Ah, lagi-lagi pers. Capek aku, baca kritik untuk pers Indonesia. Karena banyak sekali 
kritik,
tingkahnya tetep saja. Era reformasi sekarang ini cuma menghasilkan pers tukang kejar 
gosip dan
sensasi untuk meninggikan oplah. Payahnya mereka ini yang jadi penentu selera pembaca. 
Tulisannya
tidak mencerdaskan malah menyempitkan wawasan. Kalau ada berita atau gosip, paling 
yang dikejar
omongan orang-orang dengan sederet gelar. Mungkin pendapat prof. dr. ir. drs. se,mba, 
itu untuk
mengatrol bobot berita. Gaya bahasanya pun pake pakem. Dan enggak brubah-brubah sejak 
jaman
baheula. Lihat saja gaya bahasa pakem ini, "Prof. Dr. lulusan anu ini berpendapat 
bla-bla", Rektor
yang berputra selusin anak ini mengemukakan bla-bla...". Dan itu hampir seragam di 
mana-mana. Apa
hubungannya sebuah pendapat dengan universitas dan jumlah anak. 

Itu baru perkara tulisan. Belum lagi yang lain. Kecenderungan ngumpulnya pers di 
kota-kota besar
seperti Jakarta sama Surabaya saja misalnya, menjadikan informasi gampang sekali 
disetir oleh
orang-orang berduit. Aneh memang, otonomi daerah yang digembar-gemborkan tidak diikuti 
dengan
penyebaran informasi. Semua selera dan pendapat serta opini ditentukan oleh Jkt, Sby, 
Ygj.

Pers mesti ikut bertanggung jawab moral atas segala keributan, kesalahpahaman, serta 
banyaknya
orang kentut sekarang ini. Dulu aku masih memaklumi karena pers jadi semacam keranjang 
sampah.
Tapi sekarang pers sudah jadi sampah itu sendiri. Karena sudah pesimis, kupikir kritik 
MYP enggak
banyak gaungnya. Jangankan dibaca, dilirik pun enggak, apalagi masuk dalam ingatan. 
Namun lihat
saja kalau AR kentut, MW mengerling, atau GD bersiul, nah ini baru berita.

------------------------------------------

--- My Populis <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Kepada kawan-kawan AJI, dan organisasi idependen yang lain;
> Pimpinan redaksi dll.
> 
> 
> SENJATA PERS TELAH HILANG
> WARTAWAN TIDAK LAGI MENGUNAKAN INVESTIGASI
> 
> Ada sebuah cerita nyata disebuah negeri maju yang dikuasasi oleh seorang
> pemimpin mafia. Maka seorang anggota parlemen ini
> mengajak seorang wartawan untuk melakukan investigasi dalam
> mengupas sepak terjang mafia tersebut sampai akhirnya sang mafia gagal untuk
> duduk ke tapuk pimpinan; hal itu terjadi empatpuluh tahun yang lalu. Anggota
> Parlemen  meminta bantuan wartawan, karena waktu itu Mahkamah agung dan
> pengadilan sendiri sudah dikuasai oleh mafia, maka ia perlu data falit untuk
> menjatuhkannya dan pilihannya adalah wartawan.

----------------------------------dihapused---------------------

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get email at your own domain with Yahoo! Mail. 
http://personal.mail.yahoo.com/

...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- 
















Kirim email ke