Witjak, Saya juga menambahkan judul pada posting yaitu kata "perlu" karena kita perlu juga membahas sebenarnya rekayasa genetika itu diperlukan atau tidak? BAru kita bicarakan apakah cocok atau tidak. Seperti biasa, kita mulai dengan paradigma. Saya pikir ketika beberapa ilmuwan merumuskan paham bahwa ilmu dan teknologi akan membebaskan atau mengurangi ketergantungan pada alam, maka sebenarnya inti dari premisnya adalah "pelajarilah alam agar kita bisa menaklukkannya". Paham ini dimulai oleh Rene Descartes kalau saya tidak salah. Para ilmuwan (kebanyakan dari Barat) kemudian menjadikan penaklukan alam sebagai tujuan dari ilmu dan pengetahuan, bukan lagi kesejahteraan manusia. Paham inilah yang kita gunakan hingga kini, paling tidak di mainstream. Padahal bila kita berpemikiran bahwa manusia adalah bagian dari alam, maka mempelajari ilmu dan pengetahuan seyogianya dilakukan agar kita memahami kekuatan dan keterbatasan alami, memanfaatkannya dengan bersahabat dan paling penting hidup bersama-sama dengan alam, bukan menaklukkannya. Semangat menaklukkan inilah dugaan saya yang menjadi premis promosi rekayasa genetika. Mengenai penindasan kira-kira maksud saya adalah agar teknologi tidak yang dipilih tidak menimbulkan fenomena dimana manusia menindas manusia yang lain ataupun menindas alam. Saya berikan contoh yang kedua dulu. Sekarang ini di Thailand, durian dapat dipaksa berbuah sepanjang tahun, di Indonesia sedang dimulai. Apa gunanya, agar manusia bisa makan durian sepanjang tahun, pendapatan dari ekspor bertambah. Kedua tujuan ini tidak salah, tetapi apakah perlu dengan memaksa durian berbuah sepanjang tahun dengan memasukkan berbagai hormon? Demikian pula dengan budidaya udang. Ketika ditemukan teknik membuat udang bertelur terus, maka tambak udang intensif baru bisa berkembang, karena ada suplai benur secara kontinu dari pabrik hatchery. Tekniknya adalah memutuskan tangkai mata udang betina yang saya pikir sadis juga. Sekali lagi tujuannya ekspor. Analogi bagi manusia (saya harap kaum feminis mendukung saya), adalah kedua hal tersebut bagaikan memaksa perempuan untuk melahirkan terus menerus tanpa istirahat yang sudah kita akui sebagai hal yang menindas kaum perempuan (bukan berarti perempuan tidak mau melahirkan). Nah, kita sudah menindas tanaman durian dan udang. Bukan berarti kita tidak boleh makan udang dan durian, tetapi kan bisa makan pada musimnya, atau mengembangkan teknologi yang memungkinkan pengawetan (dengan bahan kimia minimum) sehingga orang bisa makan durian pada saat tidak musim. Orang Inggeris makan mangga dari buah kalengan. Demikian pula saya pernah melihat kawan saya mengumpulkan banyak strawberry pada musim panas, melumurinya dengan gula halus lalu disimpang di freezer untuk dimakan pada saat tidak musim strawberry alias musim dingin. Kenapa kita tidak menerapkan hal demikian? Karena ekonomi dunia mendikte kita untuk terus berproduksi bagi kepentingan pasar dunia. Bila perlakuan pada udang dan durian memang digunakan untuk menyelamatkan manusia dari kelaparan, maka argumentasinya jadi lain. Tetapi tidak ada bencana kelaparan yang ditanggulangi dengan mengirimkan durian dan udang. Penjelasan ini sekaligus menjawab soal demokratisasi antar komponen alam. Kalau manusia menginginkan demokrasi dalam kehidupan politik, ekonomi dan sosial, maka sebagai warga alam, dia juga perlu menjamin adanya demokratisasi bagi komponen alam yang lain. Saya sadar benar bahwa paradigma seperti ini sulit diterima terutama dalam era perkembangan ekonomi global dimana laba adalah "Tuhan"nya manusia. Tetapi paradigma ini sekali lagi bukan berarti