Waduh kalau udah begini memang harus ada
kesamaan paham. Saya sebenarnya mau
berusaha mendudukan fungsi masing-masing
dan jika semua dari rakyat sudah tidak ingin tahu.
Wajarlah budaya teror itu hidup dan seharusnya
anda juga dapat berkata biarlah teror itu tetap
hidup asal jangan gangu hidup kita saja. Ha... Ha...
Demokrasi Liberal (atau) bebas harus ada kejelasannya.
Pemerinatah juga tidak bisa lepas tangan sesuai keinginan
"zaman" dibawah tekanan IMF dan World Bank.
Peran pemerintah kian dimandulkan, peran ekonomi yang
katanya dulu sering disalahgunakan (KKN). Terbukti tidak
juga menyelesaikan pekerjaan rumah tangga yang sudah
secara bebas-blas-blas kita serahkan pada hukum pasar
global, sebagai orang yang manut Gusdur turut mengamininya.
Ditambah lagi dengan media massa yang lupa lagi dapat
memperjuangkan makna ketimuran dan kealamian negeri
INDONESIA. Menjadikan dinegeri yang berbudaya kita
lupa akan budaya kita sendiri. Kita lebih menerima budaya
Instan asal cepat saji saja. Kita lupa budaya kekerabatan
dan gotong royong (jelas dengan tujuan yang baik). Bukan
KKN, ha..ha..
Saya bisa mengerti kebinggungan anda dan rakyat. Akar masalah memang tidak
bisa 100% kita salahkan kepada pemerintahan
GUSDUR. Subandrio (politisi tiga jaman) mengatakan Budaya
sosial kita selama bertahun-tahun sudah berhasil diubah oleh
pemerintah Orba, disanalah "jasa pemerintah orba dimana rakyat
sudah dapat memahami makna dari arti penting uang." Dan Gus dur terus
melanjutinya malah melewati batas-batas kewajaran.
Sehingga rakyat kembali dikibuli lewat data-data fiktif tentang
kenaikan nominal dari perekonomian Indonesia yang hanya
dikuasai oleh tidak sampai 5% dari seluruh penduduk indonesia.
Peran pemerintah yang makin kecil lewat alat-alat fitalnya seperti
telekomunikasi, PLN dan Tranportasi menjadi barang dagangan
yang mengiurkan yang sebentar lagi lepas diambil alih oleh
orang-orang "profesional" dari negeri asing. Nasionalisasi
menjadi kabur dengan makana Globalisasi yang diangap
"baik yang ngerti maupun tidak sebagai sebuah istilah
keren yang sedap untuk dikunyah dan ditelan seperti waktu
Bung amin mempopulerkan istilah Reformasi."
Maka saya kembali teringat dua tulisan saya sebelumnya.
Dan menurut bahasa jawa. Kita ini sedang menunggu ratu
adil. Siapakah ratu adil itu?
Orang yang dapat menyatukan dalam satu tindakan dan satu
komando dengan aspirasi rakyat dibawahnya. Figur yang
dapat bicara dengan rakyat, bersama figur-figur lainnya.
Sehingga (semogga) kekecewaan Bung Kitaro dapat terobati.
Tanpa adanya kesatuan fisi tidak ada gerakan yang ingin kita
tuju. Sekarang jika kita kembalikan apa di DPR ada persamaan fisi yang kita
dapati, baik rakyta, DPR dan Pemerintah?
Dan ketika gerakan Reformasi pecah... yang ada Bloaaar, Bom meledak
dimana-mana?
MYP
----- Original Message -----
From: Fukuoka Kitaro <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 20 Januari 2001 6:35
Subject: Re: [Kuli Tinta] Re: [indonesia_damai] RT&RW: Konferensi Rukun
Tetangga dan RUkun Warga
> Wah, susah dan panjang ya Om Pop?
> harus berkonsiliasi politik, rakyat, dll.
> sedang banyak kalangan lsm-2 kere
> yang lebih banyak mengurusi rakyat
> kecil dan petani, sudah mengeluhkan
> bahwa kalangan awah yang harusnya
> dapat diikat pada RT-RW, sudah jeleh
> dengan perangkat-2 itu. apalagi pada
> rumahnya yang di Jakarta.
