagi. Buat nampang yang berikutnya. Yang penting
orang-2 kampung terheran-heran, bahwa dia di kota jadi orang
enak, gonta-ganti mobil, gitu kan?�
�Lhaaah, itu kan omongannya Den Ragil, yang dari 12 tahun yang
lalu kerja beli Daihatsu Taft bobrok aja ndak kuat.
Seprana-seprene tetep aja ngastreaaaa terus.�
�Heheheeee. Malah nyindir juragan. Lha kalau Den Ragil itu kan
memang begitu. Katanya, �mBah Soel, kalau tak paksa-paksakan
bisa juga lho aku beli mobil sedan yang mungil, apes-nya CIVIC
lah, tapi lha untuk ragat tiap harinya dari mana?� gitu waktu
tak tanya kenapa bliaw ndak punya-punya mobil, sedang
teman-temannya yang lebih muda, apalagi yang sak pantar dan
lebih senyor, sudah pada bermobil-mobilan.�
�Heeee? Apa iya, terus komentarnya dengan gejala-gejala mobil DP
yang sekarang ini gimana Lek?�
�Woooow, tambah sok sosialis Le. Katanya, �Kita ini kok tambah
kejam ya mBah. Tahu kata banyak orang, apalagi di luaran sana,
negara sedang krismon, eeee kok mobil mewah laris kaya pisang
kemprek, motor-motor baru cumak dijadikan hadiah kwis ramadhan?
Lho itu kalau bukan manusia kejam secara sosial, mau disebut apa
lagi?� ngono ki Le.�
�Lha iya, memang, tapi itu karena Den Ragil belum ngrasain jadi
orang bermobil atau memang gitu ya, Lek? Ngko gek gara-gara
bliaw itu merasa sial terus gitu�
�Wah, ya �embuh� Le. Cuman Den Ragil pernah matur juga ke
almarhumah Ibunya, �Bu, jangan dianggap dengan tidak bermobilnya
saya ini adalah kegagalan. Lha memang tujuan hidup saya bukan
berhenti pada mobil dan rumah mewah. Kalau mampu saya setingkat
motor bebek, ya sudah itu saja cukup. Kan saya jadi nggak punya
pikiran buat usaha nyari tambahan biaya ngopeni mobil. Lha
memang kemampuan saya segitu. Kalau nanti dipaksa kan malah
jadinya saya nyolong. Nyolong kalau ketahuan kan tambah rendah
derajat saya. Kalau pun nggak ketahuan, kan ada yang Maha Tahu,
Bu?� Gitu lho Le, katanya juragan kita itu.�
�Yaaaa, bener juga ya Lek. Lha tapi kok banyak temen-temennya
Den Ragil yang makmur-makmur. Lho apa beda-beda ya Lek, gaji
pegawai dalam satu kantor itu, wong pangkat dan fungsinya sama?�
�Lha iya itu yang juga membuatku heran. Jangan-jangan bener juga
�penemunya� Den Ragil itu, bahwa sebagian dari kemakmuran
orang-orang makmur itu adalah rejeki milik kaum papa, milik para
yatim dan fakir. Lha bliauw itu mengartikan ayat suci al-Baqarah
ayat 3 itu hanya dengan satu kata jawa �Orang beriman itu salah
satu cirinya adalah LOMA� gitu kok, selain mendirikan ibadah dan
percaya kepada Hyang Ghaib�
Ya, pinter-pinernya Lek Oein, memancing mBah Soel, dari �mrengut
� menjadi senyam-senyum, merasa telah menyampaikan ajaran
spiritual. Meski sebatas ujung kuku. Tanpa terasa Angkot 03 yang
macet sepanjang Kapten Muslihat (bukan tipu muslihat lho)
disambung sepanjang Jalak Harupat, telah hampir sampai Terminal
Baranangsiang. Lagi-lagi, tanpa menunggu Angkot masuk terminal,
Lek Oein mengajak mBah Soel turun buat nyebrang Jembatan depan
Ngesti. Pantes saja mBah Soel kembali grundelan.
�Lho, rak kumat! Wong tuwo disuruh penekan nyebrang jalan!
Wiiis, memang kamu itu tak pikir-pikir nggak pernah merdeka kok
Le�
�Masih ngerembug MERDEKA lagi to Lek? Merdeka sudah di belakang
sana. Kita harus memburu waktu, gitu lho.�
�Lha itu, dengan kowe bilang kita HARUS itu berarti hilang sudah
kemerdekaanmu. Lha tadi kan sudah pas, kamu naik angkutan
perkotakan nomor 05, Pancasila! Harusnya yaaa kita naik sampai
MERDEKA. Lha kowe nggak, malah turun di Jembatan Merah. Harusnya
naik 03 di Merdeka, malah suk-sukan di Kapten Muslihat!�
�Yaaa deeeeh, ngalah. Memang Kita ini TIDAK JADI MERDEKA kok
Lek. Lha tuh, lihat, Bus AJA yang mau ngangkut kita Ke Balaraja,
masih diurutan 5 ngetemnya.. hahahaa. bener Sampeyan kok Lek.
Buat apa buru-buru kalau akhirnya malah nunggu lagi 15 menit
kali 5 Bus, ya?�
Bogor, 5 Januari 2001
Fukuoka Kitaro
................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com