kita tidak harus memanfaatkan alam atau melakukan sedikit pengelolaan agar produksi menjadi lebih efisien. Dalam kaitan hubungan antar manusia, saya memberikan contoh sederhana. Teknologi mikrohidro adalah teknologi yang tidak menindas karena setelah dilatih, masyarakat lokal sebagai suatu kelompok dapat mengelolanya sendiri dan mendapatkan manfaatnya. Bila debet air sungai tidak cukup untuk mikrohidro, maka teknologi tenaga surya seyogianya digunakan, juga dapat dikelola masyarakat sendiri. Tetapi teknologi PLT Air itu diterapkan dengan menggusur masyarakat di sekitar sungai besar, dikelola oleh perusahaan atau PLN dan membuat masyarakat tergantung pada pemberian jasa dari instansi tersebut. Memang ada banyak perdebatan menyangkut teknologi. Kelompok pertama mengatakan ilmu dan teknologi adalah netral tetapi penggunanya yang menyebabkan masalah. Kelompok kedua mengatakan bahwa ilmu dan teknologi tidak netral karena diproduksi oleh manusia dengan paham dan tujuan tertentu. Masih ada berbagai kelompok lain, termasuk kelompok daerah "abu-abu" antara kedua paham tersebut. Menurut pendapat saya rekayasa genetika bukanlah ilmu dan teknologi netral, tetapi sarat dengan kepentingan. Pengembangan awal ilmu ini salah satunya adalah Yayasan Rockefeller dengan paradigma menaklukkan alam, atau bahkan siapa yang menguasai benih akan menguasai dunia. Karena itu diskusi mengenai rekayasa genetika saya rasa perlu dibagi dua yaitu konteks ilmu dan teknologinya sendiri, serta konteks politik ekonomi. Para ilmuwan seringkali tidak mau membahas yang kedua, padahal justru itu yang penting karena distorsi dilakukan oleh para pelaku politik ekonomi dengan mengatasnamakan "ilmu". Agar diskusi kali ini tidak panjang, saya coba membahas dari segi ilmu dan teknologi dulu. Bagian yang lain dan juga paten kita bahas kemudian, termasuk pertanyaan anda bahwa menjamin kesejahteraan adalah adalah fungsi pemerintah dan pengguna teknologi. Dari segi ilmu, biologi molekuler memang membukan jendela pengetahuan tentang banyak fungsi mahluk hidup hingga ke unit paling kecil yaitu DNA dan interaksi antar DNA serta antar gen. REkayasa genetika sebaliknya, belum terbukti merupakan teknologi yang menjanjikan manfaat tanpa masalah. Persoalaan mendasarnya adalah "unpredictibility" dari gen/DNA yang direkayasa ketika berinteraksi dengan lingkungan. Persoalan mendasar ini diakui oleh banyak ilmuwan dan sudah banyak bukti ilmiah yang menyebutkannya. Karena itu, aktivis lingkungan dan sosial pada awalnya menuntut moratorium pelepasan organisme dan produk organisme hasil rekayasa genetika paling tidak selama lima tahun. Nah dalam lima tahun itu perlu dilakukan penelitian mendalam tentang risk assessment dan risk management. Kita tahu bahwa rekayasa genetika punya potensi bermanfaat cukup besar, tetapi resikonya juga besar. Sekali suatu transgenik dilepas ke alam, dan terjadi persilangan, maka gen yang mencemarinya tidak dapat ditarik kembali, berbeda dengan bahan kimia yang dapat dicairkan atau diproses. Siapa yang bisa menarik gen yang telah beredar. Banyak percobaan menunjukkan ketidakstabilan gen. Tuntutan akan diadakannya risk assessment dan risk management secara menyeluruh bukanlah sesuatu yang baru. SEtiap obat yang beredar harus mengalami proses tersebut. Jadi ada presedennya, walaupun prosedurnya berbeda. Dalam hal manipulasi mahluk hidup, resiko tidak bisa diramalkan hanya dalam satu atau dua generasi saja tetapi perlu beberapa generasi dalam berbagai ekosistem. Bahkan untuk rekayasa genetika, sebenarnya percobaan lapangan saja sudah mengandung resiko karena pollen bisa terbawa angin