>
> Mereka berpendapat, sekarang ini
> sebaiknya diusahakan agara rakyat
> tak terlalu lagi bergantung kehidupannya
> kepada wakil-wakilnya, bahkan kepada
> pemerintah sekalipun. dengan catatan
> mereka disadarkan masih terikat dalam
> bentuk imajiner bangsa besar INDONESIA.
>
> Sayang, bahwa keinginan mereka pun sekarang
> buntu. mereka ingin berbuat sesuatu untuk
> membangun bangsanya dari lapis paling bawah,
> tetapi apa dan bagaimana caranya. itu keluhan
> kelompok lsm-2 kere yang kuat terungkap tapi
> tak kuasa bergema. apalagi sampai ibukota.
> beberapa malah menuntut sekarang kepada
> wakil-wakilnya agar setidaknya mau memperhatikan
> keluhan para pemilihnya. (sayang waktu itu mereka
> banyak memilih partai! dan pertimbangan utamanya
> adalah CALON PRESIDEN bukan calon anggota
> legislatif). mereka menuntut, bersediakah wakil-2
> terhormat itu kembali ke daerah pemilihan masing-2
> untuk melihat (2 MATA) dan mendengar (2 TELINGA)
> atas kondisi dan aspirasi MURNI rakyat, sebelum
> mereka bicara (hanya satu MULUT) menyatakan diri
> sebagai penyampai aspirasi RAKYAT. sebelum nafkah
> yang memasukinya mengandung UMPATAN dan
> CACIMAKI rakyat.
>
> hehe, memang rupanya mereka lupa bahwa dasar
> negara yang sedang mereka kendarai adalah pancasila
> dengan sila ke-4 'yang dipimpin oleh hekmat kebijaksanaan
> dalam permusyawaratan/perwakilan'. segi di belakang
> garis miring itu terlupakan. lihat kengototan pansus
> yang ingin 'nggruduk' istana untuk bersidang, dengan
> seorang promovendus seorang warga negara bernama
> ABDURRAHMAN WAHID, yang katanya sewaktu dipanggil
> berstatus warga biasa dengan namanya itu, tetapi sewaktu
> diselidik, berubah triwikrama menjadi KEPALA NEGARA dan
> KEPALA PEMERINTAHAN.
>
> salam,
>
> Fukuoka Kitaro
> --------------------------
> 2 mata, 2 telinga, 1 MULUT,
> jagan dibalik urutannya!
>
>
> ----- Original Message -----
> From: "My Populis" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Saturday, January 20, 2001 12:07 AM
> Subject: [Kuli Tinta] Re: [indonesia_damai] RT&RW: Konferensi
> Rukun Tetangga dan RUkun Warga
>
>
> TEROR BUKAN MAKANAN ANEH.
>
> Saya hanya mengajak kepada kita semua yang ingin menuntaskan
> kemelut di
> negara ini. Dengan lebih
> terbuka.
>
> Dalam ilmu sosial dan politik dikenal arti rakyat.
> Atau rakyat yang berdaulat. Makna kedaulatan rakyat
> ada pada lembaga Tinggi negara yang kita sebut DPR.
>
> Tetapi ketika awal reformasi dalam makna transisional.
> Ada perangkat-penarangkat teknis yang tidak kita cermati
> itu hidup dan menjamur dimasyrakat.
>
> 1. Mulai munculnya berpuluh-puluh organisasi yang mengatas
> namakan rakyat.
> 2. Timbulnya tekanan-tekanan masa baik dari kelompok yang sudah
> sering
> dikenal maupun yang baru.
>
> Kedua hal diatas ini saya angap baik. Saya dapat menerima
> jika ada beberapa kalangan munculnya budaya berorganisasi
> ini dianggap salah.
>
> Tetapi yang aneh adalah munculnya organisasi yang seharusnya
> pun tidak usah takut untuk terang-terang muncul.
> Kelompok teror yang tidak berinisial dan beridiologi jelas ini
> memungkinkan terjadinya bentrokan pengkaburan makna
> demokratisasi.
>
> Dari dua sisi kekuatan kelompok tak jelas ini. Makin kuat dengan
> adanya lembaga DPR yang tidak aspiratif terhadap rakyat.
