Wah, menarik banget nih, Mas Riza. Kalau gitu sekalian tanya nih, untuk si LX ini, saya baca di buku panduannya sebelum 100KM, speednya diusahakan di bawah 60 km/jam dan jangan sampai 'dibejek' sekaligus. Padahal, dulu waktu beli Trend 2005, awal datang kebetulan masih ada plat ompang, langsung dibawa ke Lembang dan dibejek, speed sampai 80 km/jam. Setelah 6 bulan, tes irit bensin sangat surprise dalam kota pemakaian jalan normal (ada datar, tanjakan, lubang2 banyak :D) bisa 1L:60km, melebihi SupraX kakak saya waktu itu. Saya tes dengan isi penuh bensin (premium), pake-pake kurang lebih 5 semingguan sampai indikator menunjukan bensin kosong, terus isi penuh lagi bensin di pom bensin dan petugas yang sama (langganan), terus dilihat isi berapa liter dan penambahan jaraknya berapa, akhirnya berkali-kali didapat 1L:60Km. Nah, untuk si LX ini, apa mending ikutin petunjuk buku atau kebiasaan kita saja ya? Mohon sarannya dong..
-Yosep- On 10/25/07, Riza <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Dear Mas Pram dan Mas Henri, > > Sebenernya perawatan dan pemakaian yang properly IS A MUST. > Mesin teknologi apapun tanpa perawatan IS NOTHING. > Tidak bisa mengklaim suatu mesin adalah paling awet dengan mengukur > mesin itu menang karena "awet rusak" lantaran tanpa perawatan. > Mesin juga ada batasnya, makanya supaya lebih awet dalam CDI ada > limiternya dalam rangka membatasi putaran mesin. > Dipanteng terus sampai kebatas dalam waktu yang lama, misalnya 1 jam > plintir poll gas terus tentu ada kelelahan material, entah itu piston, > ring piston, silinder blok, valves, karet-karet, plastik, rantai, > tensioner dan bahan lain dalam sistim mesin yang berputar, yang hasil > akhirnya tentu mengurangi umur. > Perlakukan mesin seperti manusia juga, ada yang mengistilahkan "motorwi". > Nah yang bisa melakukan hanya penunggangnya, bukan orang lain. > Mari kita masing-masing menemukan devinisinya yang hasil akhirnya > sama, yaitu LONG LIFE. Cara boleh berbeda tapi tujuannya sama ;-) > > Salam, > > Riza > > >