atau serangga. Tetapi percobaan sesungguhnya justru bila sudah dilepaskan dan ditanam secara meluas atau dikonsumsi. Banyak kejadian diketahui setelah produk beredar. Anda mungkin ingat tomat Flavr Savr yang merupakan transgenik. Tujuan transgenik ini dibuat adalah agar pematangan tomat dihambat sehingga dapat dibawa ke tempat yang jauh dari ladang tanpa mengalami pembusukan. Tetapi ternyata kulit tomat tersebut menjadi tipis sehingga tidak dapat dipanen dengan mesin karena kulitnya banyak yang rusak. Dan bila kulit rusak proses pematangan dan pembusukan menjadi lebih cepat. Alhasil tomat tersebut hanya dapat digunakan untuk membuat pasta/saus. What went wrong? Kan hal tersebut tidak diprediksi? Demikian pula percobaan dengan aneka warna petunia transgenik. Semuanya menjadi putih bunganya ketika dipaparkan ke matahari, padahal sudah disisipi gen dari spesies lain untuk menimbulkan aneka warna tersebut. Singkatnya bukti ilmiah menunjukkan bahwa banyak pekerjaan masih harus dilakukan karena itu sebaiknya dikumpulkan dulu pengetahuan yang cukup untuk menanggulangi "unpredictibility" tersebut. Hal ini sudah disuarakan sejak hampir 10 tahun yang lalu, tetapi tidak didengar oleh para pembuat keputusan yang lebih mementingkan kepentingan perusahaan MNC. Alhasil banyak kelompok melakukan protes lebih keras dengan merusak ladang. Jadi perusakan ladang tidak dilakukan oleh kelompok religius atau sekte tertentu (walaupun mungkin orang-orang itu ada) tapi oleh kelompok respectable seperti Greenpeace. Kelompok saya sendiri menyerukan moratorium sejak tiga tahun terakhir pada setiap sidang PBB yang membahas protokol keselamatan hayati secara internasional (protokol yang akan mengatur transfer organisme hasil rekayasa genetika melintasi batas negara). Sudah empat tahun ini kami mencoba berdialog dengan deptan dan Kantor MENLH. Perundingan protokol digolkan dalam sidang di Jakarta tahun 1995 berkat perjuangan LSM seperti KONPhalindo. Persoalannya selagi kita berjuang agar peraturan keamanan ditegakkan, perusahaan makin gencar melakukan kampanye tentang manfaat rekaaysa genetika dengan memberikan bea siswa, training gratis dan Janji "akan meneylesaikan persoalan kelaparan dan penyakit di negara anda". Mudah-mudahan Bung Witjak tidak naif (maaf) dengan mengatakan bahwa ini kan urusan bukan ilmu. Justru disitu letak persoalannya, ilmunya belum dipahami benar, sudah dijual melalui para ilmuwan yang sedang "terkesima" dengan teknologi baru ini. Ingat diperlukan waktu 40 tahun untuk mengetahui bahwa DDT itu berbahaya. Jadi kita masih perlu beberapa tahun untuk memastikan apakah bahaya rekayasa genetika dan bagaimana mengatasinya. Jadi kejujuran ilmiah diperlukan dan maaf sekali lagi, ada sebagian ilmuwan yang tidak secara jujur melaporkan manfaat dan resiko dari penerapan rekayasa genetika. SEbagai contoh, anda mengatakan jagung bt masih dalam percobaan. Di AS tidak lagi, sudah di tanam di hampir 30% ladang jagung dan sebagian hasilnya diekspor. Jagung ini kemudian dinyatakan aman dan monsanto ekspansi ke Brazil, Costa Rica, Thailand, Filipina dan Indonesia. Mereka mengatakan kalau aman di AS maka aman di tempat lain (terima kasih anda mengatakan harus dilihat kasus per kasus karena memang harus demikian). TErnyata terjadi banyak masalah. Di Indonesia, rambutnya jagung menimbulkan gatal-gatal. Di negara lain ada masalah lain. Yang paling penting di Kanada ternyata terbukti bahwa jagung bt tidak menurunkan jumlah penggunaan pestisida dan juga tidak meningkatkan hasil panen. nah, dari segi ilmu, sekali lagi kejujuran diperlukan di kalangan ilmuwan untuk mengatakan secara