> Sistem tentang susduk MPR tidak memungkinkan wakil rakyat
> dekat dengan pemilihnya. Atau malu-malu untuk mengatakan
> bahwa kami partisan dari kelompok itu.
>
> Cuma ormas PBB dan HMI yang benar-benar berani menekan
> pemerintahan GUSDUR. Selebihnaya kelompok tak jelas dan
> banyak dugaan kelompok ini hidup dadakan alaias tidak punya
> fisi organisasi dan konsep yang jelas hal ini terlihat ketika
> demo menetang gusdur kemarin.
>
> Dari beberapa kelompok massa ada kelompok lain yang lebih
> berpengalaman dalam menjatuhkan orde baru. Dengan puluhan
> organisasi
> dibelakangya. Kelompok ini sebenarnya mayoritas mempunyai konsep
> yang jelas
> dari awalnya. Tetapi karena
> politik kita sudah dikuasai oleh politik ala macifeli ini. Maka
> elit
> lah yang lebih menentukan dari pada aspirasi massa. Figur
> pun lupa pada massanya.
>
> REKONSILISASI ORGANISASI.
>
> Dari beberapa diskusi yang saya ikuti terlihat adanya keinginan
> untuk menyelesaikan permasalahan konflik pada makna
> yang lebih substansial. UUD45 menjelakan bahwa seluruh
> warga masyarakat berhak untuk berbicara lisan dan tulisan
> dan berkelompok (Organisasi).
>
> MAKNA DEMOKRASI / PERBEDAAN dalam ORGANISASI.
>
> Oleh sebeb itu diberlukan Rekonsiliasi Organisasi yang benar-
> benar memperjuangkan semangat perbedaan dan wadah
> yang konkrit yang dapat menjelaskan kepentikan ekonomi dan
> politik dari para anggotanya.
>
> Oleh sebqab itu diskusrsus tentang negara dan sistem masyarakat
> sudah
> selayaknya tidak menjadi barang tabu lagi
> untuk diungkap dan didiskusikan.
>
> Seluruh elemen masyarakat sampai tingkatan terkecil harus
> punya cantolan, sehingga mudah untuk menganalisa dan
> menilai seluruh tuntutan dari rakyat.
>
> BENARKAH DPR WAKIL RAKYAT?
>
> Jika kita bertanya ketika ada kesalahan pada kabinet atau
> pemerintah benarkah bahwa itu adalah tuntutan rakyat?
> sebagian kecil mengatakan bahwa itu bukan tuntutan rakyat.
> Orang semakin emoh melihat politik. Orang semakin jauh
> dari DPR. Selain orang-orang yang dibayar untuk mendukung
> kelompok (bukan komunitas) yang dia perjuanginya.
>
> MULAI MEMBANGUN REKONSILIASI ORGANISASI
> LEWAT DEWAN YANG BERAKAR DARI RAKYAT.
>
> Dulu ketika munculnya berpuluh-puluh organisasi mahasiswa
> yang berbeda, perbedaan dapat disalurkan lewat lembaga
> pemersatu mahasiswa yang disebut DEWAN MAHASISWA.
> Ketika ada masalah yang menjadi kepentingan (mahasiswa)
> secara utuh tuntutan tersebut murni jatuh pada kepentingan
> mahasiswa.
>
> Begitu pula dengan organisasi lainnya. Jika ditani ORBA berhasil
> membentuk
> KTI (kerukunan Tani Indonesia). Tetapi maknanya bukan perbedaan
> (demokratisasi) tetapi setralisme tunggal yang ada sehingga
> wacana perbedaan
> dari kalangan kaum buruh indonesia tidak hidup. Bentuk inilah
> yang banyak
> dituduh orang Indonesia berwatak Stalinis tersebut. Begitu Juga
> dengan Buruh
> yang hanya satu Organisasi yaitu SPSI.
>
> Tetapi ketika orba bergulir SPSI-pun hampir sama dengan PWI
> bubar menjadi
> SPSI reformasi dan PWI reformasi, Muncul aji dan sebagainya.
>
> Menganalisasa kebebasan yang tidak bertanggung jawab dalam pers
> misalnya.
