Rekan Sepz menambah daftar kegiatan penelitian yang menyangkut bahan hayati
ini.
Rupanya daftar seperti ini cukup banyak hanya saja kita perlu pembuktian
dan informasi mengenai perjanjian yang jelas. Berdasarkan hal tersebutlah
kita bisa memantau mana yang penelitian beneran dan mana yang dapat
berpotensi menjadi perambahan bahan hayati. Gagasan jaringan pemantau
bioprospeksi sangat baik, dan saya pikir mungkin menjadi hasil konkrit dari
diskusi dalam milis ini (terima kasih mas Harry Suryadi yagn menyediakan
sarana ini). 

Langkah pertama mungkin kita perlu mengadakan perundingan meja bundar dari
empat unsur: LIPI, LSM, Perguruan Tinggi dan PKA. Bisa juga ditambah Meneg
LH. Perundingan ini membahas bagaimana informasi kerjasama penelitian dapat
dibuat terbuka bagi masyarakat. Berdasarkan informasi tersebut, kita pantau
apa yang terjadi di lapangan, tetapi juga isi perjanjian ditelaah karena
bila ada pihak luar negeri terlibat, pengacara mereka canggih sekali. Bisa
jadi isi perjanjian terlihat 'innocent' tetapi isinya merugikan kita. Yang
tidak kalah penting adalah teman-teman LSM memberikan informasi tentang
perkembangan global di bidang keragaman hayati kepada masyarakat akar
rumput agar mereka dapat mengambil langkah untuk penyelematan. 

Pekerjaan rumah kita banyak, tetapi kita perlu mulai pada satu titik
apabila ingin menyelematkan bahan hayati kita untuk kesejahteraan rakyat.
Sekali lagi saya usul (mudah-mudahan tidak bosan), kita gunakan kasus
informasi DNA penyu sebagai titik tolak untuk mengadakan pemantauan,
kampanye dan penyadaran mengenai biopiracy. 

Mas Harry sudah mengirimkan surat ke dua orang di IPB dan kita masih
menunggu kabar dari LIPI serta WWF. 

Salam
Hira 

----------
From: castari <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [lingkungan] Abis DNA Penyu . . . ke DNA Orangutan
Date: Tuesday, July 18, 2000 3:23 PM

Hira . . .

Mungkin sedikit informasi, setelah penyu yang di blow up oleh anda, di TN
gunung Palung, Ketapang . . . Kalimantan Barat. Harvard University mungkin
dengan seijin LIPI juga meneliti DNA Orangutan. . . . sampel bulu, kotoran
(tinja+air seni) pernah di bawa ke sono (Amrik), tidak tahu apa lewat
gerbang LIPI dan PKA atau tidak.
Teman-teman di Yayasan Cassia Lestari mengetahui hal itu dengan pasti, dan
lagi dimana masalahnya counterpart yang atas nama "Universitas Tanjungpura
Pontianak" hanya terlibat paro waktu (part timer). Mohon kembali jika ada
teman-teman di LIPI dan PKA yang bermain di milis ini dapat memberikan
keterangan dan informasi. Karena terus terang saja pemahaman masalah
biopirasi dan bioprospeksi untuk teman-teman (LSM, Birokrat, masyarakat) di
Kalimantan Barat masih lemah . . . makanya kami coba untuk bangun jaringan
pemantau Bioprospeksi dan biopirasi di Kalimantan Barat.
jadi mohon juga untuk teman-teman dapat memberi bantuan dan ide untuk yang
satu ini . . . 

 Sep'z, Cassia Lestari 
 


----------


--
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/





Kirim email ke