Beberapa hari yang lalu saya mendapat "hak" memeriksa
ujian mata kuliah Dasar-dasar Agronomi dari suatu
perguruan tinggi negeri. Dasar-dasar Agronomi ini adalah
mata ajaran paling dasar bagi mahasiswa fakultas pertanian
yang berurusan dengan masalah Produksi Tanaman yang
berbasis pada pangan dan bahan industri.
Dari soal-nya saya menangkap bahwa pembuat soal,
yang guru-besar ke-agronomian,
mulai menyadari akan kelemahan suatu teknology yang
dulu sangat dibanggakan. Mulai menyadari bahwa
teknology itu diadopsi dari negara yang sangat berbeda
kondisi iklimnya dengan Indonesia. Itu adalah REVOLUSI
HIJAU yang dulu diterjemahkan dalam Bimas/Inmas,
suatu program "pembangunan pertanian" hasil konsepsi
IPB. Dan berhasil. Kemudian revolusi hijau agar mudah
diterjemahkan menjadi PANCA USAHA TANI, yang
kemudian berkembang menjadi Insus dan terakhir
Supra Insus. Semua serba berhasil, dengan terwujudnya
"swasembada pangan". Walaupun sering dicibir, tetapi
itu memang pernah terwujud berdasarkan angka-2.
Sayang keberhasilan itu tak dikembangkan dengan
sektor-2 pendukung pertanian itu sendiri, terutama
harga produk. Harga beras tak pernah melebihi
harga TELOR, misalnya. Maka tetap saja petani
padi adalah SUBJEK PENDERITA dalam permasalahan
pangan/beras.
Revolusi hijau yang jaya di negeri-2 bermusim 4,
ternyata punya sisi negatif di negeri tropis yang
sebetulnya secara azali, mampu berproduksi pangan
sepanjang tahun. Sepanjang tahun dengan keaneka-
ragaman bahan pangan yang tak ternilai.
Hasilnya apa? Revolusi hijau telah menciptakan
usahatani monokultur bahkan melampaui daya dukung
kesuburan sejati dari tanah. Penanaman padi dipaksa
terus-menerus sepanjang tahun. Varietas padi cenderung
seragam dan hampir semuanya introduksi IRRI. Akibatnya,
biodiversity padi turun drastis. Keterampilan bertanam
tanaman selain padi makin lama makin menghilang.
Penggunaan zat-zat kimia menjadi mutlak perlu agar
padi-padi tamu itu tetap berproduksi.
Dan sekarang, orang menjadi "gandrung" dengan pertanian
organik. Suatu teknik yang dahulu kala bebas berkembang
sesuai tradisi-budaya, yang sekarang mulai langka. Bahkan
secara gebyah uyah, para pakar (termasuk di parlemen)
menyerukan agar dikembangkan teknik ini. Sementara itu
pengetahuan pada hambatan dan faktor kendala tentang
penggunaan dan pembuatan PUPUK ORGANIK masih
jalan ditempat, alias primitif.
Sementara itu di sektor lain, keberhasilan panen padi
yang melimpah menuntut diadakannya lembaga pengendali
distribusi dan penyediaan beras-nya. Lembaga itu adalah
BULOG. Sayang bulog menjadi seolah lepas sama sekali
dari departemen pertanian. Akibatnya hasil binaan depar-
temen pertanian yang berupa petani-petani sukses dalam
berproduksi beras jarang sekali menikmati keberhasilannya,
bahkan menjadi sasaran empuk para penjaja proyek kebijakan
pertanian dan produsen Agrokimia. Baik yang lokal maupun
multinasional.
Dan uraian di atas adalah uraian dari sebagian kecil
jawaban-2 mahasiswa yang boleh dianggap benar
(berdasarkan key-words jawaban) atas pertanyaan:
"Apa hasil positif dan dampak negatif dari revolusi
hijau yang diterapkan di Indonesia?" Dengan ringkas
dapat disimpulkan hasil positifnya hanyalah "pernah
swasembada pangan" dengan dampak negatif
yang demikian luas yang boleh diringkas menjadi
HILANGNYA KEMANDIRIAN PETANI atas USAHA
MEREKA di LAHAN milik pribadi maupun kelompoknya.
Mudah-mudahan menambah wawasan bersama, dan
pantas menjadi perhatian para pimpinan bangsa.
(habis)
salam hormat,
Winarso Drajad Widodo
================================
Program Studi Hortikultur
Jurusan Budidaya Pertanian
Fakultas Pertanian IPB
Tlp/Facs: 0251-634013
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--
- [Kuli Tinta] Re: Pupuk....Re: [indonesia_damai] Siapa Nyusu... Fukuoka Kitaro
- Fukuoka Kitaro
