SURAT PROTES WARGA BOGOR
Kepada :
1.. Bapak Walikota Bogor,
2.. Kepala BAPEDALDA Bogor,
3.. Kepala SBKSDA Bogor,
4.. Kantor Dirjen PKA di Bogor, dan
5.. Panitia Festival Kota Bogor
Di tempat
--------- via Redaksi RADAR BOGOR di Bogor -----------------
Saya terkejut sekali setelah mendengar berita dan melihat iklan Festival Kota Bogor
dalam RADAR BOGOR. Pasalnya, salah satu acara yang diselenggarakan adalah "LOMBA
BURUNG BERKICAU". Lomba burung berkicau ini diselengarakan pada Hari Minggu, 4 Juni
2000 di Tugu Kujang. Dalam berita di Radar Bogor (1 Juni 2000) disebutkan telah ada
2000 orang peserta yang akan mengikuti lomba tersebut. Lomba ini dilakukan melalui
kerjasama panitia dengan PBI Pusat di Jakarta, Kebun Raya Birds Club, dan pihak Kampus
IPB. Bahkan, pihak Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) juga menyediakan
diskon untuk menginap di hampir seluruh hotel di Bogor bagi peserta lomba.
Sebagai warga Bogor dan orang yang peduli terhadap kelestarian hidupan liar, saya
merasa sangat prihatin terhadap pihak penyelenggara dan pihak Pemerintah Kotamadya
Bogor. Betapa tidak, ternyata dalam rangka menyambut HUT-nya yang legendaris Kota
Bogor justru mengadakan sebuah kegiatan yang bersifat eksploitatif terhadap sumberdaya
alam hayati. Mungkin saja burung yang dilombakan adalah burung yang merupakan hasil
penangkaran, namun bila hal ini dilakukan apakah panitia tidak mempertimbangkan
DAMPAKnya bagi orang yang melihat.
Lomba ini (apalagi dengan jumlah peserta yang 2000 orang) tentu saja dapat menyebabkan
publik menjadi terpacu untuk memelihara burung dalam sangkar. Padahal Indonesia
sampai detik ini belum cukup berhasil dalam penangkaran burung, yang banyak dijual di
Pasar Ramayana, Pasar Bogor, samping Kebun Raya, serta kios-kios burung di jalan-jalan
kota Bogor adalah burung tangkapan dari alam. Lebih jauh, populasi burung yang ada
menjadi berkurang dengan cepat. Apalagi dengan iming-iming dan contoh bahwa burung
berkicau yang baik dapat berharga jutaan rupiah. Bahkan salah satu burung yang
dilombakan kali ini ada yang sampai berharga 300 juta rupiah (dari Semarang).
Perlu diketahui, kota Bogor saat ini telah dikenal baik di kalangan aktivis
lingkungan, peneliti, akademisi, dan pemerhati lingkungan sebagai kota yang lekat
dengan KONSERVASI. Namun, yang terjadi sekarang justru sebuah kegiatan yang MENCORENG
NAMA BAIK Bogor sendiri. Padahal sehari setelah lomba diadakan atau tanggal 5 Juni
2000 adalah "Hari Lingkungan Hidup Sedunia". Lalu dimana tanggung jawab dan kesadaran
akan lingkungan dari pihak Pemerintah dan panitia Festival Bogor????
Dengan uraian di atas ini, saya menyatakan PROTES KERAS atas penyelenggaraan Lomba
Burung yang eksploitatif dampaknya ini. Bila ingin berbuat sesuatu dalam peringatan
HUT Kota Bogor dan menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia saya usul lebih baik
melakukan razia besar-besaran di Bogor untuk penjualan jenis-jenis satwa dilindungi
(misalnya di samping Kebun Raya Bogor, di perempatan Ciawi, di Pasar Bogor, di Pasar
Ramayana, dsb.).
Salam,
Hapsoro