Bung Ambara,
SAya agak ketinggalan cerita tukang kayu (saya cari di list tidak ada).
Tetapi saya setuju dengan beberapa point anda, bahwa tidak semua orang
barat yang kita kritik. Sebenarnya yang saya kritik adalah paradigmanya,
terutama mengenai pembangunan dan kapitalisme, serta politik mereka
terhadap dunia ketiga. Dalam hal ini, banyak LSM luar negeri yang setuju.
Bahkan Greenpeace, misalnya, dalam hal pelepasan organisme hasil rekayasa
genetika, itu mengkritik pemerintah AS dan uni Eropa yang ingin dumping
bahan hayati hasil rekayasa ke dunia ketiga. Ada beberapa jaringan LSM yang
bergerak dalam bidang ini, dan terdiri dari LSM dunia ketiga serta dari
negara maju.
Nah, memang adil bila kita juga mengkritik yang terjadi di dalam negeri,
terutama kebrutalan aparat seperti yang baru-baru ini terjadi terhadap
mahasiswa yang menentang RUU Penanggulangan Keadaan Bahaya. Bagi yang
mengkritik paradigma barat, memang menjadi riskan karena dilihat secara
sepotong-sepotong dan kemudian dianggap sebagai kelompok yang pro dengan
kebijakan pemerintah. Padahal, dengan mengkritik paradigma barat, kita juga
mengkritik elit serta pemerintah yang menganut paradigma tersebut tanpa
melihat dampaknya pada masyarakat. Atau bahkan dianggap sebagai nasionalis
dalam arti sempit yang anti barat dan anti keterbukaan. SEbaliknya,
beberapa paradigma universal seperti ham dan demokrasi (saya tidak setuju
bila dikatakan konsep demokrasi adalah konsep barat) diabaikan bahkan
dilanggar tidak saja oleh pemerintah kita tetapi oleh beberapa pemerintahan
barat dalam hubungannya dengan negara dunia ketiga.
Terakhir, hampir semua LSM kita memang menerima dana dari negara maju
(Barat), ada yang tanpa ikatan apapun, ada yang tanpa sadar menganut agenda
donor dan ada yang memang diciptakan agar agenda donor tersebut tercapai.
Seperti semua elemen bangsa kita, LSMpun beragam dan disitulah sebenarnya
kekuatan kita, asalkan kita mau menerima dan menghormati perbedaan.
Sekian dulu
Salam
----------
> From: Ambara, Gede Ngurah (KPC) <[EMAIL PROTECTED]>
> To: '[EMAIL PROTECTED]'
> Subject: [lingkungan] Tukang Kayu...
> Date: Saturday, September 25, 1999 8:01 AM
>
>
> Komentar-komentar yang cukup menarik dan tajam dari Mbak Hira dan
> Qwerty...dan juga cerita tentang pak Tukang kayu dari Galilea benar-benar
> memberikan pencerahan bagi saya....
>
> Tapi justru karena membaca cerita pak Tukang Kayu itu.. saya malah
bertanya
> balik.. apakah "kerasnya/tajamnya kritikan" kita kepada pihak Barat sudah
> merupakan "kritikan yang adil"? Ingat bahwa yang kita "kritik" sebenarnya
> bukan "semua yang berasal dari barat" atau bukan semua orang Barat.. dan
> juga bukan semua pemerintahan/negara-negara barat. Yang kita kritik
> sebenarnya adalah "para intreprenurs/usahawan" multinasional yang "tidak
> berhati nurani" yang menguras kekayaan negara-negara miskin.. Tapi tidak
> semua multinational intreprenurs bersifat serakah/tamak...
>
> Sama seperti "orang Australia" yang mengkritik akan kejamnya seluruh
> orang-orang Indonesia (padahal maksudnya cuma militer Indonesia yang
> bertindak brutal di TIMTIM. Militer inipun juga tidak semuanya.
