Membicarakan masalah pupuk, terutama untuk persawahan, tidaklah sederhana. Karena akan berkait-kaitan dengan pola kebijakan pengadaan pangan sebagai produk sawah. Kebetulan sekali produsen persawahan ini terlanjur erat dan padu dengan kemiskinan (meskipun tidak murni, karena banyak petani besar di lumbung-2 padi terutama Jawa Barat, tergolong kaum berpunya). Juga dari petani-petani kaya inilah yang harus secara jujur diakui menjadi "pembongkar" kelangkaan pupuk, padahal walaupun dalam satuan luas yang sama, keuntungan mereka kecil, tetapi dengan luasnya lahan, tetap saja lebih beruntung ketimbang petani-2 gurem. Dan suatu kenyataan, bahwa petani PHT binaan beberapa rekan saya yang menjurus ke low-input and sustainable agriculture (LISA) adalah petani gurem! Namun perlu diingat juga bahwa kebutuhan akan pupuk itu merupakan konsekuensi logis dadi usaha revolusi hijau sejak PELITA pertama dengan Bimas-Inmas. Bimas Inmas memang cenderung menuju budidaya padi intensif yang mengandalkan keunggulan varietas dan teknik budidaya. Kebetulan pula varietas unggul yang digunakan adalah produk IRRI yang memiliki sifat "rakus" pupuk dan rentan "cekaman" lingkungan, terutama pests & deseases. Ingat pula IRRI tadinya akan dibangun di Indonesia, dan gagal dengan pernyataan "Go Hell with your Aid"-nya Soekarno. IRRI kalau tak salah, sponsor utamanya adalah Rockefeller (mudah-mudahan benar) Fundation, yang adalah perusahaan petrokimia raksasa. Salah satu side product petrokimia adalah pupuk dan pestisida. Di sinilah harusnya kita berpijak dan mencari benang merah. Barangkali tuduhan NEKOLIM waktu dulu bukanlah isapan jempol (kaki). Varietas padi yang rakus pupuk mau tak mau harus ada penyedia pupuknya di Indonesia. Maka dibangunlah pusri, gitu kan? Tetapi dari pusri ini berapa persen komponen produksi impor yang berasal dari side-produk petrokimia? Belum lagi ada "keharusan" mendatangkan pestisida (obat-obatan pertanian) yang juga banyak berbasis pada side-product petrokimia. Maka sebetulnya sebagai salah seorang peminat pertanian rakyat, saya mendambakan tindakan nyata dari para ilmuwan dan pakar, terutama pemulia tanaman (breeder) untuk menciptakan varietas-2 padi (dan atau tanaman lain) yang mempu berproduksi dengan input minimal. Sebab tak ada gunanya pupuk mudah tersedia, varietas unggul berproduksi tinggi dan sebagainya kalau BERAS masih menjadi produk politis yang RUWET dalam masalah realisasi peningkatan HARGA-nya. Masa harga yang diterima petani hanya separo dari yang ditentukan oleh pemerintah. Apa peran BULOG dalam hal ini? Apakah sektor memasaran beras ini telah dilaksanakan dengan fair oleh BULOG/DOLOG demi kepentingan produsennya? Tanyakanlah pada para petani besar di PANTURA Jawa Barat. Siapa yang menjadi pengepul (bandar atau tengkulak) beras yang membawanya ke DOLOG? Murnikah orang-orang KUD yang diberdayakan secara positif, atau orang-orang BULOG/ DOLOG yang dijadikan tengkulak atau isilahnya "rekanan" lah. Kenyataan yang terekam oleh beberapa LSM gurem, banyak klaim mutu gabah atau butu beras atau penolakan DOLOG atas pemasaran tengkulak-tengkulak bebas, apalagi yang langsung oleh PETANI. Dan ironisnya induk dari dolog-2 ini, yaitu BULOG, salah satu yayasannya menjadi batu sandungan besar...... Jadi kerugian yang dialami Yanatera, sebenarnya siapa yang rugi? (bersambung) salam hormat, Winarso Drajad Widodo ================================ Program Studi Hortikultur Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian IPB Tlp/Facs: 0251-634013 ...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--

Kirim email ke