Kami yang di Medan ikut bersedih mendengar berita ini, dan juga
berita-berita yang mirip dengan berita ini.
Rasanya pemerhati lingkungan masih harus lebih banyak berupaya agar suara
ramah lingkungan tidak hanya menjadi suara musafir di Padang pasir nan
Tandus.

Salam prihatin.

Eko SHP

----- Original Message -----
From: "telapak mobile" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: "Siti Nuramaliati Prijono" <[EMAIL PROTECTED]>; "BirdLife International
IP" <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>; "InWildNet"
<[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, June 03, 2000 12:36 PM
Subject: [lingkungan] Lomba Burung Berkicau dalam HUT BOGOR


SURAT PROTES WARGA BOGOR

Kepada :
    1.. Bapak Walikota Bogor,
    2.. Kepala BAPEDALDA Bogor,
    3.. Kepala SBKSDA Bogor,
    4.. Kantor Dirjen PKA di Bogor, dan
    5.. Panitia Festival Kota Bogor
    Di tempat
 --------- via Redaksi RADAR BOGOR di Bogor -----------------


Saya terkejut sekali setelah mendengar berita dan melihat iklan Festival
Kota Bogor dalam RADAR BOGOR.  Pasalnya, salah satu acara yang
diselenggarakan adalah "LOMBA BURUNG BERKICAU".  Lomba burung berkicau ini
diselengarakan pada Hari Minggu, 4 Juni 2000 di Tugu Kujang.  Dalam berita
di Radar Bogor (1 Juni 2000) disebutkan telah ada 2000 orang peserta yang
akan mengikuti lomba tersebut.  Lomba ini dilakukan melalui kerjasama
panitia dengan PBI Pusat di Jakarta, Kebun Raya Birds Club, dan pihak Kampus
IPB.  Bahkan, pihak Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) juga
menyediakan diskon untuk menginap di hampir seluruh hotel di Bogor bagi
peserta lomba.

Sebagai warga Bogor dan orang yang peduli terhadap kelestarian hidupan liar,
saya merasa sangat prihatin terhadap pihak penyelenggara dan pihak
Pemerintah Kotamadya Bogor.  Betapa tidak, ternyata dalam rangka menyambut
HUT-nya yang legendaris Kota Bogor justru mengadakan sebuah kegiatan yang
bersifat eksploitatif terhadap sumberdaya alam hayati.  Mungkin saja burung
yang dilombakan adalah burung yang merupakan hasil penangkaran, namun bila
hal ini dilakukan apakah panitia tidak mempertimbangkan DAMPAKnya bagi orang
yang melihat.

Lomba ini (apalagi dengan jumlah peserta yang 2000 orang) tentu saja dapat
menyebabkan publik menjadi terpacu untuk memelihara burung dalam sangkar.
Padahal Indonesia sampai detik ini belum cukup berhasil dalam penangkaran
burung, yang banyak dijual di Pasar Ramayana, Pasar Bogor, samping Kebun
Raya, serta kios-kios burung di jalan-jalan kota Bogor adalah burung
tangkapan dari alam.  Lebih jauh, populasi burung yang ada menjadi berkurang
dengan cepat.  Apalagi dengan iming-iming dan contoh bahwa burung berkicau
yang baik dapat berharga jutaan rupiah.  Bahkan salah satu burung yang
dilombakan kali ini ada yang sampai berharga 300 juta rupiah (dari
Semarang).

Perlu diketahui, kota Bogor saat ini telah dikenal baik di kalangan aktivis
lingkungan, peneliti, akademisi, dan pemerhati lingkungan sebagai kota yang
lekat dengan KONSERVASI.  Namun, yang terjadi sekarang justru sebuah
kegiatan yang MENCORENG NAMA BAIK Bogor sendiri.  Padahal sehari setelah
lomba diadakan atau tanggal 5 Juni 2000 adalah "Hari Lingkungan Hidup
Sedunia".  Lalu dimana tanggung jawab dan kesadaran akan lingkungan dari
pihak Pemerintah dan panitia Festival Bogor????

Dengan uraian di atas ini, saya menyatakan PROTES KERAS atas penyelenggaraan
Lomba Burung yang eksploitatif dampaknya ini.  Bila ingin berbuat sesuatu
dalam peringatan HUT Kota Bogor dan menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia
saya usul lebih baik melakukan razia besar-besaran di Bogor untuk penjualan
jenis-jenis satwa dilindungi (misalnya di samping Kebun Raya Bogor, di
perempatan Ciawi, di Pasar Bogor, di Pasar Ramayana, dsb.).

Salam,
Hapsoro



--
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/





Kirim email ke