>
> Sepanjang kritikan itu "fair", terarah, tepat sasaran, (tidak asal
tembak),
> tidak terlalu luas, spesifik, dan membangun... maka kritikan itu tidak
akan
> mendatangkan kebencian dan tantangan... dan kritikan semacam ini akan
> bermanfaat bukan hanya bagi yang mengkritik tapi juga buat yang
dikritik..
>
> Mungkin LSM-LSM Indonesia perlu bekerjasama dengan LSM-LSM di luarnegeri
> yang punya ide-ide yang serupa dalam rangka mewujudkan "pemerataan
keadilan,
> kebersamaan, keberpihakan kepada mereka yang lemah, pelestarian
lingkungan,
> pelestarian adat-budaya dan nilai-nilai luhur.
>
> Kemudian kritikan kita yang tajam kepada pihak Barat menurut saya juga
mesti
> diimbangi dengan kritikan yang tidak kalah tajamnya kepada kita sendiri.
Di
> negeri kita sendiri masih banyak orang-orang
> (penguasa/pejabat/orang-per-orang) yang berjiwa sangat rakus, perampok
dan
> pemerkosa harta/kekayaan alam dan kekayaan rakyat. Menyerang dan
mengkritik
> dengan keras tentang penyakit orang lain mesti kita ikuti dengan
memperbaiki
> dan menyembuhkan borok-borok penyakit disekujur tubuh kita.
>
> Salam
>
> Gede Ngurah Ambara
> KALTIM
>
> > ----------
> > From: Qwerty November[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> > Sent: Friday, September 24, 1999 12:48 PM
> > To: [EMAIL PROTECTED]
> > Subject: Re: [lingkungan] Re : Your Comment ? Letter from London
> >
> > Salam,
> >
> > Saya setuju dengan pendapat mba Hira.
> > Sebagian dari kita masih berjiwa inlander, masih menggunakan standar
Barat
> > (Eropa &Amerika) dalam bertindak, bahkan menganggapnya yang terbaik
yang
> > harus diikuti.
> > Padahal Barat -yang sering disebut-sebut sebagai biang demokrasi-
> > menggunakan standar ganda dalam tingkah-lakunya.
> >
> > Hal ini banyak ditemukan dalam kegiatan/ hal pemanfaatan sumberdaya
alam.
> >
> > Barat mendukung proyek investasi pemanfaatan (pengurasan) sumberdaya
alam
> > di
> > negara D III dengan tuntutan persyaratan baku mutu yang tinggi, segera,
> > dan
> > kontinu yang kadang-kadang membuta-tulikan aspek sosial politik dan
> > lingkungan.
> > Ketika lingkungan rusak, mereka menuntut pelestarian sumberdaya
tersebut.
> > Mengapa, karena Barat telah terlebih dulu melakukan pengurasan dan
> > perusakan
> > sumberdaya alam setempat.
> >
> > Dalam hal pematenan. Seringkali resep-resep tradisional (obat, pangan,
> > dll.) yang telah dimiliki turun-temurun dari nenek moyang dan merupakan
> > pengetahuan umum di tengah komunitas masyarakat adat (biasanya di D
III)
> > diambil dengan dalih penelitian/ eksplorasi dsb., dipatenkan, dan
diakui
> > sebagai hasil penemuan mereka. Setelah itu mereka masih tebal muka
dengan
> > merasa bahwa merekalah yang paling berhak menjual produk tersebut, yang
> > lain
> > tidak boleh (jika tetap menjual disebut pembajakan, pencurian hak
cipta,
> > dll., monopoli ceritanya...), dengan harga jual yang sangat tinggi,
jauh
> > lebih tinggi daripada ketika resep itu masih hidup di masyarakat
(gratis
> > dengan bonus senyum ramah yang tulus...). Di sini berlaku pembajak
teriak
> > pembajak.
> > Padahal mungkin yang paling berhak memperoleh benefit adalah masyarakat
> > adat
> > yang telah memelihara resep tesebut sejak dulu.
> >
> >
>
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
>
>
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]