Good Luck Harry,

Berita ini juga saya dengar dari Rudy di DC. Tugas wartawan anda mungkin 
bisa digantikan Tuti.Saya tertarik tentang perkembangan NTFP.  Tahun 1990 
saya dan sekelompok mahasiswa Pasca Sarjana UNHAS meneliti aspek ini di 
Irian (eh Papua). Kesulitan utama, dari segi metodologis, adalah memberikan 
"market price" untuk NTFP. Tidak selamanya NTFP punya nilai pasar (Rp atau 
$). Ini yang menyebabkan kalangan bisnis dan ekonom meremehkan NTFP. Hanya 
perlu diingat bahwa price (harga) tidak sama dengan value (nilai). Nilai 
intrinsik suatu SDA atau layanan lingkungan memang sulit diukur. Kami 
enviromental economist di WB dan di lembaga lain (ADB, OECF) telah 
mengembangkan penghitungan value ini. Untuk kawan-kawan yang berminat, 
terutama masalah yang berkaitan dengan SDA di ASia (karena lebih cocok 
dengan type SDA kita sperti hutan, coral reef dsb) Harap menghubungi EEPSEA 
di Singapura via Dr. Herminia Fransico ([EMAIL PROTECTED]). Atau masuk ke web 
site mereka via organisasi IDRC (sorry lupa sitenya).  Good Luck !

RL
Rahwana = darah hutan

>From: "Harry Surjadi" <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: [lingkungan] terima kasih untuk "reporter" milis Lingkungan
>Date: Fri, 7 Jan 2000 19:37:31 +0700
>
>Tuti, terima kasih untuk laporannya dari diskusi KKN Dephut. Rasanya 
>(walaupun Tuti bilang bukan wartawan) Tuti layak jadi "reporter" milis 
>lingkungan ini. Sekali lagi terima kasih.
>Di milis ini sekarang yang lagi hangat dibahas mengenai Dephut dan sektor 
>kehutanan. Saya ingin mendorong teman-teman lainnya menyampaikan 
>pendapatnya. Untuk lebih mudah saya akan membuat beberapa kategori untuk 
>pembahasan atau masukan ide:
>
>NON-TIMBER FOREST PRODUCT (NTFP):
>1. Produk apa saja yang berpotensi sebagai NTFP?
>2. Sekarang ini produk NTFP apa yang sudah dikembangkan dalam skala ekonomi 
>cukup besar dan berhasil? Siapa saja mereka yang sudah mengembangkannya?
>3. Bagaimana caranya mengkampanyekan, mengubah cara pandang hutan, dari 
>hanya melihat nilai ekonomi kayu menjadi nilai ekonomi lainnya?
>4. Apakah ecoturism salah satu NTFP? Ekoturisme seperti apa yang 
>sungguh-sungguh berwawasan lingkungan? Mungkin ini bisa menjadi satu topik 
>menarik untuk dibahas tersendiri.
>5. Seberapa jauh niat Dephut mengembangkan NTFP?
>
>KELEMBAGAAN DEPHUT/REFORMASI DEPHUT:
>1. Seperti apa bentuk lembaga kehutanan setingkat departemen yang 
>seharusnya?
>2. Apa saja yang perlu diubah Dephut sekarang ini? Rasanya ketika berbicara 
>mengenai reformasi atau restrukturisasi atau apa pun di departemen, selalu 
>yang keluar adalah mengganti orang, tetapi secara struktur/sistem tidak 
>berubah?
>3. Saya melihat kuncinya adalah keterbukaan dan komunikasi untuk menekan 
>adanya KKN di berbagai lembaga pemerintah. Tetapi bagaimana caranya membuat 
>transparan bagi masyarakat? Misalnya, sekarang ini masyarakat tidak tahu 
>siapa saja yang memiliki HPH. Saya punya ide harusnya dephut memiliki situs 
>web yang baik (ini bukan karena sekarang saya bekerja di bidang internet), 
>yang berisi segala informasi yang harusnya diketahui masyarakat, termasuk 
>status izin HPH atau lainnya, keuangan DR dan lainnya. Bagaimana?
>4. Ada dualisme di Dephut. Konservasi dan eksploitasi. Bagaimana 
>mengharmoniskannya? Jika pejabat Dephut ditanya, mereka selalu bilang, 
>"Kami sudah menjalankan keduanya." Kenyataannya, Dephut lebih berat pada 
>eksploitasi daripada konservasi. Silahkan menanggapi.
>5. Hutan akan lebih terancam atau bisa lebih terselamatkan dengan adanya 
>otonomi daerah? Bagaimana kesiapan pemda dan juga para LSM lokalnya sebagai 
>counterpart pemda?
>
>
>ANCAMAN BOIKOT KAYU TROPIS DARI LUAR NEGERI:
>1. Rasanya isyu ini selalu digunakan sejak 30 tahun lalu. Isyu ini 
>meninabobokan rakyat Indonesia. Apakah riil ancaman boikot ini?
>2. Kalaupun Indonesia diboikot, apakah akan berdampak pada negara ini atau 
>lebih riilnya pada rakyatnya yang masih tinggal di sekitar hutan? Bukankan 
>yang terkena dampak adalah para pengusaha hutan, bukan rakyat di sekitar 
>hutan?
>3. Ini juga persoalan informasi dan komunikasi. Dunia di luar Indonesia 
>sedikit sekali mendapatkan informasi mengenai kehutanan Indonesia, dan 
>masyarakat Indonesia sedikit sekali mendapatkan informasi dari luar 
>(terutama dari NGO yang melakukan kampanye boikot kayu tropis Indonesia). 
>Silahkan dikomentari.
>
>Teman-teman mudah-mudahan ini membantu diskusi kita.
>Salam,
>Harry Surjadi
>
>NB: mulai tanggal 1 Januari 2000, saya sudah tidak lagi bekerja untuk 
>Harian Kompas. Saya pindah ke perusahaan internet. Sedikit banyak mengenai 
>perusahaan itu: perusahaan internet modal asing yang paling besar di 
>Indonesia, akan menyajikan content berupa berita dan informasi lainnya, 
>search engine (lebih lengkap dari Yahoo, khususnya untuk Indonesia), email 
>gratis, chat, message board dan lainnya.
>Di luar kerjaan resmi ini saya sedang menyiapkan konsep untuk membuat situs 
>Internet khusus berita lingkungan hidup yang akan berada di bawah 
>Konphalindo. Sudah ada alamatnya internetnya (sedikit promosi) yaitu: 
>www.berita-bumi.or.id. Selain yang dengan or.id (lokasi Indonesia), saya 
>juga sudah ada alamat internasionalnya: www.beritabumi.com. Saya 
>membayangkan situs itu akan menjadi situs bagi siapa saja yang berminat 
>mengenai lingkungan hidup. Dalam kesempatan ini saya mohon masukan. Masukan 
>bisa dikirim ke alamat email saya di [EMAIL PROTECTED] atau di 
>[EMAIL PROTECTED]

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com


-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/




Kirim email ke