Siapa bilang....?

Mega yang sudah dicap tidak layak menjadi pemimpin karena dalil
agama juga bisa dibangkitkan dan bahkan ada yang mau bersumpah
segala untuk tidak mengganggunya hingga tahun 2004. Kokrosono dan
Samba kan banyak bertebaran di PDIP.

Perbedaan kan terletak di nubuat. Dari mana nubuat itu berasal.

��


----- Original Message -----
From: Wibisono Sukanto <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, April 13, 2001 1:37 AM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Jumat Agung: Kekuasaan, Hukum dan
Politik



Sayang sekali bung Martin, kalau di Indonesia, apabila ada orang
yang sudah 'disalibkan' secara politik dengan dalil2x agama, orang
tersebut tidak bisa 'bangkit' lagi pada hari yang ketiga.

BTW, thank's untuk tulisannya...


:WS:

nb: dapet salam dari temen satu flat, katanya "parende do hamu ?"
Mbuh dah, ora ngerti...

----- Original Message -----
From: "Martin Manurung" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>; "HKBP Mailing List" <[EMAIL PROTECTED]>;
"Kuli
Tinta List" <[EMAIL PROTECTED]>;
<[EMAIL PROTECTED]>;
<[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>; "rembug
nasional"
<[EMAIL PROTECTED]>
Cc: "Yonanda Agustina" <[EMAIL PROTECTED]>; "Wasty Pasaribu"
<[EMAIL PROTECTED]>; "tulus daniel"
<[EMAIL PROTECTED]>; "Pdt.
Dr. Robinson Butarbutar" <[EMAIL PROTECTED]>; "Pdt. Daniel
T.A.
Harahap" <[EMAIL PROTECTED]>; "Pdt. Saut Sirait, MTh"
<[EMAIL PROTECTED]>; "Lae Sukardi Silalahi"
<[EMAIL PROTECTED]>;
"Kristofel Sirait" <[EMAIL PROTECTED]>; "keke pitaloka"
<[EMAIL PROTECTED]>; "Ihut Aritonang"
<[EMAIL PROTECTED]>; "Erry
Riyana Hardjapamekas" <[EMAIL PROTECTED]>; "Elvi
Simanjuntak"
<[EMAIL PROTECTED]>; "Dr. BRaksaka Mahi" <[EMAIL PROTECTED]>;
"Doddy
Simanjuntak" <[EMAIL PROTECTED]>; "Ben Subrata"
<[EMAIL PROTECTED]>; "andi syarif syahrial"
<[EMAIL PROTECTED]>; "Aliansi Jurnalis Independen"
<[EMAIL PROTECTED]>; "Albertus Sugeng" <[EMAIL PROTECTED]>;
<[EMAIL PROTECTED]>; "Bintang Aritonang"
<[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, April 12, 2001 7:43 PM
Subject: [Kuli Tinta] Jumat Agung: Kekuasaan, Hukum dan Politik


