--- Fukuoka Kitaro <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Lha iya toh Cak Gigih,
> yang namanya kekayaan atau rejeki itu kok memang
> mistirius gitu ya?
> mangkanya banyak orang ikutan pandir ketika para
> pengamat yang doktor-doktor atau malah profesor
> dan profesor itu, yang kerjanya selalu dan selalu
> mengatasnamakan kemiskinan rakyat, pengangguran
> yang mencapai 35 juta jiwa and so on....
> 
> sementara beliaunya sendiri bermobil mewah. elek-
> eleknya BLAZER lak gitu. dengan enteng malah ada
> yang nyebut kalau koleksi mobil mewah nan built-in
> hanya sekedar HOBBY.. tak bisa dibendung, katanya.
> sementara itu sebagai pegawai-pegawai nan paling
> negeri, kan dah ada standard gaji-nya.
> 
> Mangkanya aku naruh hormat dan penghargaan
> yang dalam kepada Pak Amien S. di milist ini.
> yang membukakan adanya standrad international
> itu.

Duit sudah jadi berhala baru saat ini, dik Kitaro.
Duit sudah menjadi aji-ajian dan jampi-jampi ampuh
untuk berselonong kesana-kemari, yang semuanya
ditanggung serba nikmat adanya. Duit sudah menjadi
impian besar, tak cuma bagi si kaya, tetapi juga yang
papa sekalipun.

Contoh-contoh panggung kemewahan dijaja melalui
berbagai cara dan media massa, dan berlangsung selama
kurun Orba berlangsung yang lalu. Bahkan akan masih
akan sedemikian ramainya untuk beberapa waktu
mendatang. Duit telah diyakini oleh semua lapisan
masyarakat sebagai sesuatu yang harus dicari,
mati-matian, atau mati beneran. Kalau jalan bener
terlalu panjang dan berkelok, kenapa tak sesekali
lewat jalan pintas? Jika jualan produk hasil kerja
keras akan terlalu rewel pembelinya, kenapa tidak
jualan harga diri saja ? Atau jualan (selagi punya)
kekuasaan?

Sebagai berhala, izim, jampe-jampe, maka duit
memperoleh kehormatan yang luar biasa. Bank-bank,
boro-boro mau ngikutin standar internasional (mestinya
juga ada, sih, di negeri ini) yang ketakutan bakal
ketempatan duit-untuk-dicuci, mala dia welcome banget,
kok. Lha timbang bank-nya kaga likuid? Lha daripada
kena isu rush lalu terbelangsak masuk inkubator BPPN
atawa bablas pisan? Lha katimbang pemilik duit itu
pindah kos?

Jadi tak perlu heran benar, kalau kepada pemilik duit
yang semakin gede tersebut, dan seyogyanya, kalau
nurut standar internasionalnya Amien S, patut
dicurigai sebagai duit haram, malah berani menggebrak
meja bankir, untuk kasih special rate segala. Sudah
duitnya gedenya bukan main, malah dapat bunga yang
lebih besar dibanding penabung 10-ribuan, malah kalo
perlu, bisik-bisik, bebas pajak, bebas materai, dan
segala rupa yang mungkin. Taruh kata bankir itu
menolak digebrak begitu, yakinlah, besok ia akan
mendatangi bankir tersebut dengan mempertontonkan
bilyet dari bank lain dengan penuh jumawa (salah
sendiri, kenapa kemarin gak ngasih).

Di kampungku ada pegawai pajek, pasti PNS, kan, tapi
sugihnya bukan main. Mobilnya sudah di atas Blazer,
dan itu tak cuma 2, lebih. Ketika pagi-pagi aku yang
kebetulan kebagian ngantar anak sekolah lewat di depan
rumahnya. Anakku, tiba-tiba berkomentar, jadi PNS kaya
gitu kok nggak malu ya Yah. Maka aku bilang, husy..
dia akan malu sama teman-temannya kalau melarat, wong
pegawai pajek kok....

Mungkin tingal 'gak kathokan di tengah pasar' saja
yang boleh bikin malu, ya, dik Kitaro?


=====
Sugih durung karuwan, sombong didisikno...

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get personalized email addresses from Yahoo! Mail - only $35 
a year!  http://personal.mail.yahoo.com/

...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- 
















Kirim email ke