Abdullah Hasan wrote:

> Pak Sukanto,
> Ha,ha,ha...Curang nih, saya yang nanya duluan bagaimana jalan keluarnya,
> sekarang malah ditodong dengan pertanyaan sulit.Sebaiknya kita patungan
> jawaban saja, ya ? Saya yang mulai boleh juga, deh..!
>
> Begini. Dengan sederhana, negara demokrasi adalah negara dimana
pemimpinnya
> dipilih oleh rakyat. Bisa langsung , bisa lewat perwakilan. Bukan seperti
> Raja yang turun-temurun, bukan seperti diktator yang meungkin mendapatkan
> kekuasaannya lewat pemaksaan, kekerasan, kudeta,dsb.
>
> Siapa yang dipilih  untuk memimpin ? Biasanya ada beberapa orang yang
> bersedia jadi pemimpin. Lewat berbagai cara, singkat kata , lewat kampanye
> mereka mengiklankan dirinya. Apa yang akan dilakukannya bila kelak dia
akan
> memimpin negeri. Sebagian akan percaya sebagian tidak. Diujilah lewat
> pemilu, mana yang mendapat paling banyak ( sekali lagi, bisa langsung,
bisa
> tidak, seperti MPR itu ). Ketika terpilih, pemimpin tidak bisa dipercaya
> begitu saja. Dia diminta janjinya atau sumpahnya. Tidak bisa dipercaya
> begitu saja, pemimpin di dampingi lembaga kontrol yang akan menjadi
> watch-dog. Baik dari segi kepemimpinan maupun kontrol finansiil. Dan
> sebagainya dan sebagainya.
>
> Apakah mungkin pemimpin ingkar janji atau ternyata memble alias tidak
mampu
> memimpin negara? Logis saja. Sudah terang amat mungkin.Bagaimana kalau
> pemimpin melenceng di tengah jalan ? Maka dilengkapilah negara demokrasi
> dengan berbagai perangkat. Di Amerika ada yang namanya Impeachment, di
Cina
> ada yang namanya Quang Cieng. Di India namanya Kuch Kuch Kutahay. Di Cuba
> Komunis : Rally Kentut. Di negeri kita , Memorandum.
>
> Kalau ternyata perangkat Kooch Kooch Kutahay berhasil melengserkan
> pemerintahan memble dan ngawur lantas bagaimana ? Apakah kita jadi
bingung,
> sedih, dan tidak tahu apa yang akan kita lakukan lagi ? Apakah kita merasa
> ditipu oleh Kuch Kuch ? . Nehi..! Nehi..! Jangan ! jangan ! Tentunya akan
> kita pilih lagi pemimpin baru. Apakah kita jadi tidak berani memilih
> pemimpin baru karena kuatir akan terjadi pengalaman salah seperti yang
lalu
> ? . Kalau kita takut salah, bisa bubar suatu organisasi atau negeri.
> Pengalaman salah memberikan pelajaran. Apakah ada jaminan kalau salah
sekali
> , maka kita tidak akan mengalami salah yang kedua ?  Anda tentunya bisa
> membantu saya dengan jawabannya.
>
> Begitulah demokrasi. Kecuali kalau kapasistas bangsa cuma bangsa budak
yang
> cuma mau dipimpin oleh Raja. Atau Mbah Sepuh , yang selalu mendiktekan
> kemaunnya pada budak-budaknya...
>
> Silahkan dilanjutkan, kan kita mau patungan jawaban........
>
> Wassalam,
> Abdullah Hasan.
>


Mohon maaf, karena saya baru tiba dari bepergian ke negeri lain selama
beberapa hari ini, jadi nggak cukup punya waktu dan pikiran untuk ngobrol
ngalor-ngidul tukar pikiran sesama anak bangsa di milist ini. Meneruskan
diskusi dengan AH, dan timbrung-menimbrung di-monggo-kan di sini...

Saya cukup sependapat dengan AH yang mengutarakan konsep pemimpin yang ideal
untuk bangsa Indonesia. Kalau di dalam imajinasi saya, presiden itu layaknya
adalah CEO di perusahaan, yang tetap bertanggungjawab terhadap pemegang
saham. Hanya bedanya, kalau di negara, yang memegang saham adalah pegawainya
juga, yaitu orang-orang yang dipimpinnya.

