Renungan Paskah 15 April 2001: KETIKA SEMUA RENCANA MELESET "Mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu" (Lukas 24:2) Oleh: Martin Manurung* CERITA ini masih lanjutan dari renungan Jumat Agung. Setelah persiapan yang matang; strategi, taktik dan koalisi yang mantap telah dijalin. Maka para elite status quo merasa bahwa mereka telah memenangkan pertarungan. Setelah Pilatus menjatuhkan hukuman mati dengan disalib untuk Yesus, mereka bersorak gembira. Hiruk-pikuk dan riuh rendah para suporter status quo itu berteriak menyambut si Anak Manusia memasuki gelanggang penyiksaan. Mereka berebut mencibirkan mulut dan meludahi si Terhukum yang sesungguhnya tidak bersalah. Korban character assasination melalui dalil agama, politik, hukum dan kekuasaan itu, kini lunglai. Mata Yesus menatap mereka satu persatu. Dan mereka merasa kemenangan itu sudah tiba di depan mata. Akhirnya salib besar itu pun dijatuhkan untuk dibawa oleh si Pesakitan yang telah dihukum cambuk. Dengan stamina yang loyo, ia membawa salib besar itu. Setelah terjatuh tiga kali memanggul salib berat itu dan dengan pertolongan Simon dari Kirene akhirnya salib itu pun sampai di bukit Golgota. Para tentara segera memancangkan salib itu. Dan Yesus pun disalib bersama-sama dengan dua pencuri sebagai lambang "kriminalitas" yang telah dituduhkan padanya sebagai provokator yang menghasut rakyat. Paku-paku itu pun ditancapkan dan akhirnya kira-kira jam 3 sore, si Anak Manusia itu menghembuskan nafasnya yang terakhir. Semua bersorak dan merasa menang. Di tengah senyum kemenangan mereka pulang ke rumahnya masing-masing. "Akhirnya, kita menang!", demikian dalam pikiran mereka. Walaupun setelah itu terjadi gempa bumi setelah kematian Yesus, tetapi rasa gembira yang ada pada hati para pendukung status quo itu telah membuat mereka buta akan krisis yang masih menghadang. Demikian pula para pengikut Yesus. Mereka lunglai dan bersembunyi di rumah. Sebab, ragam fitnah, ancaman dan terror telah ditujukan bagi mereka. Dan dengan mengurung diri di rumah, para pengikut Yesus merasa "aman". Tetapi, ada kuasa yang jauh melebihi kepicikan dan kerakusan manusia akan kekuasaan. Pintu batu yang menutup kuburan si Anak Manusia ternyata telah terbuka pada pagi hari Minggu itu, persis hari ke-3 setelah kematianNya. Ia telah membuat semua asumsi dan rencana para pendukung status quo itu meleset. Pintu kubur yang terbuka itu adalah pertanda kemenangan sejati si Terpidana, bahwa segala rekayasa picik itu akhirnya harus dikalahkan. Semua rencana itu ternyata telah meleset! Dan kepicikan serta kerakusan akan kekuasaan telah dikalahkan oleh Kasih yang Sejati. *Penulis adalah Asisten Dosen FEUI ...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--