berani bahwa resiko dan hasilnya belum dapat diketahui. Itu dulu nanti kita sambung dengan menjawab pertanyaan anda yang lain. Bagi moderator milis ini, mohon anda memoderatori, terutama dengan melibatkan beberapa komponen lain yang tertarik dan kompeten; siapa tahu diskusi ini berguna untuk para menteri yang baru dalam menentukan kebijakan teknologi. Saya juga mempunyai suatu tulisan calon booklet yang dikerjakan oleh Konphalindo atas permintaan kantor MENLH. Isinya adalah penjelasan tentang rekayasa genetika secara umum dan dalam bahasa sederhana, perkembangannya dan perkembangna perundingan biosafety protokol. Oleh MEnlh booklet tersebut tidak diterbitkan karena menterinya keburu ganti dengan menteri Habibie. Saya pikir kita bisa berbagi bila moderator setuju. Terimakasih Salam > From: witjaksono <[EMAIL PROTECTED]> > To: 'Hira D.G.' <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: Rekayasa genetika: cocok atau tidak untuk Indonesia > Date: Sunday, November 28, 1999 3:05 AM > > Hira: > Pertama saya ganti subyek posting ini supaya mencerminkan isi dan yang > tidak beminat supaya langsung menghapus. Saya tidak berkeberatan dengan > e-mail panjang. Diskusi yang mendalam tidak mungkin disampaikan hanya dalam > 100-200 kata. > Bebas dari ketergantungan dari lingkungan tidak berarti harus tidak > menggunakan atau memanfaatkan lingkungan. Kalau kata bebas kurang tepat, > bisa pakai kata mengurangi. Dengan paradigma yang Anda kemukakanpun banyak > produk teknologi yang gagal. PLTNuklir terutama. Apalagi kalau diterapkan > di Indonesia....wah sangat mengerikan. Saya setuju dengan pemasukan ide > menggunakan produk alam dengan efisien dan tanpa merusak dan tanpa > menyisakan limbah yang tak dapat diserap. Namun, masih kurang jelas maksud > kata penindasan. Mungkin kata penindasan ini berkaitan dengan penggunaan > teknologi tsb. Teknologi komputer seperti halnya senjata nuklir juga bisa > jadi alat penindas. Seperti ancaman Horta untuk mengerahkan hacker sedunia > untuk menghancurkan jaringan komputer Indonesia dalam kaitannya dengan > masalah Timtim? Bila demikian maka teknologi jaringan komputer bisa > dibilang gagal. Namun tanpanya kerja akan kurang efisien dan akan > tertinggal dalam percaturan dunia. Lalu tentang menjamin kesejahteraan, > bukankah ini fungsi dari pemerintah dan sistim sosial-ekonomi masyarakat > pengguna teknologi? Dan pernyataan Anda tentang demokratisasi antara > komponen alam, saya tidak mengerti. Harap bisa lebih dijelaskan. > Rekayasa genetika dangan pemulian (tanamam) sebenarnya memakai prinsip yang > sama. Yang berbeda hanya tingkat organisasi kehidupan yang di utak-atik > (dimanipulasi). Kata manipulasi di sini dipakai dalam arti mengutak-atik > dengan tangan (dan lalu pikiran juga) secara trampil; bukan dalam arti > mengendalikan atau memainkan secara tidak adil seperti dalam manipulasi > keuangan (korupsi). Dalam pemuliaan tanaman secara konvensional, individu > atau populasi tanaman dikawinkan lalu keturunannya dipilih. Pemilihan mana > yang jadi bahan persilangan dan mana keturunan yang dipilih ditentukan oleh > sifat yang diinginkan (sifat disini bukan hanya seperti yang jahat, baik, > pemalu, namun lebih pada kebendaan seperti rasa padi pulen, produksi tinggi, > warna hitam/ungu kulit apokat) yang bisa dilihat dan diikuti sifat > penurunannya. Dengan pendekatan ini, kita tahu bahwa sifat tersebut > dikendalikan oleh gen. Dalam rekayasa genetika, yang diutak-atik bukan > hanya tanaman dan populasi tanamannya saja namun juga gennya sendiri. Dalam > rekayasa genetika, gennya kita ketahui yaitu sepotong DNA dengan