Teman-teman,

Soal biopiracy ini memang negara kita sangat rentan terhadap hal tersebut. Selain
lemahnya pengawasan juga kekurang pedulian masyarakat terhadap hal tersebut (
tidak tahu kalau biopiracy sudah terjadi di Indonesia). Dan ironisnya, kalau gen
atau plasma nutfah itu di buat patennya oleh negara maju dan dikomersialkan, dan
kita nggak dapat apa-apa. Hal ini bisa terjadi karena kita belum punya aturan
yang mengatur hal tersebut. beberapa waktu yang lalu saya baca di koran, suatu
tim ekspedisi (oleh peneliti asing) di hutan Malaysia ketahuan membawa spesimen
serangga yang langka. Oleh petugas Malaysia spesimen tersebut disita, nah misal
kalau itu terjadi di Indonesia apakah akan terjadi hal serupa? seringnya "money
talk" yang menang.

Pernah juga saya ngobrol dengan  petani apel Malang di Batu.  Dia cerita, waktu
dia berkunjung ke Australia ke lokasi agrowisata di sana, dia secara diam-diam
memotes sebilah ranting pohon plum dan dia simpan disakunya dan dibawa pulang ke
Indonesia. Sampai di Malang, dia berhasil menanam plum tersebut di kebunnya dan
ditunjukkan kepada saya.  Nah petani yang cara bertanamnya masih konvensional
saja berhasil melakukan hal tersebut, apalagi petani atau peneliti sekarang yang
sudah paham bahwa dengan sekelumit kecil kulit atau DNA suatu organisme  hidup
bisa di peroleh organisme yang sama. Berarti ini merupakan suatu pekerjaan rumah
yang besar dan tantangan bagi Indonesia yang memiliki KAR yang luar biasa.
Contoh-contoh yang diberikan Hira sangat baik dan mungkin listnya akan bertambah,
kalau saja pihak-pihak yang terkait dalam melakukan penelitian mau berbagi cerita
dan nantinya bisa dijadikan bahan pemikiran untuk membuat peraturan untuk
melindungi biopiracy.

Di LH sekarang ini juga sedang dibahas secara intensif tentang RUU hak paten dan
info-info seperti ini juga sudah dan sedang kita sampaikan kepada Dirjen HAKI.
anggota DPR, para pakar, LSM, dll.

Tuti


"Hira D.G." wrote:

> Teman-teman,
>
> Berikut informasi tentang beberapa kegiatan yang berpotensi mengarah pada
> paten atas bahan hayati dan perambahan pengetahuan serta bahan hayati.
>
> 1.       Skrining Convolulaceae untuk mencegah HIV
>
>         Tonen Corp. (perusahaan penyuling minyak Jepang) dan Eisai
> (perusahaan obat Jepang) sedang meneliti senyawa yang diambil dari pohon
> penghasil obat tradisional dari familia Convolulaceae. Ada kemungkinan
> senyawa ini dapat menghentikan proliferasi HIV pada tikus. Pohon ini
> digunakan sebagai sumber obat untuk berbagai penyakit di
> Indonesia.(informasi didapatkan tahun 1994 dan belum diketahui
> kelanjutannya)
>
> 2.      Program Koleksi Tanaman oleh NCI
>
>            The National Cancer Institute (NCI) AS mengadakan kerjasama
> dengan LIPI untuk mengkoleksi tanaman yang akan diperiksa khasiat obatnya.
> Sub-kontraktor program ini adalah Arnold Arboretum dari Universitas
> Harvard. Proyek pilot pengumpulan sampel diadakan di Kalimantan Barat.
> Semua spesimen bermutu diberikan kepada Herbarium Bogoriensis, sementara
> duplikatnya dikirimkan ke para ahli untuk diidentifikasi. Walaupun program
> ini dikatakan membawa banyak manfaat bagi pengembangan kemampuan ilmuwan
> Indonesia, Lagos-Witte menganalisis beberapa kerugian yang timbul. Kerugian
> tersebut adalah insentif dalam negeri untuk mengembangkan industri penemuan
> obat sendiri menjadi berkurang; penemuan obat tidak terjadi di Indonesia;
> paten obat dan prospek keuntungan langsung tidak berada di Indonesia;
> butir-butir kesepakatan untuk mengkompensasikan kerugian di atas bisa
> dirundingkan, namun tampaknya belum dilakukan. Yang jelas, NCI dapat
> mempatenkan komponen yang diisolasi dari koleksi tanaman pada tahap
> manapun, sehingga dapat mengendalikan pengembangan obat secara komersial.
> ((informasi didapatkan tahun 1994 dan belum diketahui kelanjutannya).
>
> 3. Gen masyarakat Nias dan Badui?
>
> Lembaga Eijkman dilaporkan adalah institusi yang terlibat dalam Human Genom
> Project untuk pemetaan gen manusia. Ada laporan bahwa salah satu masyarakat
> sasaran pengumpulan sampel adalah suku asli di Nias yang diduga mempunyai
> ketahanan terhadap serangan malaria. Ada pula informasi tidak resmi bahwa
> pengumpulan sampel juga dilakukan di masyarakat Badui, dengan menggunakan
> kegiatan pelayanan kesehatan sebagai 'kedok'.  Seperti diketahui pemetaan
> gen manusia sudah 97% rampung dan beberapa perusahaan bioteknologi seperti
> Celera Genomics sedang mengincar pematenan gen atau DNA manusia.
>
> 4. Biodiversity Inventory project.
>
>         Proyek ini berada di bawah LIPI dengan tujuan melakukan inventarisasi
> potensi keragaman hayati serta skrining manfaatnya. SEyogianya informasinya
> sudah rampung, tetapi masyarakat sulit mengakses informasinya. Tidak jelas
> apakah informasi yang ada akan diberikan kepada siapa (perusahaan mungkin)
> dan belum diletakkan di publik domain. Proyek ini didanai oleh Global
> Environmental Facility.
>
> --
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/


--
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/





Kirim email ke