--------------------------------------------------------------------- WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP Edisi: Bahasa Indonesia Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir. --------------------------------------------------------------------- Edisi ini diterbitkan pada: Rabu 17 Januari 2001 16:20 UTC * BENARKAH GUS DUR SUDAH MENGKHIANATI REFORMASI? Polisi di jakarta menggunakan gas air mata untuk membubarkan para demonstran yang menuntut pengunduran diri Presiden Abdurrahman Wahid. Para demonstran yang berunjuk rasa antara lain beranggapan, bahwa Presiden sudah mengkhianati reformasi. Tapi benarkan reformasi itu di bawah Gus Dur memang sudah mati? Berikut penjelasan Vedi R. Hadiz, pengajar pada Universitas Nasional di Singapura: Vedi R. Hadiz [VH]: Orang-orang itu kira-kira akan menghadapi persoalan-persoalan yang sama. Dan lagipula akan menghadapi realita yang sama, yaitu bahwa masih banyak sekali kekuatan-kekuatan sisa-sisa Orde Baru yang kini mengejewantahkan diri di dalam bentuk partai-partai baru, dan kini mempunyai kekuatan di parlemen serta institusi-institusi negara lainnya. Yang akan menangkal usaha-usaha untuk melakukan reformasi di segala bidang. Karena itu tentunya akan melukai kepentingan mereka sendiri. Radio Nederland [RN]: Tetapi anda setuju dengan mahasiswa yang mengatakan bahwa reformasi sekarang sudah mati? Sudah tidak ada lagi? VH: Walaupun dikatakan tidak mati, saya anggap setidak-tidaknya dalam keadaan koma. Tapi keadaan itu saya kira tidak diawali dengan naiknya Gus Dur ke posisi Presiden. Jatuhnya reformasi dalam koma atau dalam keadaan sekarat, setidak-tidaknya itu bisa ditelusuri jauh ke belakang sebelumnya. Pada November 1998. Yaitu pada waktu DPR/MPR yang adalah hasil dari Orde Baru meratifikasi rencana reformasi amat gradual dan perlahan-lahan, yang dicanangkan oleh pemerintah Habibie. Di dalam rencana itu, memberikan kemungkinan kepada kekuatan-kekuatan lama melakukan rekonstitusi diri, dalam bentuk-bentuk aliansi-aliansi baru. Kalaupun tidak Golkar yang kita identifikasi sebagai kekuatan lama, sebenarnya kalau kita lihat semua partai besar yang ada, itu hampir semua diisi, untuk bagian-bagian yang sangat penting, oleh orang-orang yang sedikit banyak merupakan bagian dari sistem patronase Orde Baru lama. Yang ingin dijatuhkan oleh mahasiswa dulu. Nah lewat partai-partai dan lewat parlemen sekarang ini mereka itu sedang melakukan upaya-upaya untuk mengkonsolidasikan kekuasaan mereka di dalam sistem politik yang baru. Kalau dikatakan bahwa di jamannya Soeharto kepentingan-kepentingan elit yang berada dalam sistem patronasenya yang berpuncak pada Soeharto itu, harus dilindungi lewat kekerasan, lewat sistem represif dan lain sebagainya. Sekarang ini tidak perlu lagi, cukup lewat parlemen, dan cukup lewat partai-partai. Tetapi itu adalah mekanisme yang rupanya cukup memadai untuk melindungi mereka dari tekanan massa yang lebih luas. RN: Buaknkah tokoh-tokoh seperti Amien Rais, Megawati dan Gus Dur itu semua dulu yang disingkirkan oleh Orde Baru, dan mereka sekarang yang tampil? VH: Ya, orang seperti Megawati, Gus Dur dan Amien Rais itu adalah orang-orang yang disingkirkan oleh Orde Baru. Dalam arti tertentu itu benar. Tapi kalau dilihat sejarah mereka, sosialisasi politik mereka, bagaimana mereka naik, itu tidak lepas dari sistem patronase Orde Baru. Megawati adalah dulu Ketua PDI. Dan PDI ini adalah bagian dari sistem Orde Baru. Amien Rais ia adalah ICMI. ICMI itu kan alat Orde Baru untuk memobilisir dukungan dari kalangan kelas menengah Islam. Gus Dur adalah Ketua dari NU. Nu itu juga mempunyai hubungan cinta-benci yang panjang dengan Orde Baru. Dan kita jangan lupa bahwa NU itu mempunyai sistem sampai jauh ke bawah . Itu sistem grass-root dan lain sebagainya, dikuasai oleh local boos, para kyai dan lain sebagainya yang semuanya itu adalah orang-orang yang sangat penting peranannya dalam mendirikan Orde Baru. Dan Gus Dur ini kita tahu kan, yah kadang-kadang menjadi oposan dari Orde Baru setelah Forum Demokrasi , tetapi sebelumnya jauga mempunyai hubungan yang cukup baik juga, tetapi lepas dari urusan ketiag orang itu seperti kita lihat kalau PDI dan PDI-P sekarang ini, ada siapa di situ. Memang ada berbagai reformis, tapi itu jadi habitat siapa. Habitat dari orang-orang yang dulu lari dari Golkar, eks ABRI, petualang-petualang politik yang dulu dipelihara oleh Orde Baru juga, preman-preman politik. Beberapa pengusaha-pengusaha yang dulu dibina oleh orde Baru dan sekarang pindah menacari patron-patron dan pelindung-pelindung politik baru. PAN kita lihat juga untuk sebagian besar begitu. Yaitu orang-orang yang eks-ICMI terutama. Sayap intelektual reformis dia tersingkirkan hampir. Yah ini mungkin kelihatan secara paling gamblang itu dengan keluarnya Faisal Basri, belakangan dari PAN. Ini sudah sangat dikongkritkan. Lihat saja siapa yang duduk di dalam partai-partai itu, kepentingan-kepentingan apa yang mereka representasikan, sosialisasi politik mereka itu seperti apa, dari mana mereka lahir, dari mana mereka naik. Copyright Radio Nederland Wereldomroep. --------------------------------------------------------------------- ................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia............... Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com