urutan basa > tertentu. Potongan DNA inilah yang dimasukkan ke dalam tanaman/atau hewan. > Jadi dengan rekayasa genetika, usaha pemuliaan bisa dilakukan lebih akurat > dan lebih efisien. Kedua-duanya menggunakan dasar pemikiran yang sama bahwa > penampakan suatu individu ditentukan oleh interaksi antara sifat genetika > (gen) dan lingkungannya. Namun hanya faktor genetika yang bisa diturunkan > sedangan yang pengaruh lingkungan tidak diturunkan. Karena itu, dalam > mengadakan pemuliaan tanaman, hanya gennya yang perlu diurusi, bukan > lingkungannya. Namun untuk mendapatkan tanaman yang produksinya optimal, > tanaman dengan material genetik yang baik itu harus ditanam pada lingkungan > yang sesuai. Inilah peran lingkungan dan gen pada penampilan individu. > Jadi, tidak tepatlah pendapat bahwa dengan menyelesaikan masalah gennya lalu > masalah kemanusiaan bisa diselesaikan. > Pencampur-bauran antara rekayasa genetika tanaman untuk mendapatkan > varietas baru dengan manipulasi genetika manusia terutama dalam kaitannya > dengan isu "penciptaan" yang daerah Tuhan > adalah ekstrapolasi yang terlampau jauh. Untuk masyarakat religius > Indonesia, bila kerancuan ini diserap masyarakat, maka akan menimbulkan rasa > antipati pada iptek rekayasa genetika yang manfaatnya luar biasa tapi belum > kita kuasai secara memadai. > Masalah berkaitan dengan produk rekayasa genetika yang Hira sebutkan > seperti di Costa Rica dsb adalah tahap pengujian. Bila tidak berhasil dalam > tahap itu, berarti hasil rekayasa genetika tersebut tidak boleh masuk > pasaran. Bila diketahui bahwa Brassica bersilang dengan jenis-jenis liarnya > secara bebas, maka mungkin itu menunjukan bukan ide yang baik > merekayasa-genetika Brassica. Atau mungkin bisa dengan pendekatan lain, > misalnya rekayasa genetika dilakukan pada yang mandul jantan (male sterile) > sehingga tidak menyebar polen yang berisi gen rekayasa. Mungkin bagus > merekayasa genetika jagung yang di Indonesia adalah non-pribumi. Kalau > ternyata protein dari brazilian nut yang di kedelai membuat alergi, maka > varietas kedelai itu akan tidak laku atau harus dilabel (saya sangat setuju > dengan ide pelabelan GM food). Namun rekayasa genetika akan mungkin bisa > dipakai untuk mendapatkan tanaman karet yang lateksnya tidak mengandung > allergen. Karena itu penerapannya harus melalui studi yang mendalam dan > pembahasannya perlu kasus per kasus. > > Berkenaan dengan tiga pertanyaan besar Anda tentang rekayasa genetika, saya > akan mencoba sedikit memberikan jawaban. > > 1.Saya kira pemakaian asumsi bahwa penduduk negara maju terdidik dan dapat > menerima penjelasan logis adalah kurang tepat. Orang Amerika juga punya > perdukunan lewat tilpon (psychic hotline), bagimana bisa dibilang semuanya > logis? Perahasiaan uji lapangan mungkin memang berkaitan dengan agresifnya > pihak penentang GM-food. Gerakan anti GM food sudah sampai mengarah pada > perusakan tanaman di lapangan, lalu fasilitas laboratorium. Mereka bahkan > mengancam akan mengadakan malam perusakan secara serentak pada tanggal > tertentu (tidak ingat kapan dan tidak tahu apakah sudah dilakukan). Apakah > orang-orang ini orang awam pada umumnya? Mungkin saja orang-orang ini dari > aliran agama tertentu yang sangat fanatik terhadap ide bahwa rekayasa > genetika mencampuri wilayah Tuhan atau kelompok petani yang merasa akan > dirugikan dengan makin populernya GM food. Kalau memang rekayasa genetika > berbahaya dan tidak aman, kenapa kelompok terdidik di AS, warga kampus yang > meliputi tidak hanya praktisi rekayasa genetika tapi ilmuwan sosial, ilmuwan > teknik