kayaknya mesti diseriusin nih masalah bagaimana dengan rekan pers yah ari At 12:57 PM 8/18/00 +0700, you wrote: >Harry,... topik ini sangat menarik. Kecuali untuk menjernihkan status >manfaat dan kerugian perdagangan satwa yang selama ini sudah berjalan baik >legal maupun semi iligal, juga sangat penting untuk melihat perspektif >publik terhadap perdagangan satwa itu sendiri. Kalau tidak berkeberatan, >boleh subjectnya dibuat baru misalnya: perdagangan satwa. > >Melihat hitungannya perdangan satwa memang sangat menggiurkan. Dephutbun >beberapa tahun yang lalu (1997/1998??) pernah melaporkan nilainya sekitar 1 >juta us$. Setelah India beberapa tahun yang lalu melarang eksport monyet >untuk keperluan ilmiah, Indonesia kelihatannya kebanjiran permintaan. >Indonesia berusaha memenuhi aturan-aturan CITES, antara lain menjual monyet >ekor panjang (Macacca fascicularis) dan beruk (Macacca nemestrina) karena >tidak termasuk dalam daftar yang dilindungi dan menerapkan aturan hanya >monyet hasil penangkaran yang diperbolehkan dijual. Hanya saja soal kontrol >dan aturan-aturannya yang kelihatannya lemah. Selain itu ada logika >sederhana yang dipertanyakan, orang belum mampu melakukan konservasi yang >baik, kok sudah jualan? pasti bocornya akan lebih banyak. Nilai wildlife >Indonesia boleh dikatakan murah tetapi bagi pedagang boleh dikatakan >lumayan... Komodo atau orangutan misalkan, katakan di pasar gelap bisa laku >5 ribu sampai 10 ribu dolar di pasar gelap, kan lumayan bagi pedagang. >Mungkin gajah bisa sampai lebih mahal dan pakai aturan resmi tapi gelap. >Belum lagi yang kecil-kecil seperti kura-kura, kodok, atau serangga "aneh" >yang hanya 1 dolar tapi kuantitas jualannya bisa tinggi. >Nilai wildlife Indonesia bisa jauh lebih tinggi misalnya seperti Cina yang >mampu membuka pasar Amerika dengan Pandanya. Komodo pernah dipakai Tutut >untuk diplomasi dengan Portugal. Kita bisa berpikir kenapa komodo atau >wildlife Indonesia lainnya untuk membuka hambatan-hambatan perdagangan di >pasar international. >Seandainya kita mampu mengelola wildlife secara baik mungkin sekalian saja >sistem panen bisa diterapkan dan hasilnya menjadi komoditi yang eksklusif >dan menguntungkan. Surat yang dilayangkan oleh mantan karyawan CV Labsindo >di satu pihak akan mengundang simpati bahwa nasib wildlife kita sedemikian >jeleknya, tetapi di satu pihak membuka mata para pedagang ternyata sangat >menguntungkan dan mumpung aturannya masih banyak kelemahan maka >ramai-ramailah perdagangan. >Kalau waktu itu dari kawan-kawan PANTAU terusik karena pameran Gajah di >Senayan, sebetulnya saya belum melihat kalau di Indonesia ada kelompok >penyayang binatang yang sangat kuat mempertahankan animal right atau >setidaknya mempunyai konsep-konsep yang komprehesif tentang wildlife di >Indonesia. Kampanye pelestarian wildlife misalnya yang ada di TV dan >poster-poster malah mempergiat publik untuk ikut melestarikan dengan caranya >sendiri, seperti artis yang memelihara orangutan di rumah karena merasa ikut >menyayangi. Dengan rusaknya habitat satwa-satwa seperti itu akan dengan >mudah dijumpai di pasar. > >Salam, >Bambang Ryadi Soetrisno > > >.......dihapus..... ------------------------------------- Sekretariat Koalisi ORNOP dan AMAN untuk Amandemen UUD 1945 CETRO E-mail: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] Mailing list : [EMAIL PROTECTED] Kontak Person : Ari (sek. PSDA), Lia (CETRO) -- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
Re: [lingkungan] perdagangan satwa
Sekretariat Koalisi ORNOP dan AMAN untuk Amandemen UUD 45 Thu, 17 Aug 2000 23:42:45 -0700
- [lingkungan] per... Bambang Ryadi Soetrisno
- Sekretariat Koalisi ORNOP dan AMAN untuk Amandemen UUD 45
