---------------------------------------------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

---------------------------------------------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Rabu 17 Januari 2001 16:20 UTC



* PAPUA MEMBANGUN DEMOKRASI DARI BAWAH, ACEH AMBIL JALAN PINTAS DAN
... JAKARTA BINGUNG


Menteri Pertahanan Mahfud MD kemarin mengatakan, operasi militer
tidak perlu dilakukan di Aceh karena penegakan hukum oleh polisi
dianggap cukup. Padahal, sampai pekan silam, Menhan ini dinilai
paling sering unjuk gigi dan mewakili suara galak dari Jakarta. Pada
saat bersamaan, di Irian Jaya, lagi lagi sejumlah tokoh
pro-kemerdekaan Papua, yaitu Willy Mandowen, Beatrix Koibur dan
Pendeta Ketty Yabansara, dijadikan tersangka makar.
Ada apa di balik lagu "law enforcement", atau penegakan hukum dari
Jakarta, terhadap dua daerah yang bergolak itu? Sebuah ulasan redaksi
di Hilversum:

Pernyataan Menhan Mahfud itu mengagetkan kalau kita ingat bahwa
citranya selama ini dikenal galak. Media massa di Aceh bahkan
menyebutnya sebagai tokoh Jakarta yang senang mendengungkan "nyanyian
perang". Penegakan hukum sejak Desember lalu memang menjadi kata
kunci Jakarta dalam menghadapi masalah Aceh dan Papua. Tetapi di
seputar itu, para politisi ultra nasionalis Jakarta, sipil maupun
militer, unjuk gigi dengan retorika yang galak maupun penampilan
fysik bersenjata.

Awal Desember lalu misalnya, Mahfud, kepada Aceh, mengancam suatu
operasi militer, padahal pendapat umum di Aceh tapi juga di Jakarta,
tahu benar betapa bahaya untuk menantang Aceh yang sakit hati itu.
Pada saat bersamaan, dalam menghadapi Papua, TNI mengirim 10-ribuan
satuan Kostrad, Brigmob, 39 kapal perang dan satu skuadron pesawat
tempur Hawk, padahal gerakan pro-kemerdekaan Papua cuma memainkan
jurus jurus politik yang damai, sedangkan gerilya perlawanannya lebih
banyak bersenjata parang dan panah.

Tegak hukum, dengan kata lain, lebih mirip suatu retorika substitut
bagi gertakan Jakarta kepada daerah-daerah yang ingin memisahkan
diri. Retorika itu tentu saja, lebih layak diterima publik di dalam
dan terutama di luar negeri, ketika dunia mulai resah melihat
pertumpahan darah di daerah daerah bergolak seperti Aceh, Papua dan
Maluku.

Mingguan Tempo baru baru ini menyimpulkan bahwa Aceh dan Irian Jaya
adalah korban dari inkonsistensi kebijakan yang dijalankan
pemerintahan Jakarta. Ketika martabat politik TNI terpuruk akibat
jatuhnya Presiden Soeharto dan lepasnya Timor Timur, Presiden Wahid
memanfaatkan situasi dengan uluran zaitun-perdamaian kepada Aceh dan
Papua. Gus Dur menawarkan referendum, mengirim utusan pribadinya,
Bondan Gunawan, untuk bertemu Panglima AGAM Tengku Syafei dan
kemudian membuka dialog dengan GAM di Jenewa.

Di Irian Jaya, jurus rekonsiliasi Gus Dur juga mempesonakan daerah
tersebut. Rakyat Papua pada akhir 1999 memasuki euforia, dengan
menyambut pulihnya kembali kehormatan nama "Papua" dan bendera
Bintang Kejora. Para pakar pun terkesima. Awal tahun lalu, Profesor
Daniel Lev dari Universitas Washington, Seattle, menyebut Gus Dur
sebagai seorang "genius", dan profesor Herbert Feith dari Australia
merasa "sangat optimistis" dengan pendekatan Kyai yang humanistis dan
terbuka ini.

Ternyata, bulan madu Gus Dur dengan Aceh dan Papua itu tak berumur
lama. Para pengamat menyimpulkan kalangan TNI mulai unjuk gigi dengan
merangkul Wapres Megawati Soekarnoputri dan menekan Gus Dur. Maka
tampillah Mbak Mega di atas tank Kopassuss di Cijantung, dan Ahad
lalu, dalam perayaan HUT ke-28 PDI-P, putri Bung Karno ini mengajak
warga partainya menjauhkan kekerasan, mengamankan reformasi dan
menjaga kesatuan bangsa. "Kesatuan nasional adalah di atas
segala-galanya," demikian pesannya. Namun perkembangan masalah Aceh
dan Papua tak dapat dijelaskan secara elitis belaka, yaitu dari segi
pertentangan antar elit politik Jakarta semata-mata.

