Kepada kawan-kawan AJI, dan organisasi idependen yang lain;
Pimpinan redaksi dll.


SENJATA PERS TELAH HILANG
WARTAWAN TIDAK LAGI MENGUNAKAN INVESTIGASI

Ada sebuah cerita nyata disebuah negeri maju yang dikuasasi oleh seorang
pemimpin mafia. Maka seorang anggota parlemen ini
mengajak seorang wartawan untuk melakukan investigasi dalam
mengupas sepak terjang mafia tersebut sampai akhirnya sang mafia gagal untuk
duduk ke tapuk pimpinan; hal itu terjadi empatpuluh tahun yang lalu. Anggota
Parlemen  meminta bantuan wartawan, karena waktu itu Mahkamah agung dan
pengadilan sendiri sudah dikuasai oleh mafia, maka ia perlu data falit untuk
menjatuhkannya dan pilihannya adalah wartawan.

Dinegeri kita  pers sudah menjadi industri hal itu malah terbalik. Kita
lihat saja (bisa dihitung dengan jari) apakah kita punya wartawan perang
yang handal? Saya tertawa ketika mendengar penelpon dari kalimatan yang
mengatakan kok, lebih banyak wartawan asing dari pada lokalnya kemana aja
wartawan kita;
takut ya?

Wartawan kita lebih memikirkan nyawanya sendiri daripada usaha mengungkap
kasus hingga tuntas. Akibatnya hampir semua pers kita dan sangat
mengkawatirkan hal ini juga dilakukan oleh pers-pers yang mengaku netral
hanya mengungkap sebuah kasus tidak tuntas. Tidak ada usaha mengejar berita
dengan data-data pendukung yang falit. Wartawan kita hanya suka pada nara
sumber yang mudah di kutip; Tetapi takut untuk membuat realita sekali lagi
realita.

Sehingga kelengahan dari wartawan kita dijadikan komoditi dari elit-elit
politik (genit) yang apapun steatmenya langsung saja di kutip dan di
publikasikan tanpa ada upaya mengkupas dasar-dasar politik dari ucapan
tersebut. Akibatnya rakyat tidak terdidik. wacana Pers perjuangan sudah
hilang di telan bumi. Mungkin hal itu hanya ada di wartawan-wartawan kita
dulu yang bersusah payah mendirikan KBN ANTARA.

Dasar-dasar idialisme pers yang sudah luntur kemungkinannya adalah;
1. Tunjangan wartawan yang kecil menyebabkan banyaknya praktek wartawan
amplop. Tetapi dilain pihak sikap amplop inilah yang menyebabkan si wartawan
lebih militan untuk memperbesar berita amplopnya. tetapi gara-gara amplop
juga kadang kala bisa membahayakan dirinya sendiri.
2. wartawan yang mapan tetapi jadi manja dan malas untuk melakukan
investigasi yang penting dapat berita (wartawan salon)
3, Wartawannya memang tidak suka menjadi wartawan tetapi terlanjur jadi
waratwan sehingga tidak ada minat di bidang yang digelutinya baik dari sisi
hukum, politik dan ekonomi.

Dua hal ini yang sekarang sedang membudaya dari dunia pers kita. Banyak
pihak hal ini di salahkan kepada pihak editorialnya. Disatu sisi benar
tetapi disisi lainnya ada kemungkinan salah. karena sang editorial selalu
menekankan deatline tanpa mendahulukan substansi berita sehingga berita
sering kali di muat setengah matang. Dan di biarkan opini berkembang tanpa
ada usaha investigasi dan crosscek.

Hal diatas bisa kita tabukan pada media-media bersifat harian. Tetapi jika
media mingguan atau dua mingguan apalagi bulanan sudah tidak lagi mengupas
sisi investigasi yang falit dan sulit untuk dipatahkan dan semua terlihat
"telanjang" penuh informasi betapa sang pembaca akan terkagum-kagum
membacanya

Saya pikir jikapun elit kita dapat mempercayai media yang memegang atau
mengutamakan strategi investigasi tanpa ada upaya menutup-nutupi, kerja
wartawan lebih baik dari pada kejaksaan atau pengadilan itu sendiri. Banyak
khasus di negeri maju, kasus-kasus besar dibantu dari hasil infestigasi
waratawan.

Kemungkinan melakukan investigasi di Indonesia.
Sangat besar; banyak kasus yang sampai saat ini belum terbongkar mungkin
ratusan atau ribuan kasus besar yang tidak akan habis-habisnya jika media
massa yang menekankan metode investigasi ini melakukan. Jelas akibatnya akan
banyak yang marah. Tetapi banyak juga yang senang selama pers itu netral dan
tidak berpihak, saya pikir semua akan memberikan jalan.

Mengapa budaya malas itu ada di kepala wartawan kita terutama yang di
Jakarta?

Jarang ada wartawan yang mempunyai bekal (analisa yang cukup) dalam mencari
dan mewawancarai sumber berita sehingga fokusnya jarang di dapat dari setiap
akhir wawancaranya.

Saya buktikan yang tidak politik (kalau yang politik banyak) Nurul arifin
pernah mengaku tidak mau diwawancarai karena pihak yang mewawancarai tidak
tahu siapa yang akan di wawancarai. Ini sindiran bukan karena nurul pengen
di puji. Tetapi wartawan kita yang malas untuk mempelajari biodata sumber
yang akan di wawancarai sehingga tidak nyambung.

Padahal informasi dan data sekarang ini mudah; dari perpustakaan sampai
Internet mudah untuk mengaksesnya tetapi begitulah wartawan kita yang
penting deatline tanpa mempertimbangkan faktor isi berita dan informasi
berita yang layak di baca atau tidak oleh rakyat pembacanya. Mencerdaskan
atau tidak itu urusan redaksi keatas bukan urusan wartawan, apalagi redaksi
hanya memikirkan pertimbangan EYD saja.  Itu saja kritik saya untuk wartawan
kita agar lebih  berani lagi.

Berani disini bukan benarti ngomong kasar tetapi (walaupun dengan halus)
nara sumber akan membongkar seluruh boroknya tanpa di sadari itu baru hebat
(informatif), seperti dektektif (jika wartawan kita punya data falit hal itu
mudah). Kasihan sama polisi kita apalagi sekarang AD lagi mewek ngak mau
bantuin (malah banyak ngaco), nah peran pers sangat berpengaruh besar
(misalnya investigasi tentang Tommy). Kayaknya untuk memacu harus ada lomba
untuk memilih wartawan yang baik seperti di Amerika. Semoga jadi perenungan.
Dan dananya seharusnya angota Dewan/MPR yang membiayainya bukan pemerintah
pasti seru. Sekali lagi Dewan bukan Partai (bedakan dewan dengan partai).

MYP


...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- 
















Kirim email ke