> Oleh sebab itu dibutuhkan DEWAN PERS. Dewan yang aspirasinya
> dari seluruh
> organisasi wartawan yang ada di Indonesia.
>
> Seluruh Komponen masyarakat BURUH, TANI, WARTAWAN (atau Kelompok
> Profesional
> lainnya), MAHASISWA, PENGANGURAN/PEDAGANG KECIL/KAUM MISKIN
> KOTA, PENGUSAHA
> harus memiliki ORGANISASI dan dewan sebagai pelindung mereka.
> Oleh sebab itu
> dengan diadakannya rekonsiliasi secara keseluruhan lewat
> organisasi mau
> tidak mau rakyat harus berorganisasi.
>
> PENTINGNYA BERORGANISASI dan KEPENTINGAN
> MEMBENTUK PAYUNG DEWAN.
>
> 1. Menghidari Profokasi dari kelompok yang tidak jelas
> indentitas organisasinya.
> 2. Menghindari gerakan BAWAH TANAH dari elemen sakit hati.
>
> SAMPAILAH KITA PADA KONTROL DPR?
> Jika kita sudah memiliki wada dan temapat bermusyawarah.
> Kita dapat menghidupi DEWAN RAKYAT yang benar-benar hidup dari
> kontrol
> rakyat dan bertanggung jawab pada rakyat.
> Maka MPR yang memang diseluruh negara kecuali Indonesia
> saja memiliki MPR sudah dipandang usai dan tidak perlu.
>
> DEWAN-DEWAN MUSYAWARAH daerah dan ORGANISASI
> inilah yang akan menyampaikan secara berkala kepada legislatif
> sebagai panduan bekerja Eksekutif. Sehingga tidak ada lagi
> polemik dukung mendukung dan pro-proaan.
>
> SELAMA SISTIM POLITIK YANG BERLAKU DI INDONESIA
> BERSIFAT TOP DOWN. SIAPAPUN PEMERINTAHNYA
> AKAN BERJALAN DITEMPAT.
>
> RUMAH RAKYAT DPR ITULAH YANG DIBENAHI. DAN CARA
> MEMBENAHINYA BUKAN DENGAN MENGAJI WAKIL RAKYAT
> TINGGI UNTUK UPAH PEMILU MEREKA.
>
> SISTEM YANG BERLAKU (seperti tulisan Arbi Sanit di KOMPAS) tidak
> memungkinkan wakil Rakyat yang ada DI DPR
> untuk dekat dengan Pemilihnya (Rakyatnya).
>
> Untuk itu harus ada kesamaan dan kesamaan itu menurut saya
> bukan dibangun dari atas. Jika dari atas ketakutan saya yang
> akan terjadi budaya Stalis baru di kehidupan rakyat di
> Indonesia.
> Rekonsiliasi harus berakar dari kepentingan rakyat bawah dan
> wadah
> organisasi terkecil dibawahnya.
>
> Wassalam
>
> MYP
>
>
> ----- Original Message -----
> From: siska widyawati <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: 19 Januari 2001 1:26
> Subject: [indonesia_damai] RT&RW: Konferensi Rukun Tetangga dan
> RUkun Warga
>
>
> > Salam
> > waduuh anda insinyur dan semacamnya? atau mau
> > mancing..? heheheh
> > KOnferensi RT-RW adalah konferensi Rukun Tetangga atau
> > RUkun Warga se Indonesia. Peak konferensinya bisa
> > diganti (seperti pertemuan karang taruna, persatuan
> > majelis taklim) tapi yang jelas dibutuhkan satu
> > gerakan yang menyentuh langsung orang kebanyakan dan
> > menembus langsung sampai dalam pembicaraan
> > kantung-kantung pos ronda, warung kopi, warteg, arisan
> > dan dapat dipraktekkan. Sederhana tapi substantif.
> > KOnferensi itu berisi pelatihan praktis:
> > 1. Membangun pertahanan masyarakat. (Misalnya apa sih
> > yang dilakukan kalau ada kerusuhan, warga disiapkan
> > untuk membuat semacam base perlindungan di kantungnya
> > sendiri)
> > 2. Strategi menangkis isue dan kepanikan.