seniman,dokter, ekolog dsb tidak protes terhadap GM food? > Perahasiaan itu mungkin berkaitan dengan pengamanan percobaan itu sendiri > bukan keamanan lingkungan. Kalau saya mahasiswa S3 dan disertasi saya > tentang evaluasi tanaman rekayasa genetika dan tahu ada gerakan anti GM > food, maka saya juga akan rahasiakan percobaan itu. Tak perlu ambil > resiko!!. Berkaitan dengan uji lokasi oleh Deptan yang dirahasiakan, apakah > alasan Deptan? > > 2. Tanaman hasil pemuliaan konvensional dapat dan kebanyakan di patenkan di > US. Karena itu tanaman hasil rekayasa genetika juga akan dan pasti > dipatenkan. Di Indonesia saja dan mungkin di beberapa negara lain bahwa > varietas hasil pemuliaan hanya diakui pemerintah lewat pendaftaran yang > berliku-liku di deptan. Dan karena itulah, saya kira, pertanian kita tidak > maju dalam produksi varietas baru. Benar hak paten untuk penemuan baru, dan > varietas baru hasil pemuliaan konvensional ataupun rekayasa genetika adalah > baru bila memang sebelumnya belum ada varietas yang memiliki sifat-sifat > (atau kombinasi sifat baru) seperti yang dimiliki varietas yang dipatenkan > itu. Bicara soal paten, banyak salah pengertian yang beredar melalui media > masa. Contohnya ada paten tentang pembuatan tempe di AS, lalu orang > berpendapat bahwa tak lama lagi kita harus bayar royalti ke Amerika bila mau > buat tempe. Ini omong kosong. Yang benar, bila ada perusahaan tertentu > ingin memproduksi tempe secara komersial dan menggunakan teknik sama dengan > yang dipatenkan tersebut, maka harus bayar royalti. Jadi kalau produksi > tempenya dengan cara tradisional yang sudah dipraktekkan selama ratusan > tahun lalu harus bayar royalti....ah yang benar saja. Kalau ada yang > berminat diskusi tentang paten, saya akan ikut meramaikan. > > 3. Rekayasa genetika menyediakan pilihan. Pilihan dalam bentuk varietas > baru yang tidak bisa diperoleh/sulit diperoleh dengan cara konvensional. > Rekayasa genetika bisa berperan seperti revolusi hijau yang mematahkan > ramalan Malthus. Tapi apakah menghapuskan kemiskinan, penyakit dll? > Kemiskinan, sekali lagi, bukankan juga fungsi dari pengaturan negara? > REkayasa genetika bisa menyediakan varietas dengan produksi yang lebih > tinggi. Berkaitan dengan harga, kalau tidak murah dan tidak terjangkau, > bukankah akan terlempar dari pasar? Harga murah dari hasil rekayasa > genetika akan bersumber dari tingginya produksi dan berkurangnya biaya > pemeliharaan seperti penyemprotan pestisida. Untuk penerapannya di > Indonesia memakai varietas rekayasa genetika dari Monsanto, mahal murahnya > bisa dihitung dengan mudah. Bila terlalu mahal tidak perlu ditanam, bila > bisa mendatangkan untung, petani akan pakai. Namun pengembangan rekayasa > genetika oleh ilmuwan Indonesia sendiri memang mahal, sebab banyak yang > harus diimpor. Tapi makin lama akan makin murah. Saya yakin pasti ada jalan > untuk mengatasi hal ini. > > Saya sangat setuju pada Hira bahwa hal ini penting karena itu tidak bisa > hanya dpercayakan pada perusahaan multinasional, pemerintah dan sarjana. > Memang bagusnya ada organisasi yang memonitor hal ini, yang terdiri dari > ilmuwan yang tahu bidang ini dan yang lain-lain. > > Bila ada yang berminat membahas kehebatan rekayasa genetika > (tanaman)dibanding cara konvensional, saya siap mengirim E-mail panjang > lagi. > > Salam, > Witjaksono > Staf Peneliti Puslitbang Biologi-LIPI > Postdoctoral Research Associate > Tropical Research and Education center > University of Florida > 18905 SW 280th Street > Homestead Florida 33031-3314 > USA -= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