> Renungan Jumat Agung 13 April 2001:
>
> KEKUASAAN, HUKUM DAN POLITIK
>
> Oleh: Martin Manurung*
>
> "Katanya (Pilatus): 'Tetapi, kesalahan apakah yang telah
dilakukan-Nya?'
> Namun mereka makin keras berteriak, 'Ia harus disalibkan!"
(Matius 27: 23)
>
> SEORANG Anak Manusia telah dituduh melakukan "kebohongan publik"
dan
> memprovokasi rakyat untuk melawan pemerintah sehingga
menimbulkan
kekacauan.
> Oleh sebab itu, sejumlah orang dengan menggunakan dalil-dalil
agama
> bersekongkol untuk menangkap Anak Manusia itu dan membawanya
kehadapan
Raja
> Herodes, penguasa tanah Yudea ketika itu. Persekongkolan itupun
berhasil
> disebabkan penghianatan seorang pengikut dan murid Anak Manusia
itu yang
> bernama Yudas Iskariot. Penangkapan akhirnya dilakukan dengan
dukungan
> aparat keamanan di Taman Getsemani persis ketika Anak Manusia
itu selesai
> sujud berdoa. Dengan kecupan yang manis, Yudas Iskariot,
murid-Nya itu,
> menyerahkannya ke tangan tentara untuk kemudian dihadapkan pada
Raja
> Herodes.
>
> Kesepakatan Imam-Imam Agama ialah bahwa Anak Manusia itu harus
dihukum
mati,
> karena itu serangkaian pemeriksaan pun dilakukan dengan
menghadirkan
> saksi-saksi palsu. Tetapi, ternyata dari serangkaian saksi-saksi
palsu
itu,
> tidak didapat bukti-bukti signifikan agar hukuman mati layak
dijatuhkan
(Mat
> 26: 59-60). Dihadapan Raja Herodes pun, tak dapat diperoleh
bukti yang
> signifikan untuk menghukum mati Anak Manusia itu. Kecuali, bahwa
pengaruh
> Anak Manusia itu dihadapan rakyat memang sangat besar sehingga
membahayakan
> otoritas Raja. Karena itu, Anak Manusia itupun diserahkan kepada
Pilatus;
> Hakim Tinggi hunjukan Kekaisaran Romawi yang ketika itu menjajah
Israel.
> Menariknya, antara Raja Herodes yang merupakan orang Israel asli
dan
Pilatus
> yang orang Romawi,
> dimana sebelumnya mereka sangat bermusuhan, setelah kasus itu
menjadi
> bersahabat menjalin suatu "koalisi" kekuatan (lihat Lukas
23:12).
>
> Demikian juga dihadapan Pilatus, sebagai orang yang menguasai
hukum, ia
pun
> tak menemukan kesalahan Anak Manusia itu. Pilatus pun berkata
pada
khalayak
> yang membawa Anak Manusia itu kehadapannya, "Kamu telah membawa
orang ini
> kepadaku sebagai seorang yang telah menyesatkan rakyat. Kamu
lihat
sendiri,
> bahwa aku telah memeriksa-Nya, dan dari kesalahan-kesalahan yang
kamu
> tuduhkan kepada-Nya tidak ada yang kudapati pada-Nya. Dan
Herodes juga
> tidak, sebab ia mengirimkan Dia kembali kepada kami.
Sesungguhnya tidak
ada
> suatu apapun yang dilakukan-Nya setimpal dengan hukuman mati"
(Lukas 23:
> 15-16).
>
> Tetapi, kebencian yang merajai hati mereka telah membutakan
mereka
sehingga
> berteriak, "Ia harus disalibkan!" Anak Manusia itu pun tetap
dijatuhi
> hukuman mati dengan disalib. Tempatnya di Bukit Golgota (yang
artinya
> "tengkorak). Dan, Anak Manusia itupun disalib dan mati di bukit
itu.
>
> Anak Manusia itu bernama Yesus Kristus. Dan kematian-Nya di
Bukit Golgota
> itu, dinamakan "Jumat Agung" yang diperingati oleh umat
Kristiani di
seluruh
> dunia. Terlepas dari konteks teologis dari peristiwa kematian
Yesus
Kristus
> (yang kemudian bangkit pada hari ke-3), kita dapat memaknai
peristiwa yang
> terjadi lebih dari 2000 tahun yang lalu itu dengan perspektif
sosial,
hukum
> dan politik. Melalui perspektif tersebut, kematian Yesus Kristus
setidaknya
> memiliki 3 makna;
>
> Pertama, bahwa agama dan dalil-dalilnya ternyata sangat bisa
diperalat
oleh
> sekelompok elite agama (imam dan mahkamah agama) demi
kepentingan kelompok
> elite tersebut. Segala perbuatan baik, penuh kasih dan
pemberdayaan
> orang-orang kecil, tertindas dan terbuang yang dilakukan oleh
Yesus,
> ternyata dimaknai sebagai ancaman yang membahayakan status quo
yang
> dinikmati oleh elite agama. Karena itu, fitnah dan character
assasination
> pun dilancarkan untuk menyingkirkan Yesus.
>
> Kedua, peristiwa itupun memberi pesan bahwa hukum dan
prosedurnya dapat
> dikangkangi oleh kepentingan-kepentingan kelompok yang merasa
diancam oleh
> popularitas Yesus di kalangan rakyat. Perjuangan keadilan yang
dilakukan
> oleh Yesus dengan melawan status quo para elite agama dan
politik,
akhirnya
> dibalas dengan memperalat hukum untuk mengenyahkan Yesus
Kristus. Kembali,
> dengan fitnah dan character assasination, akhirnya vonis hukuman
mati
> dijatuhkan kendati tidak didapatkan bukti-bukti yang mencukupi
untuk itu.
>
> Ketiga, proses politik-pun ternyata menjadi permainan dari
kelompok elite
> yang haus akan kekuasaan. Yang semula mungkin bermusuhan
(seperti Pilatus
> dan Herodes), kini menjadi sahabat dan berkoalisi untuk
memuluskan proses
> hukum dan politik dalam rangka menyingkirkan Yesus Kristus yang
populis.
> Bagi orang-orang oportunis seperti Pilatus dan Herodes,
kekuasaan adalah
> segalanya, sehingga itu segala sesuatu yang mengganggu
kepentingan dan
> kemapanan (status quo) mereka, harus disingkirkan; bagaimana pun
caranya.
>
> Dan akibat kerakusan akan kekuasaan dan kepicikan itu, Yesus
Kristus harus
> dikorbankan. Dan Ia telah berkoban; mencurahkan darah-Nya dan
mati di kayu
> salib. Kini, adakah kerakusan akan kekuasaan dan kepicikan masih
merajai
> hati kita?
>
> *Penulis adalah Asisten Dosen FEUI
>
>
> ...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan
Berkeadilan............
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan
sendiri
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini,
http://www.indokado.com<--


_________________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com


...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan
Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan
sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini,
http://www.indokado.com<--




...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- 

Kirim email ke