http://www.mediaindo.co.id/detail_news.asp?id=2000032800191940
Selasa, 28 Maret 2000    

Rekayasa Genetika, bak Pentas Drama Kontemporer
Media Indonesia - Kesra (3/28/00)

KONTROVERSI makanan hasil rekayasa genetika, genetically modification atau pangan GM, 
kian
menyerupai pentas drama kontemporer. Alur cerita dan kemampuan akting sang pelakon 
terlalu maju
untuk dipahami penonton awam. 

Dua pemain utama, perusahaan pangan GM ibarat menyandang peran antagonis yang 
berhadapan
dengan ksatria yang diperankan aktivis LSM konsumen. Para pemain pembantu adalah 
peneliti, yang
asyik dengan segala macam percobaan berdana besar, si aktris panggung yang lain 
(pemerintah) jadi si peragu dan cocok dijadikan kambing hitam. 

Pertunjukan menjadi seru karena bumbu intrik politik, perdagangan global, persaingan 
usaha, dan peran  media massa. Sesekali diletupkan sebuah kasus, seperti pencemaran 
dioksin atau bersarangnya virus di otak sapi. 

Sementara penonton dalam hal ini konsumen, hanya sedikit yang cukup paham dengan 
pentas yang
digelar di WTO, APEC, berbagai forum perdagangan regional dan media massa itu. 
Sebagian besar,
memilih tak ambil pusing, kendati sebenarnya nasib penontonlah yang tengah 
dipertaruhkan. 

Pangan GM muncul setelah Revolusi Hijau berhasil pada era 70 dan 80-an. Pertumbuhan 
penduduk bumi yang luar biasa tinggi dan kepesatan teknologi memunculkan ikhtiar lain 
untuk kecukupan pangan bergizi tinggi, masa tanam singkat, murah dengan kapasitas 
produk hingga 1.000 persen. 

Dengan bioteknologi, pencampuran gen unggul antarspesies bukan lagi hal yang sulit. 
Memanfaatkan
sistem penolakan dan penerimaan yang dimiliki makhluk hidup secara alamiah, kata Dr. 
Herawati Sudoyo dari Lembaga Eijkman, transfer genetik itu bisa berlangsung. 

Mulanya, ada anggapan pencampuran itu hanya bisa berlangsung pada spesies yang 
memiliki jumlah
kromoson yang sama. Itu berlangsung sekian lama dan dimanfaatkan oleh Revolusi Hijau 
dengan
menghasilkan tanaman unggul, hasil kawin silang beberapa varietas dalam satu spesies. 
Metode kawin silang masih menjadi andalan hingga saat ini. 

Namun dengan berhasilnya sistem potong pita DNA (Dioxyribonucleic Acid: rangkaian 
protein yang
memuat semua informasi genetika), untuk `menempelkan` cuplikan itu ke gen spesies 
lain, bukan perkara sulit lagi untuk kawin silang antar spesies yang nyata-nyata 
berbeda secara DNA. Hebatnya lagi, pekerjaan `mengaduk-aduk` DNA itu atau istilahnya 
DNA rekombinan, hampir sepenuhnya dilakukan oleh komputer. 

Publik masih belum melupakan ketika superkomputer Deep Blue keluaran IBM berhasil 
mengalahkan
kampium catur Garry Kasparov tahun 1998. Generasi terbarunya, Blue Gene, berkekuatan 
1.000 kali
Deep Blue sedang disempurnakan untuk keperluan rekayasa genetika. 

Kembali ke soal rekayasa genetika pangan. Dengan sistem potong dan tempel pita, tidak 
mengherankan bila pada tanaman padi dimasukkan gen unggul tahan hama yang diperoleh 
dari bakteri. Untuk menambah keempukan kedelai, bukan perkara sulit `menyuntikkan` gen 
dari lemak babi. 

Persoalannya kemudian berkembang, dan ini yang menjadi senjata aktivis konsumen adalah 
efek
samping dari tambal sulam itu. Nyatanya, si padi memang tahan hama, tetapi gen bakteri 
dalam tanaman itu juga mematikan mikroorganisme lain, yang justru bermanfaat. Bakteri 
penyubur tanah, salah satunya. 

Risiko lain, konsumsi pangan GM membuat rentan pertahanan tubuh (lihat tabel), 
dituding menjadi
penyebab timbulnya beberapa penyakit. 

Aktivis Hong Kong, Debbie Hung mengemukakan hal itu di AsiaWeek. ``Saat ini mungkin 
aman bagi
orang dewasa karena diperkirakan risiko kanker akan muncul 30 tahun kemudian. Lantas 
bagaimana
dengan anak-anak,`` katanya. 

Monsanto (produsen pangan GM terbesar di Amerika Serikat) menjawab pertanyaan itu. 
Pihaknya, kata seorang juru bicaranya, telah melakukan penelitian senilai 12 ribu USD 
terhadap binatang percobaan. Hasilnya, tidak ada perubahan pada sel sperma, berat, dan 
metabolisme tikus percobaan. 

Bahkan menurutnya, 60% makanan olahan yang beredar di Amerika adalah pangan GM. Setelah
memasuki tahun ke-8 belum terbukti ada efek negatif. ``Bila menemukan hal buruk, 
publik Amerika bukan jenis masyarakat yang segan untuk mempublikasikannya,`` katanya. 

Selesai...? Belum. Sederet persoalan masih menunggu. Persoalan etika, salah satunya. 
Untuk yang satu ini, jelas-jelas Menteri Lingkungan Hidup, Sonny Keraf, yang mantan 
dosen filsafat etika itu menyatakan ketidaksetujuannya dengan pangan GM. 

``Persoalannya bukan hanya dari etika penggabungan antarmakhluk hidup semata,`` kata 
Sonny beberapa waktu lalu. Namun lebih ke moral untuk melindungi petani di negara 
berkembang dan miskin. Dengan rekayasa genetika, petani dan konsumen akan tergantung 
ke hanya segelintir perusahaan global. Sebab hasil panennya tidak dapat ditanam 
kembali, dan bibit hanya dapat dibeli dari perusahaan tersebut. 

Menneg LH pun tidak setuju bahwa pangan GM merupakan jalan keluar untuk mengatasi 
krisis
kelangkaan pangan. Mengapa tidak mengembangkan tanaman alternatif, sumber daya pangan 
yang lain, lanjutnya. 

``Persoalannya, mau tidak kita mengembangkan potensi itu, dan sulitnya, kita semua 
terjebak dengan keharusan makan nasi,`` kata Sonny, sengit. (Entin Suprihati/V-2) 
 
---------------------------------------------------------
Arsip lengkap Berita-berita Lingkungan Hidup di Indonesia, silahkan klik:
        http://www.egroups.com/group/berita-lingkungan/

--
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/





Kirim email ke