Menengok ke masalah pemimpin, saya punya cerita ketika saya dulu sekali ikut
kegiatan kepemudaan di daerah saya. Di sana ada permainan mencari jejak dan
kita diberikan kertas panduan. Dalam group yang terdiri dari empat orang,
ada yang sebagai pemimpin, yang memegang cahaya (karena malam hari),
memegang bekal makanan dan memegang petunjuk-petunjuk dari tiap-tiap pos.
Lucunya, bahkan untuk menuju pos pertama saja, kami sudah kesasar beberapa
kali. Lalu memutuskan untuk mengganti pemimpin dalam regu dan tugas pun
dirotasikan. Ketika menuju ke pos ketiga, kita sudah berganti-ganti
pemimpin, bahkan pemimpin pertama sudah pernah dua kali memimpin. Dan di pos
ketiga, kita menemukan, bahwa bukan dipergantian pemimpinnya yang kita
salah, tapi ternyata aturan di kertas panduanlah yang menyesatkan. Pihak
panitia ternyata tidak meneliti dan mempelajari medan sebelum membuat
aturan. Tali tambang petani untuk mengikat gubuk kami anggap sebagai simbol
karena warna dan bentuk ikatan yang digunakan sama persis. Dan beberapa
aturan lain yang tidak mungkin saya sebutkan satu per satu di sini.

Dari cerita saya, dapat dilihat bahwa kita terbentur pada masalah penting
yang disebut dengan aturan atau undang-undang. Bahkan di negara maju
Amerika, (saya ambil contoh tempat saya menetap sekarang), tindak tanduk
presiden, ulah-ulah menteri dsb, dikontrol oleh aturan yang kuat dan JELAS.
Kata kunci terakhir ini yang saya katakan penting, JELAS. Berbagai aturan di
Indonesia banyak ketidakjelasannya. Dan personil yang merembugkan agenda
kejelasan undang-undang pun sekarang tengah bermain petak umpet politik
dengan badan eksekutif.
Saya ambil contoh, untuk memilih presiden pun, kita tidak ada aturan main
yang baku. Saya ingat waktu itu saya mengunjungi suatu kampung di pesisir
pantai utara jawa, dan saya menikmati proses pemilihan presiden di sana
bersama penduduk sekitar. Seluruh penduduk kecewa sekali karena Megawati
tidak dipilih sebagai presiden, karena mereka mengira bahwa partai pemenang
pemilu adalah partai yang berhak mencalonkan wakilnya menjadi presiden
(seperti yang ada di negeri paman SAM).

Bandingkan dengan Indonesia. Segala hukum kabur makna dan aturannya. Nggak
jelas dan rakyat dibuat bingung. Sebagai contoh misalnya pemilihan presiden.
Dalam undang-undang kita perlu ditegaskan bahwa presiden kita PRIA ATAU
WANITA, INDEPENDENT DARI AGAMA SEBAGAI PRASYARAT, ATAU BERASAL DARI BERBAGAI
SUKU. Dengan adanya undang-undang inilah maka kita bisa berlandas dengan
kokoh dan tidak terombang-ambing oleh tafsiran yang sembarang. Misalnya
presiden mesti orang Jawa, tidak boleh wanita, dsb. yang diatur oleh UUTT
(Undang-Undang Tidak Tertulis).

So, mau diganti-ganti itu presiden, kalau nggak ada kontrol Undang-Undang
yang jelas, maka akan sama aja hasilnya. Yang bagus diturunin dan yang jelek
terus berkuasa. Nah, masalahnya, kemana nih "KULI UNDANG-UNDANG" bangsa ini
? Kemana aja dia ? Apa aja kerjanya sampai detik ini ? Menggoyang perahu ?
Menabrakkan ke karang lebih keras ? Atau apa...
Begitu aja nih bung AH, semoga bisa dilanjutkan.


Salam,
:WS:



_________________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com


...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- 

Kirim email ke