> > 3. Membangun link antar RT-RW sehingga informasi yan
> > gsifatnya menggau dapat terwakili.
> > Pada intinya hal-hal semacam itu. Sebab masyarakat
> > harus mempunyai pertahanan sendiri secepatnya. Kalau
> > tidak mau berapa korban lagi. Dan yan gpaling penting
> > . Mau bergantung sama siapa lagi?. KEcuali TUhan dan
> > diri sendiri, serta kesadaran bersama yang insya allah
> > dapat kita bangun, kita tidak dapat percaya
> > siapa-siapa lagi.
> >
> >
> > --- [EMAIL PROTECTED] wrote: > --- In
> > [EMAIL PROTECTED], siska widyawati
> > > <[EMAIL PROTECTED]>
> > > wrote:
> > > > selamat pagi, siang dan malam,
> > >
> > > selamat malam, pagi dan siang mbak Ika,
> > > boleh ya saya nimbrung!
> > > atau kalau saya salah tolong di koreksi...
> > >
> > > >
> > > > NB:Usulan saya ttg konferensi RT-RW, dan
> > > semacamnya
> > > > itu serius. Kenapa ya, FID tidak mengambil posisi
> > > itu.
> > > > Soalnya yang berposisi sebagai "pemain level
> > > > kebijakan" itu sudah banyak. FID mau menciptakan
> > > > apa,kelas menengah ? itu sudah tercipta. Tidak ada
> > > > yang menyentuh (betul-betul) menyentuh orang
> > > > kebanyakan. Tidak bisa digerakkan pribadi. Itu
> > > harus
> > > > dimulai dari "pemain - pemain public figure kita"
> > >
> > > Konferensi RTRW itu maksudnya Rencana tata ruang?
> > > kalau yang dimaksud RTRW itu adalah tata ruang,
> > > mengapa harus konferensi tingkat nasional?
> > > dan mengapa pula harus FID yang mengambil posisi?
> > >
> > > soale,
> > > RTRW (kalau artinya tata ruang) itu adalah wewenang
> > > PEMDA,
> > > dan itu adalah bagian yang telah di
> > > desentralisasi-kan ..
> > >
> > > peace,
> > > erna
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > =================================================
> > >
> > > Forum ini bukan forum debat kusir tetapi bertujuan
> > > untuk membangun komunikasi massa yang positif dalam
> > > upaya mendorong lahirnya Indonesia yang lebih baik,
> > > serta untuk menggali
> > > berbagai aspirasi, sambil menguji berbagai langkah
> > > FID dalam persepsi komunitas yang lebih luas atau
> > > kirimkan pula kritik & masukan terhadap kelangsungan
> > > FID di masa yang akan datang dan untuk tercapainya
> > > Indonesia yang lebih baik.
> > >
> > > Bila ingin menjadi anggota milis ini kirimkan email
> > > ke: [EMAIL PROTECTED]
> > >
> > > Bila ingin keluar dari keanggotaan milis ini
> > > kirimkan email ke:
> > > [EMAIL PROTECTED]
> > >
> > > =================================================
> > >
> >
> >
> > ____________________________________________________________
> > Do You Yahoo!?
> > Get your free @yahoo.co.uk address at http://mail.yahoo.co.uk
> > or your free @yahoo.ie address at http://mail.yahoo.ie
> >
> > =================================================
> >
> > Forum ini bukan forum debat kusir tetapi bertujuan untuk
> membangun
> komunikasi massa yang positif dalam upaya mendorong lahirnya
> Indonesia yang
> lebih baik, serta untuk menggali
> > berbagai aspirasi, sambil menguji berbagai langkah FID dalam
> persepsi
> komunitas yang lebih luas atau kirimkan pula kritik & masukan
> terhadap
> kelangsungan FID di masa yang akan datang dan untuk tercapainya
> Indonesia
> yang lebih baik.
> >
> > Bila ingin menjadi anggota milis ini kirimkan email ke:
> [EMAIL PROTECTED]
> >
> > Bila ingin keluar dari keanggotaan milis ini kirimkan email
> ke:
> [EMAIL PROTECTED]
> >
> > =================================================
> >
>
>
> ................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini,
> http://www.indokado.com
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> ................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com