Kemarahan Aceh - seperti juga Timor Timur dan Irian Jaya - bermula
dari ulah kebiadaban tentara di wilayah tersebut semasa Orde Baru.
Bedanya, di Aceh hal itu tercermin dari "DOM" dan "GAM". "DOM"
(operasi tentara semasa Daerah Operasi Militer, 1989-98) menjadi
lambang dari penderitaan rakyat yang kehilangan ribuan putra-putrinya
dan merasa sangat terhina karena tak mampu menjalankan kehidupan
maupun ritual keagamaan secara layak selama puluhan tahun. Dan "GAM"
(Gerakan Aceh Merdeka) tidak serta merta mengisyaratkan simpati
rakyat kepada gerakan dari desa Tiro di Pidie itu, melainkan menjadi
lambang dari perlawanan rakyat dalam rangka membebaskan diri dari
keterhinaan dan ketidakberdayaan, dan mencari keadilan.

Irian Jaya - tepatnya nasionalisme Papua - juga tengah mencari
keadilan. Dua kata kuncinya di sini, yakni, mencari "kebenaran" dan
"kedamaian" menjadi lambang dari aspirasi yang disebut "pro-M"
(membela kemerdekaan). "Kebenaran" mengacu kepada kesadaran
masyarakat akan kecurangan dan penyimpangan sejarah yang terjadi
dalam berbagai bentuk - mulai dari penghapusan istilah "Papua",
pengingkaran terhadap Bintang Kejora dan pernyataan kemerdekaan 1
Desember 1961, sampai manipulasi Persetujuan New York (1962) dari
"one man one vote" menjadi "Pepera" (Penentuan Pendapat Rakyat Papua,
oleh 1026 utusan yang ditunjuk oleh tim Opsus Mayjen Ali Moertopo
pada 1969). Dan "kedamaian" lepas dari konotasi religiusnya, adalah
cerminan Real Politik dari kenyataan sosiologis dan politik Irian
Jaya. Dengan kata lain, perjuangan ini harus berpijak dari kenyataan
masyarakat dan pra-sarana yang diterlantarkan Orde Baru dan
dipilah-pilah oleh kenyataan geografi yang rumit dan ganas.

Walhasil, kalau kemarahan Aceh menemukan jalan pintas, dengan memilih
titik pijak pada Gerakan Aceh Merdeka yang bangkit pada 1976 dan
kemudian menggalang masyarakat untuk menuntut referendum, di Irian
Jaya, gerakan pro-M harus menempuh jalan yang unik. Gerakan
kebangkitan Papua dari tengah masyarakat yang relatif lemah, mau tak
mau, harus menempuh jalan damai di atas landasan hukum - ironisnya
persis seperti PDI-P Megawati yang di bawah Orde Baru selalu taat
hukum sekali pun digebrak secara berdarah dalam Peristiwa 27 Juli
(1996). Yaitu, berawal dengan pertemuan 12 November 1999, kemudian
Februari 2000, lalu Musyawarah Besar, dan akhirnya bermuara pada
Konggres Rakyat Papua kedua, Mei-Juni 2000, yang menghasilkan wadah
"Presidium Dewan Papua" (PDP).

Namun, justru jalan "loyalis" inilah yang sekarang dipersoalkan
Jakarta untuk menggulung gerakan pro-M Papua. Pertemuan pertemuan dan
konggres yang notabene direstui dan dibantu oleh Presiden Abdurrahman
Wahid dan Muspida Irian Jaya itulah yang sekarang dituduhkan sebagai
upaya makar terhadap sejumlah tokoh PDP yang (sudah dan akan)
ditahan.

Jadi, bukan Aceh - yang bangkit lewat "jalan pintas GAM" - pun bukan
Papua - yang bangkit dari posisi lemah dan dari bawah - melainkan
Jakarta-lah yang kini berada di simpang jalan. Jakarta-lah yang harus
memilih suatu format politik untuk membangun reformasi, dengan dialog
dan demokrasi, atau - dalam istilah Wapres Megawati - dengan
mengutamakan "kesatuan nasional di atas segala-galanya".

Februari mendatang, Jakarta harus menuntaskan pendekatannya terhadap
Aceh (di lapangan dan di Jenewa) dan menyelesaikan kasus kasus hukum
tokoh tokoh pro-kemerdekaan Papua. Memecah-belah suatu masyarakat -
dengan mengusulkan propinsi Galaksi (Gayo, Alas dan Singkil),
menjadikan pemimpin GAM Hasan di Tiro sebagai Wali NAD (Nanggroe Aceh
Darussalam) dan menggalang komponen-komponen Aceh di luar GAM, dan
"memekarkan" Irja menjadi tiga propinsi, bukanlah suatu jawaban yang
tuntas di dalam kerangka demokratisasi Indonesia. Sebaliknya, memilih
"nyanyian perang" hanyalah akan membuat Aceh menjadi "Irlandia Utara
kedua" dan akan mengancam Irian Jaya menjadi "Timor Timur kedua".

Untuk mencegah bencana itu, paling sedikit, Gus Dur, yang bintangnya
merosot sejak Juni lalu, harus menguji kembali jurus Zatoichi
(samurai Jepang yang buta) itu atau jurus Paulo Rossi (jago bola
Italia), yang setahun lalu pernah sukses ketika menyingkirkan Jendral
Wiranto.


---------------------------------------------------------------------
Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
---------------------------------------------------------------------


................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com 















Kirim email ke