http://kompas.com/kompas-cetak/0002/03/IPTEK/orga10.htm Kamis, 3 Februari 2000 Organisme Transgenik Harus Dipertimbangkan Saksama Jakarta, Kompas Dampak negatif organisme transgenik (living modified organism/LMO) dan produknya terhadap kesehatan, keanekaragaman hayati serta ekosistem, harus dipertimbangkan secara saksama berdasarkan landasan ilmiah, budaya dan agama serta struktur sosial ekonomi masyarakat. Hal itu dikemukakan Dr Hari Hartiko, pengajar Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada, pada Lokakarya Internasional Keamanan Hayati dan Keamanan Pangan Produk Rekayasa Genetik hari kedua, Rabu (2/2). Menurut Hari, Penilaian Risiko dan Manajemen Risiko harus dilakukan sebelum organisme transgenik dilepaskan ke alam terbuka. Risiko dalam hal ini adalah risiko jangka pendek dan jangka panjang, termasuk tidak bertentangan dengan agama dan budaya. Mengingat risiko dan manfaat penggunaan organisme transgenik merupakan masalah nasional, pemerintah perlu membuat Undang-undang Keamanan Hayati Nasional. "Standar keamanan hayati dalam pemanfaatan organisme transgenik perlu didiskusikan secara terbuka dan adil; melibatkan ilmuwan dari berbagai perguruan tinggi, pusat penelitian dan pengembangan, instansi pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM) serta tokoh masyarakat dan agama," ujarnya. Organisme transgenik adalah organisme yang telah mengalami rekayasa genetik secara in vitro, di mana rekombinasi genetik yang terjadi tidak bisa secara alami tanpa campur tangan manusia. Penambahan atau modifikasi gen dilakukan dengan menambahkan unsur genetik dari spesies yang sama atau spesies lain termasuk yang jauh hubungan kekerabatannya. Di antara gen yang paling banyak digunakan adalah gen cry (gen toksin) dari Bacillus thuringiensis, gen-gen dari bakteri untuk sifat toleransi terhadap herbisida, gen yang menunda pemasakan buah, gen dari hewan yang disisipkan pada tanaman budidaya untuk meningkatkan nilai gizinya. Perkembangan terakhir, menyisipkan gen-gen pembuat vaksin pada tanaman sayuran dan buah-buahan sebagai sarana vaksinasi. Sekarang juga dikembangkan gen toksin yang lebih ampuh sebagai antiserangga menggunakan sumber gen antara lain sejenis laba-laba Australia, kalajengking, dan lebah. Ada risiko Menurut Hari, selalu ada risiko pemanfaatan suatu organisme, baik organisme alami maupun yang telah mengalami rekayasa genetik. Misalnya, penggunaan eceng gondok sebagai tanaman hias ternyata menimbulkan masalah pendangkalan waduk dan sungai, introduksi lamtorogung menimbulkan masalah hama kutu loncat yang sukar dikendalikan. Pemanfaatan tanaman transgenik Bt yang menggunakan gen B thuringiensis berakibat menurunkan populasi penyerbuk, seperti kupu-kupu monarch dan burung di Irlandia. Sementara itu Dr M Herman dari Badan Penelitian Bioteknologi, Pusat Penelitian Tanaman Pangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian menyatakan, Indonesia memperhatikan peraturan keamanan hayati. Hal itu dibuktikan dengan keluarnya Keputusan Menteri Pertanian tentang Ketentuan Keamanan Hayati Produk Bioteknologi Pertanian Hasil Rekayasa Genetik tahun 1997, yang direvisi September 1999. Untuk mengimplementasikan peraturan itu, dibentuk Komite Keamanan Hayati untuk memberikan saran, pertimbangan atau rekomendasi kepada Menteri Pertanian. Komite itu dibantu Tim Teknis untuk Keamanan Hayati. "Jika ada perusahaan swasta atau lembaga penelitian hendak mengintroduksi atau melepaskan tanaman transgenik secara komersial di Indonesia, mereka perlu meminta Komite untuk melakukan evaluasi. Penilaian risiko dan pengkajian dilakukan oleh tim teknis," katanya. Saat ini ada dua perusahaan swasta dan sejumlah lembaga penelitian minta izin untuk melepas produknya. Kini telah dilakukan pengujian pada lahan isolasi terhadap lima tanaman transgenik, yaitu jagung Bt, kapas Bt, jagung Roundup Ready, kapas dan kedelai tahan herbisida glyphosate. Selain itu proses pengujian juga dilakukan pada kacang, kentang Bt dan jagung Bt jenis lain. (atk) -- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
